21 May 2015

Pergelaran Beksan Bedhaya Amurwabumi

Bedhaya Amurwabumi | Bangsal Pagelaran Kraton Yogyakarta, 19 Mei 2015 | Photo by: Franseska Dian Ratri

Hari Selasa lalu, saya, keluarga, dan pacar mendapat kesempatan untuk menonton Pergelaran Beksan Bedhaya Amurwabumi. Kebetulan salah satu penari beksan pada malam itu adalah kenalan ibu saya dan beliau memberi kami akses gratis untuk menonton pergelaran itu secara langsung. Kesempatan ini terlalu sayang untuk dilewatkan dong yaa. Kami excited banget buat datang ke acara itu. 

Tari bedhaya bukan hal yang asing bagi saya. Eyang kakung saya semasa muda dulu sering menari di Kraton Yogyakarta. Setelah menikah pun eyang masih sering ditimbali untuk menari. Melalui cerita-cerita eyang, saya sedikit banyak tahu soal tari ini. Meskipun sebenernya udah lupa-lupa inget, karena waktu itu saya masih kecil dan masih nggak begitu paham soal beginian. Nggak puas dengan ingatan kecil saya akan cerita eyang, akhirnya saya bela-belain riset kecil di perpus biar bisa bikin tulisan yang sumbernya jelas. Sayangnya nggak banyak informasi yang bisa saya dapatkan. Nggak ada buku yang secara khusus mengulas tentang tari bedhaya. Mungkin saya yang nggak nemuin bukunya kali ya. Atau mungkin saya nyari di perpus yang salah. Ya maklum, udah bukan mahasiswa jadi nggak bisa masuk perpus kampus. Hiks, sedih :( 

Bedhaya Amurwabumi | Bangsal Pagelaran Kraton Yogyakarta, 19 Mei 2015 | Photo by: Franseska Dian Ratri

Tari Bedhaya bukanlah sebuah tarian biasa. Tari Bedhaya di Surakarta dan Yogyakarta merupakan sebuah bentuk tarian klasik yang dianggap mempunyai kekuatan religius-magis sekaligus juga diyakini sebagai salah satu bentuk pusaka kraton. Pada awal keberadaannya tarian ini digunakan sebagai tari persembahan pada upacara-upacara di kraton, yaitu persembahan kepada Sang Pencipta (penguasa jagad raya). Oleh karena itu, tari bedhaya hanya boleh dipentaskan di tempat terbatas dan disaat tertentu, seperti pada ulang tahun raja, memperingati berdirinya kraton, atau untuk memperingati hari penobatan raja, walaupun dalam proses berikutnya tari bedhaya akhirnya berubah dari fungsi ritual ke fungsi hiburan. (Maharsiwara, 2007:95). 

Pentas tari bedhaya di Kraton Yogyakarta semula diadakan di Bangsal Kencana dekat dengan tempat duduk Sultan. Itu menunjukkan bahwa sesungguhnya tari bedhaya adalah sebuah tarian sakral yang sangat tinggi kedudukannya. Oleh karena itu, pada masa lalu raja dianggap sebagai wakil Tuhan di dunia, maka bedhaya juga menjadi simbol hubungan antara manusia dengan Tuhannya, sebagaimana tujuan hidup manusia Jawa dalam mewujudkan cita-cita menunggaling kawula-Gusti (Soedarsono, 1997:143-149). Cita-cita mengenai kesatuan antara ke-aku-an (manusia) dengan Yang Ilahi, dimana ”aku” (batin) telah berhasil melepas belenggu lahir yang berupa nafsu-nafsu hingga yang tinggal hanya sifat-sifat Ilahi. Melalui kesatuan itu, maka manusia (Jawa) dapat mencapai kawruh “sangkan paraning dumadi” yaitu kawruh (pengetahuan) tentang asal (sangkan) dan tujuan (paran) dari segala yang diciptakan (dumadi) (Suseno, 2001:117-120). Cita-cita tersebut bisa dicapai dengan membangun “keselarasan” hidup, keselarasan antara perkataan, pendengaran, penglihatan, dengan pikiran dan perasaan untuk menuju kebahagiaan dunia dan akherat. 

Menurut K.P.H. Brongtodiningrat, seorang Empu Tari Kraton Yogyakarta sejak masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwana VII (tahun 1877 - 1921), Hamengku Buwana VIII (tahun 1921 - 1939) sampai pertengahan pemerintahan Sultan Hamengku Buwana IX (tahun 1939 - 1988), menafsirkan bahwa formasi bedhaya menggambarkan proses perjalanan spiritual anak manusia dari purwa (awal), madya (yang dijalani di dunia nyata), wasana (sebagai insan kamil atau manusia sempurna), yang kadang harus dihadapkan pada dilema antara menuruti keinginan logika atau kebutuhan batin. 

Bedhaya yang ditarikan oleh sembilan penari putri itu menjadi simbol sembilan lubang yang terdapat pada badan wadhag (jasmani) manusia, sebagai simbol mikrokosmos dari jagading manungsa yang terdiri dari dua mata, dua lubang hidung, dua lubang telinga, mulut, dhubur (anus), dan alat kelamin. Di dunia pedalangan organ tubuh manusia itu sering disebut dengan babahan hawa sanga. Ketika seseorang berkeinginan meraih sesuatu dengan cara bersemedi, bermeditasi, mesubudi mendekatkan diri kepada Tuhan, maka dia harus mampu pati rasa (memusatkan pikiran kepada Yang Tunggal), dan pati raga menutup sembilan lubang yang menjadi sumber segala nafsu (amarah, lauamah, dan supiah). Artinya dia harus dapat mengatasi godaan yang berasal dari penglihatan, pendengaran, penciuman, mulut/ perasa, serta nafsu seks. 

Filosofi tari bedhaya terangkum dalam ajaran ngelmu sangkan paran yang meliputi tiga hal, pertama berkenaan dengan kesadaran bahwa manusia berasal dari Tuhan (urip iki saka sapa); kedua, berkaitan dengan tugas dan kewajiban manusia di dunia (urip iki arep apa); dan ketiga, berhubungan dengan kepulangan manusia kembali kepada Tuhannya (urip iki pungkasane piye). 

Bedhaya Amurwabumi | Bangsal Pagelaran Kraton Yogyakarta, 19 Mei 2015 | Photo by: Franseska Dian Ratri

Tari Bedhaya yang saya lihat kemarin adalah Tari Bedhaya Sang Amurwabhumi. Bedhaya ini diciptakan oleh Sultan Hamengku Bawana X. Karya tari ini mempunyai konsep filosofis setia kepada janji, berwatak tabah, kokoh, toleran, selalu berbuat baik dan sosial. Dasar cerita tari bedhaya ini diambil dari Serat Pararaton dan Kitab Para Ratu Tumapel dan Majapahit. Bedhaya Sang Amurwabhumi mengambil cerita sang Amurwabhumi (ken Arok) dengan Pradjnaparamita (Ken Dedes). 

Tari Bedhaya Sang Amurwabhumi merupakan ide dasar dari Sri Sultan Hamengku Bawana X dan dibuat oleh koreografer K.R.T Sasmintadipura. Bedhaya yang merupakan legitimasi Sri Sultan Hamengku Bawana X kepada swargi Sri Sultan Hamengku Buwana IX ini dipentaskan pertama kali di Bangsal Kencono pada saat pengangkatan dan penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Sri Sultan Hamengku Buwono IX pada tahun 1990. 

Tari Bedhaya Sang Amurwabhumi ditarikan oleh sembilan penari putri dan berlangsung selama 2,5 jam. Cukup lama ya. Meskipun kemarin saya sedikit bosan tapi tarian ini selalu menarik untuk ditonton. Jaman sekarang tidak perlu ada acara khusus untuk bisa menonton pergelaran tari bedhaya. Tari-tari ini bisa disaksikan di Kraton Yogyakarta atau di Pura Pakualaman. Kalau mau belajar menari ala Kraton Yogyakarta juga bisa. Cukup datang ke Bangsal Pagelaran Kraton Yogyakarta setiap Hari Minggu pagi. Saya juga pengen belajar sebenernya. Tapi sayangnya keinginan itu selalu kalah oleh rasa malas. Kalau ada yang pengen belajar juga, hubungi saya ya, biar kita belajar nari bareng-bareng. 

Cheers :) 


 
Sumber bacaan: 
- Maharsiwara, Sunaryadi. 2007. Dwi Naga Rasa Tunggal: dari Sengkalan Memet ke Seni Pertunjukan . Pondok Edukasi. Yogjakarta 
- Suseno, Frans-Magnis. 2001. Etika Jawa: Sebuah Analisa Falsafi tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa. Gramedia. Jakarta. 
- Soedarsono, RM. 1997. Wayang Wong Drama Tari Ritual Kenegaraan di KratonYogyakarta. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.