09 September 2011

Sosiologi dan Mengapa Saya Berada di Dalamnya

Sejujurnya saya tidak bisa menulis apa-apa karena saya tidak tahu apapun yang berkaitan dengan sosiologi, specifically. Sosiologi selalu jadi pelajaran paling membosankan selama saya bersekolah. Entah karena gurunya yang tidak kreatif (Peace Bu :P) ataukah memang subjek pembelajarannya yang itu-itu saja sehingga saya tidak memiliki interest untuk ikut ambil bagian di dalamnya. Orang selalu berkata “Ngapain kamu masuk sosiologi? Mau jadi guru ya?” atau “Apa sih yang menarik dari sosiologi, sampe kamu bela-belain masuk sana?” atau “Kamu masuk sosiologi gara-gara nggak diterima di jurusan lain atau emang pengen disitu?” Parahnya, tetangga saya bilang, “Kata guruku, kalo di sosiologi itu ntar susah nyari kerja lho. Paling gampang ya cuma jadi guru.” Honestly, it makes me scared. Bener nggak ya yang dibilang orang-orang? Jangan-jangan sosiologi cuma buangan orang-orang yang nggak lolos jurusan Hubungan Internasional (HI) atau Ilmu Pemerintahan (IP). Jangan-jangan sosiologi memang khusus untuk mereka yang mau jadi guru. Waaa :((

Hal itu menjadi masalah ketika saya diterima di jurusan sosiologi. Blank pada awalnya. Dan sebenarnya saya masih dibayangi rasa was-was akan persepsi orang-orang pada jurusan ini. Jujur saja, sampai sekarang pun saya masih merasa demikian. Apalagi melihat jurusan lain yang begitu meyakinkan. Saya minder dan merasa tidak pede dengan jurusan yang saya masuki. Rasanya tidak sebangga itu ketika orang bertanya “Jurusan mana?” dan saya harus menjawab “Sosiologi.” Saya lebih memilih menjawab “Fisipol” ketimbang “Sosiologi”. Orang tidak akan bertanya kenapa. Yeah, it’s so silly but it’s true.

Sayangnya orangtua saya justru bangga melihat saya masuk jurusan sosiologi. Entah apa yang ada di pikiran mereka. Yang jelas saya tidak bisa berpikir seperti itu. Bapak saya mulai membelikan buku-buku yang sekiranya dapat saya gunakan nanti. Setiap ke toko buku, yang dicarinya selalu buku-buku sosiologi. Ibu saya juga tak kalah heboh. Setiap hari beliau menyediakan waktu minimal setengah jam hanya untuk berdiskusi masalah-masalah aktual ditinjau dari aspek sosiologis. Seakan-akan semua informasi itu penting dan akan keluar di soal ujian. Hash, sedikit hiperbol sepertinya.

Surprisingly, apa yang mereka lakukan membuat saya sedikit “melek” akan sosiologi dan apa saja yang ada di dalamnya. Ternyata sosiologi bukanlah ilmu yang kaku dan membosankan (seperti ketika saya berada di SMA, dengan guru yang sangat ehm, tidak kreatif). Bukan pula ilmu kemasyarakatan yang teoritis. Sosiologi justru ilmu yang paling ‘sosial’ karena memandang segala aspek dari segi manusia, bukan dari segi disiplin ilmunya. Dan ternyata, di luar negri, sosiologi justru jurusan yang dianggap paling bergengsi (wow). And the most important thing is lulusan sosiologi tidak hanya menjadi guru. Masih banyak yang bisa kita lakukan untuk menjadi bagian dari masyarakat. Sociology’s not that bad dan saya merasa beruntung bisa masuk ke jurusan ini, finally. Viva la sosiologi!