22 August 2015

The Tree Philosophy

Pelajaran kehidupan itu selalu ada yang gratis! Se-gratis hamparan sawah dan juga pepohonan di jalan yang masih dibiarkan tumbuh. Andai saja kita mau berhenti sejenak dan memahami makna keberadaannya - melebihi kodratnya sebagai (hanya) sebuah tanaman.
(Angelica Pramesthi)

21 May 2015

Pergelaran Beksan Bedhaya Amurwabumi

Bedhaya Amurwabumi | Bangsal Pagelaran Kraton Yogyakarta, 19 Mei 2015 | Photo by: Franseska Dian Ratri

Hari Selasa lalu, saya, keluarga, dan pacar mendapat kesempatan untuk menonton Pergelaran Beksan Bedhaya Amurwabumi. Kebetulan salah satu penari beksan pada malam itu adalah kenalan ibu saya dan beliau memberi kami akses gratis untuk menonton pergelaran itu secara langsung. Kesempatan ini terlalu sayang untuk dilewatkan dong yaa. Kami excited banget buat datang ke acara itu. 

Tari bedhaya bukan hal yang asing bagi saya. Eyang kakung saya semasa muda dulu sering menari di Kraton Yogyakarta. Setelah menikah pun eyang masih sering ditimbali untuk menari. Melalui cerita-cerita eyang, saya sedikit banyak tahu soal tari ini. Meskipun sebenernya udah lupa-lupa inget, karena waktu itu saya masih kecil dan masih nggak begitu paham soal beginian. Nggak puas dengan ingatan kecil saya akan cerita eyang, akhirnya saya bela-belain riset kecil di perpus biar bisa bikin tulisan yang sumbernya jelas. Sayangnya nggak banyak informasi yang bisa saya dapatkan. Nggak ada buku yang secara khusus mengulas tentang tari bedhaya. Mungkin saya yang nggak nemuin bukunya kali ya. Atau mungkin saya nyari di perpus yang salah. Ya maklum, udah bukan mahasiswa jadi nggak bisa masuk perpus kampus. Hiks, sedih :( 

Bedhaya Amurwabumi | Bangsal Pagelaran Kraton Yogyakarta, 19 Mei 2015 | Photo by: Franseska Dian Ratri

Tari Bedhaya bukanlah sebuah tarian biasa. Tari Bedhaya di Surakarta dan Yogyakarta merupakan sebuah bentuk tarian klasik yang dianggap mempunyai kekuatan religius-magis sekaligus juga diyakini sebagai salah satu bentuk pusaka kraton. Pada awal keberadaannya tarian ini digunakan sebagai tari persembahan pada upacara-upacara di kraton, yaitu persembahan kepada Sang Pencipta (penguasa jagad raya). Oleh karena itu, tari bedhaya hanya boleh dipentaskan di tempat terbatas dan disaat tertentu, seperti pada ulang tahun raja, memperingati berdirinya kraton, atau untuk memperingati hari penobatan raja, walaupun dalam proses berikutnya tari bedhaya akhirnya berubah dari fungsi ritual ke fungsi hiburan. (Maharsiwara, 2007:95). 

Pentas tari bedhaya di Kraton Yogyakarta semula diadakan di Bangsal Kencana dekat dengan tempat duduk Sultan. Itu menunjukkan bahwa sesungguhnya tari bedhaya adalah sebuah tarian sakral yang sangat tinggi kedudukannya. Oleh karena itu, pada masa lalu raja dianggap sebagai wakil Tuhan di dunia, maka bedhaya juga menjadi simbol hubungan antara manusia dengan Tuhannya, sebagaimana tujuan hidup manusia Jawa dalam mewujudkan cita-cita menunggaling kawula-Gusti (Soedarsono, 1997:143-149). Cita-cita mengenai kesatuan antara ke-aku-an (manusia) dengan Yang Ilahi, dimana ”aku” (batin) telah berhasil melepas belenggu lahir yang berupa nafsu-nafsu hingga yang tinggal hanya sifat-sifat Ilahi. Melalui kesatuan itu, maka manusia (Jawa) dapat mencapai kawruh “sangkan paraning dumadi” yaitu kawruh (pengetahuan) tentang asal (sangkan) dan tujuan (paran) dari segala yang diciptakan (dumadi) (Suseno, 2001:117-120). Cita-cita tersebut bisa dicapai dengan membangun “keselarasan” hidup, keselarasan antara perkataan, pendengaran, penglihatan, dengan pikiran dan perasaan untuk menuju kebahagiaan dunia dan akherat. 

Menurut K.P.H. Brongtodiningrat, seorang Empu Tari Kraton Yogyakarta sejak masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwana VII (tahun 1877 - 1921), Hamengku Buwana VIII (tahun 1921 - 1939) sampai pertengahan pemerintahan Sultan Hamengku Buwana IX (tahun 1939 - 1988), menafsirkan bahwa formasi bedhaya menggambarkan proses perjalanan spiritual anak manusia dari purwa (awal), madya (yang dijalani di dunia nyata), wasana (sebagai insan kamil atau manusia sempurna), yang kadang harus dihadapkan pada dilema antara menuruti keinginan logika atau kebutuhan batin. 

Bedhaya yang ditarikan oleh sembilan penari putri itu menjadi simbol sembilan lubang yang terdapat pada badan wadhag (jasmani) manusia, sebagai simbol mikrokosmos dari jagading manungsa yang terdiri dari dua mata, dua lubang hidung, dua lubang telinga, mulut, dhubur (anus), dan alat kelamin. Di dunia pedalangan organ tubuh manusia itu sering disebut dengan babahan hawa sanga. Ketika seseorang berkeinginan meraih sesuatu dengan cara bersemedi, bermeditasi, mesubudi mendekatkan diri kepada Tuhan, maka dia harus mampu pati rasa (memusatkan pikiran kepada Yang Tunggal), dan pati raga menutup sembilan lubang yang menjadi sumber segala nafsu (amarah, lauamah, dan supiah). Artinya dia harus dapat mengatasi godaan yang berasal dari penglihatan, pendengaran, penciuman, mulut/ perasa, serta nafsu seks. 

Filosofi tari bedhaya terangkum dalam ajaran ngelmu sangkan paran yang meliputi tiga hal, pertama berkenaan dengan kesadaran bahwa manusia berasal dari Tuhan (urip iki saka sapa); kedua, berkaitan dengan tugas dan kewajiban manusia di dunia (urip iki arep apa); dan ketiga, berhubungan dengan kepulangan manusia kembali kepada Tuhannya (urip iki pungkasane piye). 

Bedhaya Amurwabumi | Bangsal Pagelaran Kraton Yogyakarta, 19 Mei 2015 | Photo by: Franseska Dian Ratri

Tari Bedhaya yang saya lihat kemarin adalah Tari Bedhaya Sang Amurwabhumi. Bedhaya ini diciptakan oleh Sultan Hamengku Bawana X. Karya tari ini mempunyai konsep filosofis setia kepada janji, berwatak tabah, kokoh, toleran, selalu berbuat baik dan sosial. Dasar cerita tari bedhaya ini diambil dari Serat Pararaton dan Kitab Para Ratu Tumapel dan Majapahit. Bedhaya Sang Amurwabhumi mengambil cerita sang Amurwabhumi (ken Arok) dengan Pradjnaparamita (Ken Dedes). 

Tari Bedhaya Sang Amurwabhumi merupakan ide dasar dari Sri Sultan Hamengku Bawana X dan dibuat oleh koreografer K.R.T Sasmintadipura. Bedhaya yang merupakan legitimasi Sri Sultan Hamengku Bawana X kepada swargi Sri Sultan Hamengku Buwana IX ini dipentaskan pertama kali di Bangsal Kencono pada saat pengangkatan dan penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Sri Sultan Hamengku Buwono IX pada tahun 1990. 

Tari Bedhaya Sang Amurwabhumi ditarikan oleh sembilan penari putri dan berlangsung selama 2,5 jam. Cukup lama ya. Meskipun kemarin saya sedikit bosan tapi tarian ini selalu menarik untuk ditonton. Jaman sekarang tidak perlu ada acara khusus untuk bisa menonton pergelaran tari bedhaya. Tari-tari ini bisa disaksikan di Kraton Yogyakarta atau di Pura Pakualaman. Kalau mau belajar menari ala Kraton Yogyakarta juga bisa. Cukup datang ke Bangsal Pagelaran Kraton Yogyakarta setiap Hari Minggu pagi. Saya juga pengen belajar sebenernya. Tapi sayangnya keinginan itu selalu kalah oleh rasa malas. Kalau ada yang pengen belajar juga, hubungi saya ya, biar kita belajar nari bareng-bareng. 

Cheers :) 


 
Sumber bacaan: 
- Maharsiwara, Sunaryadi. 2007. Dwi Naga Rasa Tunggal: dari Sengkalan Memet ke Seni Pertunjukan . Pondok Edukasi. Yogjakarta 
- Suseno, Frans-Magnis. 2001. Etika Jawa: Sebuah Analisa Falsafi tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa. Gramedia. Jakarta. 
- Soedarsono, RM. 1997. Wayang Wong Drama Tari Ritual Kenegaraan di KratonYogyakarta. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

28 March 2015

Easter Wishlist

Memasuki minggu terakhir di Bulan Maret, saya mulai direpotkan oleh segala persiapan Paskah. Memang sih nggak se-ribet tahun-tahun sebelumnya. Kalau dua atau tiga tahun lalu saya masih ikut tablo, tugas koor ini itu, tugas parkir, dan masih banyak tetek-bengek lainnya, tahun ini saya cuma tugas sekali doang, pas Jumat Agung. Thank God! Walaupun tugas untuk Paskah ini cuma sekali doang, tapi persiapannya bisa dibilang lama. Hampir setiap dua hari sekali saya dan kelompok koor saya harus berlatih agar kami bisa menjalankan tugas dengan maksimal. Jadi bisa dipastikan hari-hari saya di dua minggu ini bakal penuh dengan aktifitas di gereja.

Masalah muncul ketika flatshoes kesayangan saya habis digigitin si Gembul, penghuni baru di rumah yang berumur dua bulan. Sepatu itu sudah lama saya beli dan menjadi kesayangan saya (karena itu satu-satunya sepatu flat yang saya punya hahahahahaha). Selama ini sepatu yang nangkring di rak sepatu saya kebanyakan adalah sepatu-sepatu dengan hak yang tinggi atau wedges. Sepatu trepes yang saya punya ya cuma sepatu coklat (yang sekarang sudah tidak berbentuk itu. Hiks) dan sneakers. Tapi nggak mungkin dong yaaa untuk memakai sneakers ke gereja, apalagi pakaian yang saya kenakan adalah pakaian formal. 

Sedih rasanya. Yang bikin saya sedih lagi adalah saya nggak punya waktu untuk pergi berbelanja sepatu. Rutinitas saya yang super padat bikin saya nggak sempat untuk membeli sepatu pengganti si coklat yang rusak itu. Masalahnya saya adalah tipe pemilih yang bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk membeli sebuah produk. Yaa gimana, kalau buat barang yang dipakai sehari-hari kan harus cari yang nyaman, enak dipakai, bentuknya bagus, dan tentu saja harganya terjangkau. Untuk mencari barang seperti itu membutuhkan waktu yang lama bagi saya.

Beruntunglah saya, ketika nggak sengaja browsing, nemu website yang punya sepatu-sepatu kece. Ada brand flat shoes kesayangan saya: The Little Things She Needs. Sepatu ini udah terjamin banget kualitasnya. Pasti oke dan nyaman dipakai. Buat kamu yang mau lihat koleksi sepatu The Little Things She Needs, bisa klik disini.





Tuh lihat, kece-kece kan. Saya aja bingung mau beli yang mana. Zalora juga banyak promo loh. Untuk flat shoes yang saya capture di atas itu ada special offer 2 for Rp 299.000. Nggak perlu khawatir juga kalau kena tipu. Zalora Indonesia ini aman dan terpercaya. Kalau kamu masih belum yakin, Zalora juga punya sistem pembayaran di tempat. Jadi kamu membayar barang yang kamu beli ketika kamu menerimanya. Enak banget kan. Saya nggak perlu sedih lagi karena nggak punya waktu buat belanja atau beli sepatu. Sekarang sudah ada Zalora yang membantu kesulitan saya ini. Saya jadi punya sepatu baru buat dipakai Paskahan besok. Senangnyaa!! :D


PS: Gara-gara buka website ini, saya jadi kalap belanja. Soalnya nggak cuma sepatunya yang oke, bajunya juga, tasnya juga, aksesorisnya juga. Huwaaaaaa *nangis liat isi dompet*

28 February 2015

Carousel

Picture source: here

My favorite part of a roller-coaster ride is when you're going up 

and you're slightly scared and really excited. 

You don't know what's coming next but you know it's going to be good. 

You can't handle it, go on a carousel.


-Gina Gershon-

27 February 2015

Menulis Lagi

Sejak skripsi selesai, muncul rasa malas untuk membuka laptop, apalagi menulis di Microsoft Word. Mungkin gara-gara kemaren tiap hari ngeliatnya itu mulu dan jenuh. Gimana nggak jenuh, wong waktu ngerjain skripsi itu bisa dua belas jam lebih di depan laptop. Keyboard laptop saya sampe bocel-bocel dan baterainya ngedropan. Sekarang teman setia saya itu harus nginep di rumah sakit gara-gara rusak. Mungkin dia lelah karena saya sudah memaksanya untuk bekerja terlalu keras. Kasihan kamu nak..

Entah kenapa, tiba-tiba rasa kangen buat nulis itu muncul. Makbedunduk nggak ada angin, nggak ada hujan. Saya pengen aktif menulis lagi. Meski bukan lagi menulis skripsi, saya pengen berbagi cerita aja. Atau sekedar menulis apa yang menjadi pikiran saya. Akhirnya setelah sekian lama, saya buka lagi blog yang sudah lama ditinggalkan ini. Saya bersihkan beberapa hal dan mengganti layoutnya dengan yang baru. Saya juga menambahkan beberapa kategori untuk memudahkan pembaca (cielah pembaca). Semoga layout saya yang baru ini menambah semangat saya untuk rajin menulis lagi. Semoga yaaa..

Membuka postingan pertama di tahun 2015, saya mau cerita soal proyek baru saya. Setelah kemaren sempet stress gara-gara nggak dapet-dapet kerjaan yang sesuai, akhirnya saya membuat keputusan untuk berwirausaha alias punya usaha sendiri. Kenapa? Saya pengen berkarya dan mencari uang dengan melakukan sesuatu yang saya suka. Plus, jadi bos lebih menantang daripada jadi karyawan. Saya harus bekerja dua kali lebih keras, saya harus berusaha lima kali lebih berat, pontang-panting karena semuanya akan dimulai dari nol. Tapi saya percaya, kalau punya kemauan, pasti semuanya bisa dilakukan. Untunglah saya punya partner kerja slash pacar yang baik. Jadi kita bisa jadi rekan bisnis yang mudah-mudahan solid. Nanti saya bakal cerita banyak soal proyek saya ini. Sekarang buat postingan awal cukuplah sneak peak ini aja ya. Hahahaha.

Banyak harapan di tahun 2015 ini. Semoga jadi tahun yang berkah buat banyak orang. Gimana rencana kamu di tahun 2015? Share juga dong :)

19 December 2014

Soe Hok Gie, Semangat Pembaharu Sejati

gambar diambil dari sini

Tak ada yang bisa menggambarkan Gie selain kritis, berani dan jujur. Begitulah sosok seorang pemuda Indonesia keturunan Cina yang aktif menetang kesewang-wenangan penguasa melalui tulisan-tulisannya di awal tahun 1960-an, Soe Hok Gie. 

Diangkat dari buku 'Soe Hok Gie: catatan seorang demonstran', Mira Lesmana dan Riri Riza menuangkan dalam versi layar lebar dengan interpretasi sendiri. Tak menyeluruh mengikuti naskah bukunya, mereka mengambil garis besar buah pikir dan kehidupan Gie yang cukup kompleks dan diproses untuk sebuah tontonan komersil.

Mengintip Sosok Gie Dalam Film

Sejak kecil, Gie memiliki kepekaan sosial dan budaya yang melampui teman sebayanya. Ketertarikannya pada sastra dan bacaan membuatnya secara alamiah untuk terus menulis, mencatat apa yang terjadi di sekelilingnya dan Gie melihat segala yang terjadi secara kritis dan berpihak kepada rakyat-rakyat yang tertindas. Dalam pandangannya, Presiden Soekarno adalah lanjutan dari pada raja-raja Jawa. Beristri banyak dan mendirikan keraton-keraton dan lain-lain. Tajam!

Saya dilahirkan pada tanggal 17 Desember 1942 ketika perang tengah berkecamuk di Pasifik. Kira-kira pada umur lima tahun saya masuk sekolah Sin Hwa dan seterusnya.

Gambar dimulai dengan keresahan masyarakat akan revolusi di tahun 1957. Tembok-tembok menjadi sasaran inspirasi mereka atas keinginan akan perubahan yang cepat menuju perbaikan hidup yang layak. Sosok Gie, yanga bercelana pendek dan berkaos oblong, menjadi saksi mata akan ketidakpuasan sebagian bangsa Indonesia kala itu.

Walau terbilang masih cukup muda, Gie sudah memiliki pemikiran-pemikiran yang tak terbendung. Jika ada yang tak berkenan dan salah menurut pandangannya, ia tak segan-segan membantah. Ia berani mengoreksi gurunya yang mengatakan Chairil Anwar adalah pengarang prosa Pulanglah dia si anak hilang. Gie yakin pengarangnya adalah Andre Gide, seorang sastrawan yang bukunya sudah dilahapnya dan Chairil hanyalah penerjemah. Sang guru tadi tetap ngotot akan pendapatnya. Tak ada yang mengalah, Gie dipaksa mengulang kelas. Dan itu kembali diprotesnya.

Sejak SMP, Gie memang sudah haus dengan dunia sastra. Buku karya Spengles, Amir Hamzah, Chairil Anwar dan Shakepeare sudah dicernanya dalam otak. Namun itu juga dikritisinya habis-habisan. Misalnya saja kisah legendaris 'Romeo and Juliet'. Romantisme yang tertuang di dalamnya dianggap tak masuk akal dan menjemukan.

Pada saat itu semangat revolusi yang didengung-dengungkan justru membuat situasi memanas. Dalam lingkup UI saja, bermunculan organisasi-organisasi yang terbentuk karena kepentingan agama dan golongan, seperti PMKRI dan HMI. Gie yang seorang Katolik, diajak bergabung ke PMKRI oleh temannya, Jaka. Namun, Gie menolak. Dia merasa bahwa politik yang membawa kepentingan agama dan golongan bukanlah jalan untuk membawa perubahan hidup bangsa Indonesia.

Alih-alih terlibat organisasi, Gie lebih memilih untuk diskusi dan menulis dalam melawan kelaliman penguasa. Kekritisan Gie dalam mengkritik pemerintah, disadari oleh seorang aktivis gerakan yang bernama Ben. Gerakan yang diikuti Ben tersebut dipimpin oleh Sumitro yang memiliki ide-ide yang sama dengan Gie. Ben pun mengajak Gie untuk bergabung dalam gerakan ini dan menulis utnuk pamflet gerakan tersebut yang disebarkan secara underground.

Pada 30 September 1965, terjadilah penculikan para jendral Angkatan Darat. Sejak saat itu ketegangan semakin meningkat. Hingga akhirnya harga-harga melambung tinggi. Dalam pandangan Gie, ini sesungguhnya adalah taktik pemerintah untuk mengalihkan perhatian rakyat dari penumpasan komunis.

gambar diambil dari sini

Mahasiswa UI saat itu bersatu, mereka berusaha meminta hak-hak rakyat dengan cara berdemo secara besara-besaran. Mahasiswa ini mengajukan tiga tuntutan kepada pemerintah yang dikenal sebai tritura. Tuntutan mahasiswa ini hingga Februari 1966 belum terpenuhi, bahkaan Presiden sendiri menegaskan bahwa tidak akan membubarkan PKI.

Mahasiswa berdemo lagi. Keadaan di masyarakat semakin kacau. Baru pada tanggal 11 Maret 1966, Supersemar seolah menjadi jawaban atas keadaan saat itu. Soekarno menyerahakan mandatnya kepada panglima angkatan darat Soeharto. Saat itulah sesungguhnya militer yang sebelumnya bersitegang dengan PKI mendapat kekuasaan.

Para anggota PKI pun diburu, ditangkap, disiksa dan dibantai. Gie yang bukan ‘kiri’ atau ‘kanan’ tersentil rasa sosialnya untuk menulis kesewenang-wenangan dan kebiadaban orde baru.

Jalan film ini selanjutnya memaparkan keberanian untuk terus mengkritik hingga sampai pada satu titik Gie merasa ‘lelah’ dan terus mendapat reaksi keras dari orang-orang yang merasa terusik atas ulah Gie. Film ini pun diakhiri dengan ending yang abu-abu. Tidak bahagia, tidak juga sedih. Tidak bahagia sebab tentu karena Gie mati muda pada bulan Desember 1969. Tidak sedih sebab pada dasarnya Gie merasa beruntung. Gie meninggal dalam usia 27 tahun di Gunung Semeru dalam pangkuan sahabatnya, Herman Latang.

Rekam sejarah


Gie adalah tokoh yang sangat kritis menilai politik dan keadaan sosial masyarakat. Film Gie ini sendiri menjadi film yang memutar ulang sejarah dengan sudut yang berbeda. Bagaimana sesungguhnya pergolakan politik yang terjadi disampaikan melalui pemikiran-pemikiran Gie, siaran radio, berita dan lainnya. Sutradara dan penulis naskah Gie berhasil membawa dimensi pikiran Gie kepada para penontonnya tanpa terkesan menggurui, meskipun sedikit berat. Narasi-narasi Gie maupun dialognya memang bukan dialog ringan melainkan dialaog yang sarat makna.

Cara Gie memaknai revolusi, kebenciannya kepada para penguasa yang memasung demokrasi, kepekaannya dan rasa sosialnya yang tinggi, kegeramannya terhadap orde lama yang korup dan berkuasa secara absolute juga orde baru yang bertindak sewenang-wenang, sedikit banyak akan berpengaruh kepada para penonton yang masih mau berpikir dan peduli terhadap bangsa. Pandangan kita mengenai sejarah yang semula hanya benar di satu sisi dan salah besar di sisi lain (sesuai penjelasan teks-teks buku pelajaran kuno) menjadi terbagi adil disini. Dalam sejarah, tak pernah ada pihak yang sepenuhnya salah tak ada yang sepenuhnya benar. Oleh karena itu, pembantaian manusia tidak pernah bernilai benar.

Sebagai sebuah film, Gie berhasil menjadi film mengagumkan dalam segi artistic dan moral. Film ini meyuguhkan gambar-gambar kota Jakarta yang masih ‘segar’ dan pemandangan gunung. Dari segi tata music, film ini sangat hidup dengan lagu-lagu yang sangat mendukung. Seperti back song saat Gie berdemo mampu membawa atmosfer dan semangat pemuda ke dalam benak dan membuat merinding. Juga lagu-lagu dan music yang tergolong ‘cerdas’.

Film ini juga sarat pesan. Kita bisa mengambil pesan dari buah pikiran Gie sepanjang film ini, melalui sikap dan keteguhan hatinya. Film ini memang tergolong film yang berhasil bercerita kepada para penontonnya dan sangat layak untuk ditonton juag mungkin menjadi salah satu film Indonesia yang sangat membanggakan dan akan terus dikenang.

Catatan Harian Soe Hok Gie: Senin, 22 Januari 1962

'Seorang filsuf Yunani pernah berkata bahwa nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda dan yang tersial adalah umur tua. Rasanya memang begitu, bahagialah mereka yang mati muda.'







18 December 2014

Paradoks

picture source: here

di bawah kemengertian menyala-nyala
yang bersinar senantiasa apa adanya
di antara kata-kata dan hanya kamu yang mengerti
karena bagiku hanya gumam tanpa arti
engkau berdiri pasti, genggam tanganku
kau larang aku tertunduk lesu
kau memaksa aku bersuara
engkau paksa aku dongak kepala
engkau paksa aku lihat dunia
ini
walau apa terjadi
namun nyalimu pasti
di bawah hujan basahi kita,
di mana katak saja masuk rumahnya,
kau paksa aku melangkah maju
tak bosan kau berkata, "Pasti kamu
lebih dari sekedar basa-basi itu.
dan aku tahu dari kilau berlian di luar sana,
kau satu kilau menyala-nyala
bagiku"

23 September 2014

Pasca Sarjana

Source: http://www.browse.sg/wp-content/uploads/2014/07/graduation-hats1.jpg

Ini tulisan proper saya yang pertama selepas saja menjadi Sarjana. Iya, Sarjana Sosiologi. Hampir empat setengah tahun saya menghabiskan waktu di kampus tercinta Universitas Gadjah Mada untuk menyelesaikan studi saya di Jurusan Sosiologi. Saya ingat ketika OSPEK Jurusan beberapa tahun lalu. Beberapa kakak angkatan bertanya, apakah saya benar-benar meminati jurusan ini? Apakah Sosiologi pilihan pertama saya? Jawabannya bukan. Sampai sekarang pun jawaban saya belum berubah.

Lho?

Bisa dibayangkan, selama empat tahun lebih saya melewatkan hari-hari saya untuk mempelajari sesuatu yang bukan menjadi pilihan pertama saya. Kalau boleh dibilang, saya lebih menyukai hal-hal yang berbau design, seni, atau berhubungan dengan teknologi. Saya lebih menguasai Corel Draw dibandingkan dengan teori-teori Max Weber atau Karl Marx. Saya lebih bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk membuat sebuah design poster dibandingkan dengan menghabiskan waktu bersama tumpukan buku-buku teori. Ketika kuliah pun saya tidak sepenuhnya fokus. Lebih banyak bolosnya daripada masuknya. Lebih banyak titip absen daripada ikut kelasnya. Kalo nggak percaya, tanya aja teman titip absen saya, Ana. Walaupun saya nggak suka, walaupun sebenarnya saya nggak tertarik, tapi itu pilihan yang sudah saya ambil. Lha wong saya sendiri yang daftar, saya sendiri yang ujian, saya sendiri yang diterima. Kalau mau mundur kok rasanya nanggung. Lagian juga nggak ada jeleknya untuk belajar hal yang baru. Nyatanya, dengan penuh perjuangan setahun lebih ngerjain skripsi, saya bisa lulus juga. Thank God!

Empat tahun bukan hal yang singkat. Masa pacaran saya sama pacar yang ini aja belum menginjak angka empat. Tapi saya sudah belajar banyak. Serius, saya belajar banyak. Dan Sosiologi banyak mengubah persepsi saya. Tentang bagaimana melihat sesuatu, bagaimana memaknai sesuatu, bagaimana mengomentari sesuatu, yah begitulah. Seengaknya empat tahun nggak sia-sia. Huahahaha.

Saya masih punya mimpi yang sama: jadi enterpreneur, jadi jurnalis, jadi designer, jadi fashion-stylist, jadi detektif swasta. Tapi serius deh sekarang susah banget nyari kerjaan yang bisa sesuai passion gitu. Tantangan banget buat jobseeker macam saya ini. But I will work hard, no, extremely hard to get what I want. Wish me luck!