Showing posts with label daily life. Show all posts
Showing posts with label daily life. Show all posts

22 August 2015

The Tree Philosophy

Pelajaran kehidupan itu selalu ada yang gratis! Se-gratis hamparan sawah dan juga pepohonan di jalan yang masih dibiarkan tumbuh. Andai saja kita mau berhenti sejenak dan memahami makna keberadaannya - melebihi kodratnya sebagai (hanya) sebuah tanaman.
(Angelica Pramesthi)

23 July 2014

Rerasan Tetangga

Bonjour! Selamat ya Indonesia punya presiden dan wakil presiden baru. Saya senang karena capres dan cawapres jagoan saya menang, dan senang juga karena bisa menjadi bagian dari pesta demokrasi tahun ini. Rupanya sudah lama saya nggak nulis, sampe blog ini rasanya banyak dihuni laba-laba liar. Sambil berbenah, saya mau cerita sedikit ya sambil latihan nulis. Jari-jari dan otak ini sudah kaku karena sudah lama nggak dilumasi. Kebetulan pas banget sama hari anak nasional, saya mau cerita sedikit soal anak.

Sudah beberapa hari ini saya tidur di rumah eyang. Ngga ada apa-apa sih, pengen aja. Kebetulan banget rumah eyang ada di tengah kota, jadi akses buat ngapa-ngapain dan kemana-mana lebih gampang. Ya maklum lah, rumah saya memang ada di pedalaman Sleman. Sinyal internet aja kadang ada kadang ilang. Sedih banget ya.

Di depan rumah eyang ini tinggal sebuah keluarga kecil yang punya dua orang anak. Mereka tinggal bersama nenek mereka. Sang Ayah bekerja sebagai seorang karyawan di sebuah hotel di Jogja. Sedangkan sang ibu membuka sebuah warung makan ramesan di samping rumah. Anak yang pertama baru saja masuk SMP, barengan sama adik saya yang paling kecil. Dan adiknya baru berumur sekitar 3 atau 4 tahun. Adiknya yang satu lagi masih di dalam perut, karena ibunya memang sedang hamil tua. Dengan adanya anak kecil kaya gitu, suara tangisan dan rengekan lama-lama menjadi hal yang biasa bagi saya. Gimana enggak, tiap hari dia minta dibeliin atau dibikinin sesuatu. Dan harus pake acara menangis, merengek, merajuk, banting-banting barang, duh ngeliatnya aja nggak tahan banget. Ini anak baru umur 3 tahun tapi udah banting-banting barang gitu. Gimana kalo udah dewasa. Kayak siang kemarin nih. Saya lagi laptopan di samping jendela. Ibu si anak sedang menyapu. Lalu lewatlah pedagang es krim bergerobak..

Si anak: Ibuukkk..es krim
Namun si Ibu tetap cuek dan melanjutkan pekerjaannya.
Merasa permintaannya tidak diacuhkan, si anak mulai menangis dengan keras. Lebih tepatnya merengek, merajuk. Dan berlari mendatangi ibunya yang sedang menyapu.
Si anak: buuukk..es krim
Si ibu tersenyum, lalu berkata “Nggak..”

Merasa ditolak, si anak menjadi berang. Lalu dengan sengaja ia meninju perut ibunya yang sedang hamil tua. Si ibu terdiam sesaat, memegangi perutnya, lalu berlari masuk ke dalam rumah. Rupanya ia kesakitan karena perutnya ditinju anaknya. Si anak juga berlari mengikuti sambil terus meninju ibunya, sambil merengek, merajuk, menangis dengan keras. Mungkin karena tidak tahan dengan suara tangisan, akhirnya si anak itu dibelikan es krim juga. Tangis berganti menjadi senyum girang. Apa yang diinginkan sudah didapatkan.

Saya terperangah. Tapi hanya bisa diam. Pemandangan yang aneh sekali menurut saya. Menurut saya, apa yang dilakukan si anak terhadap ibunya sudah kelewatan. Memukul ibu bagi saya adalah tindakan yang kurang baik. Bukan kurang, tapi sangat tidak baik. Menyakiti seseorang secara fisik, meskipun dilakukan oleh seorang anak kecil, meskipun juga dilakukan oleh atau kepada ibunya sendiri, bukanlah sebuah hal yang baik. Saya paling nggak suka kalau ada anak kecil yang menangis, merengek, merajuk, lalu memukul-mukul ibu atau ayahnya untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Iyuh banget. Dan memukul ibu yang sedang hamil sampai ia kesakitan juga sungguuuhhh bukan tindakan yang baik. Herannya sih, ibunya cuma diem aja. Cuma bilang ‘jangan gitu yaa’ trus anaknya dibelai-belai gitu deh. Tetangga saya, yang juga ngeliat hal itu cuma bilang “Nek aku nduwe anak koyo ngono wis tak tapuki kuwi, wis tak seneni entek-entekan. Ngawur e, bahaya tenan.”

Kedengarannya jahat ya, tapi saya setuju. Tindakan seperti itu sudah membahayakan keselamatan si ibu dan bayi di kandungannya. Kalo tiba-tiba ketubannya pecah gimana? Kalo terjadi sesuatu sama bayinya gimana? Kalo pendarahan gimana? Kalo bayinya cacat gimana? Kalo meninggal gimana? Aduuhh amit-amit deh jangan sampe kejadian. Tapi memang ibunya nggak boleh diem aja kan. Kelihatannya jahat kalo orang tua marahin anaknya, bahkan mungkin sampe bentak-bentak. Tapi kalo ngga gitu, si anak nggak bakal sadar kalo dia udah ngelakuin hal yang bisa menyakiti bahkan membahayakan orang lain. Kalo nggak dimarahin, mungkin dia nggak bakalan tau kalo dia sudah melakukan suatu kesalahan. Kalo nggak dimarahin, dia nggak bakalan berubah.


Karena mungkin saja dia akan melakukan hal yang sama. Mungkin tidak sekarang. Mungkin nanti setelah dia dewasa. Mungkin nanti setelah dia punya istri. Dan mungkin juga melakukannya tanpa rasa bersalah, karena dulu dia pernah melakukan hal yang sama dan didiamkan saja. Terus kalo kayak gitu harus nyalahin siapa?

Karena si ibu diam saja, dan saya juga nggak bisa berbuat apa-apa (iyalah siapa gueeee), yaudah akhirnya saya lanjut laptopan aja. Sambil berdoa semoga nggak ada orang tua lain yang kayak gini. *fiuh*

16 November 2012

Hell-o Thesis!


Days are clouded with academic things since I'm on the seventh semester. Somehow it's hard to believe that I have covered 80% of my journey in college. There are lots of assigned readings, academic essays, theories, group projects, and so on and so on. An the most important is: thesis. God, this is the hardest thing that I have to face this year. Well, I have to admit that it's not that easy to manage my time well in this semester. I have to stick with the to-do-list so I can finish the other works in time. And you know what, sooner or later, I will blow up. Duh!

07 October 2012

Get Well Very Soon, Boy



Louie lagi sakit. Beberapa hari ini mual-mual terus, nggak mau makan, kerjaannya tidur terus di kamar. Kasihan. Udah dibawa ke dokter sih, sempet menunjukkan tanda-tanda membaik, tapi masih nggak mau makan. Huhuhu so sad to see you like this.

Get well soon, my fluffy boy. Hope your tail's wagging again soon. Me miss you muuuuccchhh x(

12 September 2012

#Semester7BikinGila !!!

Lihat KRS saya! Sudah semester 7! Sudah ambil skripsi!!!!!











Dan masih banyak derita anak semester 7 lainnya *nggak sanggup nulisnya*. Anyway, selamat datang di zona skripsi, wahai kalian anak semester 7. Ayo wisuda Februari! :D

23 March 2012

Bahagia Bisa Berbahagia

(BERIKUT pengakuan Pak Mena, penjaga mercusuar di pantai terpencil. Sampai hari ini, masih bekerja di tempat tersebut. Kadang batuk-batuk, dan keluhannya susah tidur).

"Saya ini hanya orang kecil. Tidak pintar bicara. Hidupnya pas-pasan. Tinggalnya saja di tempat terpencil. Semua saudara saya mengembara dan tinggal di kota. Saya seumur-umur disini. Menjadi penjaga mercusuar. Ada tenaga lain. Tapi baru setahun dua sudah tak tahan. Ganti berganti teman. Saya tetap menjaga. Begitu terus.

Saya ini orang kecil, tak punya arti apa-apa. Kalau saya mati pun tak ada yang kehilangan. Kalau saya sakit tak ada yang ikut sedih. Saya jarang ngomong, sama siapa? Teman dekat hanya ombak laut, burung, dan ikan di dalam laut. Bau tubuh saya sudah asin.

Pernah suatu kali di atas menara, malam-malam, saya berniat terjun. Toh hidup ini sudah tak ada artinya. Pikiran lagi buntu. Kalau saya hilang, belum tentu ketahuan, sebulan kemudian ditemukan mayatnya. Ketika mau loncat saya dengar ada suara orang nembang, bersenandung. Luar biasa, karena selama bertugas baru sekali ini ada suara tembang. Kalau hantu, mana bisa menembang lagu dengan begitu bagus. Saya turun dan mencari arah suara.

Di pantai tengah malam saya melihat seorang lelaki, tua, jalan. Kadang ke air, kadang ke tepi. Jalannya terseok-seok. Baru setelah dekat terlihat, lelaki tua itu memakai penutup mata. Pantas jalannya oleng. Saya tarik ke tepian agar tak terseret ombak.

"Apa yang Bapak cari?"
"Saya mencari jalan."
"Mau kemana? Dari mana? Apa yang Bapak lakukan? Kenapa mata Bapak ditutup? Bapak sakit?" Banyak sekali pertanyaan saya. Senang rasanya bertemu orang lain.

Lelaki tua itu membuka penutup matanya. Memberikan ke saya, agar saya menutup mata.

"Cobalah jalan kembali ke menara."
"Kenapa?"
"Coba saja."

Daerah pantai saya hapal. Juga jalan kembali ke menara. Tapi toh beberapa kali menginjak karang sehingga terjatuh. Alangkah bodohnya saya mengikuti perintahnnya. Sampai di dekat tangga, saya sudah tak mampu. Saya buka penutup mata.

"Siapa Bapak? Apa maksud Bapak sebenarnya?"

Lelaki tua itu tersenyum, menepuk pundak saya. "Siapa nama saya tidak penting untuk diingat. Bagi banyak orang, saya senang jika menjadi paman bagi mereka. 
Kamu sudah mencoba jalan dalam gelap? Walau kamu hapal jalanan, masih saja nubruk sana-sini. Saya mencoba juga, dan tak mampu. Kita yang dalam kegelapan itu adalah sampan, perahu, rakit yang melewati laut. Tanpa lampu sorot dari mercusuar, mereka akan berada dalam kegelapan. Tak tahu arah. Kamulah yang memberi arah. Apa yang kamu lakukan sangat bermakna bagi orang lain. Yang setiap malam melalui laut."
"Bagaimana Bapak bisa tahu kerisauan saya?"
"Saya juga merasa pekerjaan saya sia-sia. Tapi kalau yang saya lakukan bisa membahagiakan orang lain, saya akan merasa bahagia. Saya tidak merasa sia-sia."

Lelaki tua itu tinggal cukup lama. Lelaki tua itu mengembalikan harga diri saya. Saya tak perlu bunuh diri. Walaupun kecil dan tak berarti, saya dibutuhkan orang lain.

Baru kemudian saya tahu lelaki tua itu disebut Mandoblang. Atau Paman Doblang. Mandoblang memanglah seorang paman yang baik bagi para ponakan. Tak mungkin kedatangannya ke menara secara kebetulan. Mandoblang khusus mendatangi.

Dialah paman dalam arti sesungguhnya."



(Cerita: Arswendo Atmowiloto, Majalah INA No.32/TH.I/Minggu ke-2)

When Crazy Meet Odd






Somebody please pray for this crazy people. LOL
(Me, Umun, and Rizki. Crazy Mad Bro-Sist)

13 March 2012

Untukmu, Yang Selalu Menjelma Segalanya



Aku terus merasakannya, aku juga heran mengapa kau selalu ada. Melihat jam dinding, kau menjelma detik. Melihat ke jendela, kau menjelma cahaya. Mendengarkan musik, kau menjelma suara. Merenung di tengah sepi, kau menjelma denyut nadi. Tapi, aku suka, aku suka dengan ini semua. Kaulah yang selalu membuatku ingin tetap hidup terus dan terus. Ingin tetap terus menulis dan menulis. Sampai - sampai aku selalu merasa menjadi huruf-huruf untuk tulisanku sendiri. Kau tak pernah jauh dariku, jantungku sendiri mengenalmu sebagai debarnya. Ah sudahlah, sebenarnya aku sedang merindukanmu. Aku memikirkanmu, ketika menulis ini.

04 March 2012

This Relationship (Status)

Buat sebagian besar orang, bagaimana mereka beraktifitas di sosial media - Facebook ataupun Twitter - seringkali (atau memang iya) digambarkan sebagai representasi diri mereka sendiri di dunia nyata. Err, singkatnya gini. Bagi sebagian besar orang, apa yang terjadi dan apa yang muncul di dunia maya, itulah yang terjadi juga pada mereka di dunia nyata. Hal ini bisa dilihat dari foto-foto yang mereka upload ke facebook, update'an status mereka di facebook ataupun twitter, daaaan *ini yang paling penting* a change in relationship status announces their availability, commitment or something in between.

Status hubungan yang dituliskan di facebook jelas ngegambarin status hubungan seseorang dengan orang lain, apakah itu berpacaran (in a relationship), lajang (single), atau rumit (it's complicated). Nggak cuma itu, status ini juga sering diwarnai dengan hal-hal yang bikin orang tertarik untuk mengepo. Kenapa? Karena segala hal yang berhubungan dengan cinta-cintaan selalu menarik untuk diikuti.

Dari sebuah status, kita bisa tahu kalau orang ini lagi jatuh cinta atau bahagia atau berbunga-bunga. Misalnya kayak status teman saya yang ini:

Status yang amat bahagia. Semoga langgeng yaaa A-B :D

Dan ini status adik sepupu saya yang masih SD .____.


Tetapi relationship nggak selalu mulus kan? Ada juga yang kayak gini:




Status-status galau cinta-cintaan yang tanpa sengaja saya temukan di facebook :p. 
Maaf ya, tidak bermaksud loooh

Seperti efek domino, dalam waktu 1 x 24 jam seluruh orang di facebook akan tahu tentang hubungan kita dan mulai bertanya-tanya, hingga akhirnya mengendus-endus asal mula perkara seperti anjing pelacak. Mungkin inilah salah satu faktor yang membuat facebook menjadi menarik. Secara nggak langsung, kita menjadi saksi maya dari perjalanan cinta seseorang, mulai dari pdkt - jadian - seneng-seneng - berantem - putus - ketemu orang baru. Siklusnya selalu sama dan berulang. Dan selalu menarik untuk diikuti. Ya kan?

Drama-drama dunia maya ini semakin seru kalau misalnya kisah percintaan mereka diwarnai dengan orang ketiga. Atau salah satu pasangan mulai tak peduli dan yang lain merasa tersakiti. Bakal ada sinetron-sinetron di timeline yang penuh umpatan, makian, cacian, ejekan. Yang tadinya merayu memanja seperti 'Kau adalah matahari yang menerangi hidupku' tiba-tiba saja berubah menjadi 'Kamu tak punya hati!' People change, things go wrong, shit happens, and it's so funny to see that kind of mello-dramatic thing.

Menarik banget kan? Jujur saya juga suka tertarik dengan status teman-teman yang vulgar macam begitu. Saya sering tanpa sengaja membaca status mereka dan tahu 'Oh hubungan mereka lagi renggang' atau 'Si ini habis jadian dengan si itu'. Saya dipaksa untuk menjadi kepo karena status-status atau updatean yang mereka share di timeline. 

Saya pun pernah mengalami masa-masa itu lho. Masa dimana segala sesuatu yang terjadi dalam hidup saya ingin saya share-kan dengan orang lain, tak terkecuali urusan percintaan. Sampai-sampai semua orang tahu saya lagi naksir siapa, lagi diPDKTin siapa, lagi dimana ngapain sama siapa, siapa pacar saya dan bagaimana hubungan saya, prahara-prahara yang terjadi dan bagaimana akhirnya. Mendadak berita tentang saya tersebar dengan sangat luas dan sangat cepat.

Bergantinya status seseorang dari 'single' menjadi 'in a relationship', atau dari 'in a relationship' menjadi 'it's complicated' atau 'single' bukannya tanpa alasan. Jelas mereka nggak mungkin mempertahankan status itu hanya untuk menghindari gosip kan? Perubahan itu jelas membuat gempar, karena terpublish dan terhighlight sehingga semua orang tahu. 

Efek positifnya adalah saya menjadi lebih ekspresif. Berasa nggak punya beban gitu karena sudah tersalurkan lewat updatean lima menit sekali. LOL. Tapi yang jelas ini juga ngeselin banget karena orang-orang mulai bertanya-tanya 'ada apa'. Setiap mereka ketemu saya, mereka selalu nanya 'Kamu kenapa sama si A? Habis berantem?' atau 'Udah baikan belom sama pacar?' atau 'Gimana kelanjutannya kamu sama si ini?' dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang menyentuh ranah pribadi. Bagaikan wartawan infotainment, mereka nggak bakalan berhenti nanya sebelum mendapatkan jawaban yang sejelas-jelasnya. Kinda annoying lho kalau sudah kayak gini.

Hmmm....

Ribet ya. Pada dasarnya memang manusia itu selalu pengen tahu. Dan nggak bisa disalahin juga kalau mereka (yang tadinya tidak mau tahu) jadi (terpaksa) mau tahu. Salah kita sendiri juga. 


Terus gimana cara ngeredamnya? Tutup mulut. Don't speak a word. Biarin aja mereka bertanya-tanya dan mereka-reka. Biarkan saja mereka bergulat dengan pikiran mereka. Saya sudah belajar dari pengalaman bahwa ada hal-hal pribadi yang seharusnya tidak diumbar di sosial media. Kita harus bisa memilah, mana yang oke buat dishare dan mana yang enggak. 

Sebenernya status dipublish atau ditampilkan di facebook itu positif lho. Kita bisa menahan keinginan orang-orang yang mencoba PDKT, karena disitu jelas tertera bahwa kita sudah menjadi milik seseorang. Tapi kita harus siap-siap untuk di-kepo-in juga, apalagi ketika publik mulai mencium sesuatu yang nggak beres dari hubungan percintaan kita.

Lalu... Bagaimana status hubungan saya sekarang? 
Ah.. biarlah kami berdua saja yang tahu :p.

03 March 2012

Tragedi Kelas Pagi Part II

Rupanya saya masih juga belum belajar dari pengalaman kemaren. Kamis pagi, awal bulan Maret, saya masih juga semangat kuliah Masyarakat Indonesia: Struktur dan Perubahan. Kebetulan minggu kemaren matkul ini kosong jadi saya pikir kuliah ini bakalan lama dan penuh dengan catetan.

Ritual kelas pagi selalu sama: dibangunkan oleh alarm, ngetweet, mandi, dan sarapan roti sambil nonton acara gosip. Kebetulan kuliah hari ini dimulai jam 9.30 jadi bisa nyantai-nyantai dikit.

Jam 9.15 saya berangkat dari rumah. Santai-santai sambil dengerin mp3, nyanyi-nyanyi di jalan. Tanpa disadari jam sudah menunjuk pukul 9.35. Telat men!! Langsung tancap gas ke kampus dan buru-buru naik ke ruang 4 (di jadwal yang saya salin dari catetan Ana Martiana, tertulis ruang 4). Dosennya udah masuk. Dari luar udah keliatan screen sudah penuh tulisan bahan kuliah. Oh well..

Saya mengetok pintu dan membukanya.
Dosen: "Langsung masuk aja mbak. Duduk di depan ya."

Saya nurut aja. Dan mulai menyalin slide. Dalam hati saya mikir, ini dosennya siapa ya? Kok gak pernah liat.

Bisnis merupakan kegiatan sosial yang terstruktur. Dari sudut pandang ekonomi, bisnis dilihat sebagai suatu komoditi dimana harga diukur dengan tidak mengkombinasikan nilai kerja. Faktor produksi dikombinasikan sedemikian rupa sehingga nilai jualnya naik..

EH?
KOK BISNIS?

Saya mulai curiga. Apakah kuliah Masyarakat Indonesia memang membahas bisnis?
Si dosen rupanya melihat kegelisahan saya, dan berkata "Ada yang ingin bertanya?"
Saya memutuskan untuk diam saja dan melanjutkan catatan.

Bisnis juga memiliki kaitan erat dengan moralitas. Selama ini para pelaku bisnis jarang sekali yang memperhatikan keselamatan kerja, kesehatan pegawai, dan hubungan dengan masyarakat.

Ini benar-benar mencurigakan. Ada yang nggak beres nih. Saya ngrasa nggak ada yang salah dengan diri saya. Baju oke-oke aja. Saya juga nggak ngelakuin kesalahan. Dosen kayanya beres-beres juga. Apa yang salah ya?

Saya nengok ke belakang. Celingak-celinguk cari temen-temen saya. Dan ternyata mereka nggak ada. Nggak ada satupun wajah yang saya kenal. Isinya anak-anak jurusan lain. Dan kayaknya angkatan tua semua. Mampus. Salah kelas ni gue! 

Pantesan aja kok rasanya aneh masuk kelas ini. Pantesan juga kuliahnya bahas bisnis, bukannya masyarakat Indonesia. Ngakak sendiri kalo inget cerita ini. Besok diulangi lagi ya nduk. Hahahahaha #toyordirisendiri.


28 February 2012

Tragedi Kelas Pagi

Saya lagi rajin masuk kuliah. Nggak tau kesambet setan apa, atau kesantet siapa, pokoknya sekarang saya rajin banget masuk kuliah. Catetan juga lengkap dan rapi layaknya jaman SD dulu. Saya juga bisa bangun pagi sekarang *Ini rekor, susah banget loh tidur pagi dan bangun pagi juga di hari yang sama hahahaha*

Tapi kerajinan saya ini ternyata berbuah tragedi. Selasa kemaren, saya sudah bangun jam 6 pagi (Ini rekor juga karena saya baru bisa merem jam 2), sudah mandi, dan jam 7 pagi sudah bersiap kuliah dengan kondisi yang belom sarapan. Hiks.

Ritual kuliah selalu diwarnai dengan cewawakan, ketawa-ketiwi, ngobrol ngalor-ngidul, nggarapi Khalida, pokoknya doing something to cheer up the day. Lalu tanpa disadari, absen pun tiba di tangan. Dan nama saya nggak tercantum disana! APA-APAAN INI?! BISA-BISANYA NAMA SAYA NGGAK ADA DI ABSENSI!!! (Ngomongnya gaya Leli Sagita. Mata melotot, pupil membesar, bulu mata kedip-kedip, hidung kembang kempis. *loh kok malah kaya babi sih #eh)

Pokoknya saya kaget banget waktu nama saya nggak ada di absen. Rasanya nggak percaya. Itu kertas absen saya bolak-balik, saya teliti satu per satu. Huruf demi huruf. Baris demi baris. Tapi tetep nggak ada nama saya terpampang disana. Ya Tuhan, apa salah dan dosaku? Mengapa kau campakkan aku dari kertas absen ini? Rasanya tuh kayak dikasihtau kalo kamu gak lulus ujian, padahal yakin bisa ngerjain. Yaoloooh *lagu Betharia Sonata mengalun.. Pulangkan sajaaaaaaa*

Ibu Leli Sagita yang selalu bikin pengen nimpuk tiap kali nonton sinetron Tersanjung 6

Kembali ke masalah absen.

Saya langsung sakit hati pada saat itu juga. Tega-teganya! Bisa-bisanya! Kok bisaaa?!! Sungguh terlalu.
Rasanya ingin menggebrak meja pada saat itu juga dan keluar kelas. Tapi apalah daya. Saya tak berdaya. Saya tak kuasa berbuat apa-apa. *sroootttt*

Saking desperatenya, saya cuma bisa bilang "Ah luweh. Ntar habis kuliah ke akademik."
*absennya tergeletak d kursi sebelah*

Setelah satu jam perkuliahan, tanpa sengaja saya lihat di jadwal kuliah saya yang ditulis di bekas nota. Saya baru sadar kalau saya nggak ngambil mata kuliah ini. Pantesan namaku gak ada. Bodoh!!

Jadwal kuliah yang bikin kacau !!!

11 February 2012

Go, Round



If everything has been written, so why worry, we say
It's you and me with a little left of sanity
If life is ever hanging, so why worry, we say
It's still you and I with silly smile as we wave goodbye
And how will it be? Sometimes we just can't see
A neighor, a lover, a joker
Or a friend you can count on forever?
How happy, how tragic, how sorry?
The sun's still up and life remains a mystery

If everything has been written down, so why worry?

Dee Lestari - Grow A Day Older

23 January 2012

07 September 2011

Eight Things You Should Know About Me

I'm about to tell you several facts about myself. This is fun because I don't normally tell people about all these things, but I was so excited when I thought about writing this post for everyone. So here they are, some facts you need to know about... 

My Identities


 I'm half Indonesian (Javanese), quarter Chinese, and quarter Dutch. I don't really look like my parent, and people can't tell whether I'm more Javanese or Chinese or Dutch - I don't have strong ethnical characteristics. And it makes me feel quite awkward sometimes (but I get used to it). 

My Biggest Fear


I'm afraid of snake. Running away from them everytime and get panic easily when there are lots of snake showing on television or books. Even if I think of them. It’s like a phobia, yeah. But, snakes are dangerous, are they?

My Daily Writings 


I regularly write my daily journals. Sometimes when I forgot to bring any notebooks, I wrote down the words in any papers I could find - abandoned newspaper, the back part of  posters... anything. I have a special book contains of my writings about the conversation between coffee and tea (in a series of letters) - mainly talks about life and the philosophies. I was planning to make a regular post from the series but never sure whether it's necessary or not to share them.

My Playlist 


  

Many of you may got surprised if you get to know my playlist. 'You? A song like this? I don't believe it', that's what they say. Mom called them the "noisy, boy-thing groups" and my dad said I don't suit their groupies styles. Well, besides jazz and britpop, I enjoy their songs and always put them on my playlist... Hey, what's wrong with that? I may dress girly and trendy, but it doesn't mean that I can't enjoy this kind of music genre.  

My Personal Style


I will feel beautiful, or most beautiful, when I’m comfortable with my outfits and still able to do anything I like – and just being my own self, my whole self without any pretending. For me, beauty needs honesty, so I’m always trying not to be fake. And I believe it works! The first thing in my mind everytime I open my closet is that I should feel comfy enough with anything I wear – then automatically the sense of beauty will come along. I think my favorite outfit so far are dress, flats, and wedges. They’re just like my to-go items. I prefer to be simple and often need to be dressed up quickly (since I always in hurry – miss clumsy clumsy), so dresses and flats are my favorite one. They’re light and easy to wear, not hard to be paired with, and allow me to move freely (and yes, the flats help a lot for such hyperactive manner).

 My Current Obsession


Fashion journalism is like a dream to me, since I was child. It includes fashion writers, fashion critics or fashion reporters. The most obvious examples of fashion journalism are the fashion features in magazines and newspapers, but the term also includes books about fashion, fashion related reports on television as well as online fashion magazines, websites and blogs. 

The work of a fashion journalist can be quite varied. Typical work includes writing or editing articles, or helping to formulate and style a fashion shoot. A fashion journalist typically spends a lot of time researching and/or conducting interviews and it is essential that he or she has good contacts with people in the fashion industry, including photographers, designers, and public relations specialists. See, that’s a dream for me. How about you?

I am a lunatic dreamer

If you could experience being  anything in the world for a day, I will be a fairy – wearing my white luminous tube dress with blue, pink, yellow and green pastel shades all over my body and luster-y transparent wings on my backbone. I could fly anywhere – and choose whether I want to be seen or keep invisible from the human beings and other creatures. I wake up in the morning from my soft ovary bed in my sunflower house, bring my loony colorful bucket and spread the magical stardust over the flower and plants – it is the powerful spirit and energy that was abstracted from the universe that will keep them alive. I will sing along by the noon with the other fairies in the heart of our thick, humid forest, accompanied by the mighty unicorns and mermaids by the side of their illuminated crystal pond. In the evening I will fly away to greet other magical creatures - from the kind witches and their black cats to the wise old trees in the southern land. I probably will blow the happiness wind for any deserved humans that I meet on the way, to make sure that they will have a beautiful day. And last, after having a enormous dinner with all the fairy village members, I would fly alone again to kiss the grasses who has enliven the party with their wonderful whisperer choirs and hugs the animals who always welcoming the fairies to sleep in their land-pit to get some warmth when the frosty night coming. Everyone will say a sweet farewell for me, and I will go back to my fluffy bed... to be vanished as the sprinkles of rain and incarnated as a mediocre human again.

I love Batik, especially the classic one

  
Well, being brought to the international runway make the pattern application is a bit and lot different from the basic or genuine one (that originally made by hands - it's a wax-resistant dyeing technique used to create the pattern... but due to the modern advances of textile industry, we also have 'printed-batik' made by the fabric machines, like those on the picture above, I believe)... If I should choose, I like the handmade cloth better since it has the old, classic and more traditional sense. But still a good news to hear! Even these kind of outfit on the photos are not vintage, not so my-signature-style taste, and I wouldn't be dare enough to wear such colors, but these are another side of beauty. And it brought my national heritage to the world! <3