10 March 2012

Cerpen: Anak Tukang Kue

Saya masih inget, cerpen ini saya tulis waktu pelajaran matematika kelas 1 SMA. Well, jujur saja, saya lebih memilih membuat cerpen ini daripada berkutat dengan rumus-rumus segitiga :p. Enjoy!


Oh iya.. Jangan lupa juga baca cerpen satunya: click here

Ceritanya ini bapaknya Mayang hahaha. Foto diambil dari sini

Bel istirahat sudah berbunyi lima menit yang lalu. Tapi kelas XI IPS 1 masih saja ramai. Claudia, Tita, Icha, Mario, dan Nico tengah sibuk mengobrol sementara Mayang yang duduk di belakang sibuk membolak-balik majalah Kawanku keluaran terbaru yang dipinjamnya dari perpustakaan. Sejak tadi ia diam saja, bahkan berpura-pura asyik membaca majalah. Padahal kedua telinganya menyimak obrolan kelima temannya yang berdiri tak jauh dari kursinya.

”Tita, liat deh,”kata Icha sambil mengeluarkan sebuah novel dari dalam tasnya. Buku itu bersampul rapi dan masih baru. ”Harry Potter terbaru udah keluar lho.”
”Waaahh,”teriak Tita dengan cengiran lebar. ”Akhirnya keluar juga. Ntar gue mau beli ah. Temenin ya, Cha?”
Icha mengangguk sambil tersenyum lebar. Mario, Nico, dan Claudia ikut mengerumuni Icha yang sudah mengoceh tentang isi buku itu.
”Eh, pulang sekolah jalan yuk?”ajak Mario. ”Gue sama Nico mau beli cd game nih.”
”Iya, udah lama kan kita nggak jalan-jalan,”sahut Nico.
”Ooh, sekalian nyobain brownies ice cream yang di cafe favorit kita !!”Claudia dengan semangat membayangkan enaknya makanan kesukaannya itu.

Uuh, dengar saja cerita-cerita mereka. Sepertinya kehidupan mereka enaaaak banget. Serba mewah. Apa-apa ada. Lain dengan Mayang yang harus meminta sampai jungkir balik sampai permintaannya dikabulkan. Itupun kalau orangtuanya punya uang. Orangtuanya kan hanya seorang tukang kue. Ayah memang berdagang di Pasar Senen, tapi ia lebih banyak menjual kue buatan Ibu ke tetangga-tetangga dan kenalan-kenalan mereka.

”Kenapa sih mereka harus punya yang aku pengen?”keluh Mayang diam-diam.

Seandainya saja ayah Mayang bekerja sebagai arsitek terkenal seperti ayah Tita, atau pemilik dealer mobil seperti ayah Mario, atau dosen seperti ayah Claudia, atau punya toko kelontong seperti ayah Icha dan Nico....

”Mayang nggak ke kantin? Serius amat baca majalahnya,”kata Icha sambil meringis. Mayang terkejut mendengar sapaan Icha.
”Jangan diganggu deh, Cha. Mayang kan harus update soal fashion. Jadi dia harus baca banyak majalah,”kata Tita.
”Iya. Jangan diganggu, ntar konsentrasinya ilang,”kata Mario melerai.
Mayang hanya merengut. ”Suka-suka gue dong!”sahutnya. Ah, seandainya saja Mayang sanggup bercerita kalau ia baru saja menemukan tempat asyik untuk menikmati weekend atau baru saja menonton film seru di bioskop, mau rasanya meninggalkan majalah pinjaman dari sekolah itu dan bergabung dengan teman-temannya yang rata-rata memiliki kemampuan ekonomi diatasnya itu. Tapi...

”Kantin yuk! Haus nih,”ajak Icha. Mayang hanya bisa memandangi punggung kelima temannya itu ketika mereka keluar kelas. Ada rasa lega menyelinap di dadanya. Sekarang Mayang tidak merasa terganggu lagi dengan percakapan mereka yang selalu membuatnya iri itu. 

Ia hanya sendirian di dalam kelas. Perutnya memang selalu kenyang oleh sarapan lezat yang selalu dibuat ibunya. Mayang lebih suka membawa bekal kue-kue dari rumah yang dimakannya pada jam istirahat. Sementara teman-temannya berebut membeli makanan di kantin sekolah.

***

Seperti biasanya, setiap hari rumah Mayang selalu dipenuhi dengan asap dan aroma kue. Ayah dan Ibu Mayang bekerja di dapur, mengolah adonan menjadi kue yang nantinya akan dijual ayahnya berkeliling komplek perumahan di sebelah gang kecil tempat mereka tinggal. Sebenarnya Mayang kasihan melihat mereka harus bekerja keras untuk menghidupi dia dan kakaknya. Tapi entah kenapa, hari ini Mayang justru kesal melihat mereka sibuk di dapur.

Seandainya ayah Mayang seorang arsitek, atau pegawai kantor, atau pemilik toko, tentu saat itu Mayang tidak perlu memandangi dapurnya yang penuh jelaga dan hitam karena arang. Ibu juga tidak usah terlalu repot membuat kue. Jadi Ibu bisa menemani Mayang ngobrol di coffeeshop atau jalan-jalan ke mall. Kalau ayah sedang tidak sibuk, pasti ayah mengajak ibu dan anak-anak makan siang di restoran terkenal. Ah.. angan-angan seperti itu justru membuat Mayang bertambah gusar.

"Nak, ayah mau menjual kue-kue ini ke komplek sebelah. Ibu mau ke pasar membeli bahan-bahan untuk membuat kue. Kamu jaga rumah ya ! Jangan keluyuran,”pesan Ayah. Seperti biasanya Mayang hanya bisa mengangguk pasrah. Beginilah nasib anak tukang kue, selalu ditinggal-tinggal sendiri dan selalu disuruh menjaga rumah.

”Mayang mau ikut Ibu ke pasar?”tanya Ibu seakan dapat membaca pikiran Mayang.
"Aku di rumah aja, Bu,”sahut Mayang. Ikut ibu ke pasar? Uuh... membosankan sekali. Bayangkan saja, demi mendapatkan harga seratus rupiah lebih murah, Ibu rela berkeliling-keliling pasar. Kaki bisa capek. Mayang sudah kapok ikut Ibu berbelanja ke pasar. Apalagi peluang bertemu teman-temannya juga besar. Selama ini kan Mayang tidak mengatakan kebenaran tentang pekerjaan orangtuanya. Ia berlagak seperti anak orang kaya yang selalu hidup mewah dan fashionable. Makanya Mayang selalu khawatir jika ia bertemu teman-temannya di pasar. Alasan apa yang harus dipakainya?

“Ya sudah. Kalau begitu jaga rumah baik-baik. Kalau kamu belum makan, Ibu sudah siapkan nasi dan sayurnya di meja. Lauknya hanya ada 2. Sisakan satu untuk kakakmu,”kata Ibu. Mayang mengangguk. Setiap hari ibu hanya masak sayur. Lauknya pun hanya tahu dan tempe. Makan ayam pun hanya kalau ibu punya uang lebih saja. “Padahal kan aku ingin makan dengan lauk yang enak seperti teman-temanku. Ibu sih hanya bekerja sebagai tukang kue!!”gerutu Mayang ketika membuka tudung saji.

***

Mayang menghempaskan badannya ke kasur dengan kesal. Dia masih saja menyesali keadaan orangtuanya yang hanya bekerja sebagai tukang kue. Gara-gara ayah, aku tak bisa membeli handphone kamera keluaran terbaru seperti punya Claudia, atau membeli laptop Apple canggih seperti punya Icha, bahkan aku tak bisa membeli tas Reebok seperti punya Tita. Uh! Bahkan kamarku saja jelek begini. Kasurnya cuma kasur busa. Nggak ada TV, nggak ada AC, apalagi komputer. Aargh!!! Lagi-lagi Mayang menyesali nasibnya.

“Mayang... ayo makan,”kata Ibu dari luar kamar. Mayang yang sedang kesal dengan orangtuanya berpura-pura tidak mendengar.
“Biar saja. Biar Ibu tahu kalau aku nggak mau makan pake lauk orang desa,”pikirnya.
“Mayang.....,”Ibu kembali memanggil. Namun tak ada sahutan. “Ya sudah, nanti Ibu sisakan untukmu saja.”

Mayang sudah bosan dengan lauk orang desa yang setiap hari harus dimakannya. Tahu, tempe, tahu, tempe.. Bosan! Ia ingin makan makanan enak seperti makanan teman-temannya, yang ada kejunya, yang ada saus Inggrisnya. Tentu saja orangtuanya hanya bisa menyediakan kecap dan sambal bikinan sendiri. Lagi-lagi Mayang kesal dengan keadaan orangtuanya. Kakaknya juga sama saja. Kak Puput lebih suka memihak kepada orangtuanya. Kakaknya lebih memilih hidup sederhana dan tidak berpura-pura menjadi orang kaya hanya karena malu menjadi anak tukang kue. Tapi sejak tadi siang ia belum makan. Perutnya keroncongan. Akhirnya Mayang mau juga keluar kamarnya.

“Ibu masak apa?”tanya Mayang ketus sambil duduk di meja. Mengamati meja itu.
“Ibu masak sayur sop, tempe goreng, sama sambel,”jawab Ibu sambil mengambilkan piring untuk Mayang. “Kamu mau makan apa?”
“Aku bisa ambil sendiri kok!”kata Mayang sambil merebut piring yang disodorkan Ibu untuknya. Diamatinya makanan yang tersedia di meja makan. Dengan perasaan kesal, Mayang berjalan menuju lemari di dekat dapur. Mengambil sebutir telur yang tersisa dan sebungkus mie instant. Dengan cepat dibuatnya makanan itu dan dibawanya ke meja makan tanpa mempedulikan Ibunya yang susah payah memasak.

“Kok kamu malah bikin mie sih? Ibu kan udah masak,” Puput, kakaknya menegur Mayang.
“Suka-suka aku dong. Aku nggak mau makan masakan Ibu. Bosen. Tiap hari lauknya tempe-tahu-tempe-tahu. Nggak ada yang lain apa? Bisa-bisa aku jadi manusia tempe kalo tiap hari makan kaya gitu!!”bentak Mayang.
“Tapi kan Ibu udah masak. Sayang kan kalo nggak dimakan,”kata kakaknya.
“Aah. Kakak bawel banget sih! Nggak usah ngurusin aku deh. Urus aja diri kakak sendiri!”kata Mayang cuek sambil terus menyantap mie instantnya. Keluarganya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan Mayang.

***

Seperti siang-siang sebelumnya, Mayang sendirian di rumah. Ibunya pergi ke pasar, ayahnya masih berkeliling menjajakan dagangan, sementara kakaknya masih les di sekolah. Sambil makan sisa-sisa kue yang gosong, Mayang menonton TV di ruang tamu merangkap ruang tengah. Tapi ternyata ayah pulang lebih cepat dari perkiraan.
“Ayah kok udah pulang? Laku kue-kuenya?”tanya Mayang heran. Ayah Mayang meletakkan motor bututnya di teras depan rumah.
“Tentu saja laku. Kalau belum laku Ayah masih berkeliling sampai sore,”sahut Ayah.

Ada rasa haru menyelinap perlahan di dada Mayang. Ayah memang ulet sebagai penjual kue. Ayah tidak malu berkeliling-keliling komplek perumahan elite untuk menjual kue buatan Ibu. Ayah juga sabar melayani pelanggan. Bahkan banyak orang menyukai ayah. Tapi, kenapa ayah tidak menjadi pegawai kantor saja? Ah, lagi-lagi Mayang menyesali keadaan orangtuanya.

“Tadi ayah menjual kue ke Citra Garden, perumahan yang elite itu. Ternyata banyak orang disana yang suka kue buatan ayah,”cerita Ayah.
“Ayah jualan disana?”Mayang kaget kaget bukan kepalang.
“Ya. Memangnya kenapa? Mungkin ayah akan berjualan disana saja. Pasti cepat laku,”kata ayahnya dengan gembira.

Bukannya senang, Mayang justru semakin gelisah. Citra Garden kan perumahannya tempat teman-temannya tinggal. Mereka akan mengolok-oloknya kalau sampai tahu ayahnya ternyata seorang penjual kue keliling. Selama ini kan mereka tidak pernah tahu pekerjaan orangtua Mayang yang sebenarnya. Yang mereka tahu, orangtua Mayang adalah seorang pedagang di pasar. Aduuh, bagaimana ini? Ini semua gara-gara ayah! Kenapa harus jualan disana? Kenapa tidak berjualan ke tempat lain saja? Kenapa ayahku harus menjadi seorang tukang kue? Kenapa? Kenapa? Kenapa?

***

Esoknya Mayang sengaja menghindari teman-temannya, teruta Tita, Claudia, Icha, Mario, dan Nico. Waktu mereka masih berada di dalam kelas saat istirahat, diam-diam Mayang pergi ke kantin. Meski makanan yang ada di kantin tidak seenak buatan ibunya, Mayang tetap melahap bakso yang baru saja dipesannya. Perasaan takut ketahuan sebagai anak tukang kue terus menerus menderanya.
”Kok tumben makan di kantin?”tanya Mario.
”Iya. Biasanya kan lo bawa bekal sendiri,”timpal Icha.
Jantung Mayang berdegup kencang. Ternyata Icha, Tita, Claudia, Mario, dan Nico ada di kantin. Karena meja sudah penuh, mereka bergabung dengan Mayang yang baru menghabiskan separuh baksonya.
”Kita duduk disini ya, Kar,”kata Claudia sambil duduk di sebelah Mayang. Keempat temannya mengikuti. Mayang langsung berkeringat dingin.
”Aduh, mereka tau nggak ya?” Mayang bertanya-tanya dalam hati.

”Eh, kemaren ada tukang jualan baru di komplek. Gue ketemu pas gue barusan pulang dari mall. Bapaknya jualan kue-kue gitu,”cerita Claudia sambil menggigit tempe goreng yang dibelinya.
”Jualan apa?”tanya Mario.
”Kue-kue gitu,”jawab Claudia. Jantung Mayang serasa berhenti berdetak. Itu pasti ayahnya !
”Enak nggak? Jangan-jangan kue-kuenya nggak enak lagi!”komentar Icha.
”Lumayan lah. Enakan bikinan bapaknya daripada kue di kantin,”kata Claudia.
”Hah? Masa sih?”
”Penasaran gue...”
”Kapan-kapan gue beliin deh, pas kalian ke rumah gue,”kata Claudia.
”Eh, ntar pulang sekolah kan kita mau ngerjain tugas geografi di rumah lo,”kata Nico.
”Oh, iya. Semoga aja bapaknya lewat depan rumah,”kata Claudia.
”Lo mau ikut, Kar?”tiba-tiba Mario menawari Mayang. Mayang yang tengah minum segelas air terkejut dan nyaris saja tersedak. Cepat-cepat ia menggeleng.
”Nggak ah. Gue udah ngerjain tugasnya kok,”jawab Mayang cepat-cepat. Ikut? Yang benar saja! Itu sama saja memberi umpan pada buaya!

***

Sepanjang siang, Mayang terus menerus memandangi jalan depan rumahnya. Ibunya pergi ke pasar. Kakaknya belum pulang sekolah. Dan ayah pasti sedang berkeliling menjajakan dagangannya. Sejak tadi ia cemas memikirkan reputasinya di hadapan teman-temannya itu. Sisa-sisa kue tak disentuh sama sekali dan TV hanya dibiarkan menyala. Tapi ayahnya tak kunjung pulang.

Setengah jam kemudian terdengar suara motor butut ayahnya dari ujung gang. Mayang cepat-cepat berlari ke depan rumah dan menunggu ayahnya. Ia tak sabar menantikan kabar dari ayah. Dalam hati Mayang berharap banyak, semoga saja ayah tidak berjualan di komplek rumah Claudia.

”Mayang, ayo bantu ayah menurunkan keranjang-keranjang ini,”kata Ayah ketika sampai di rumah. Biasanya Mayang malas membantu ayahnya. Namun kali ini ia rela melakukan pekerjaan yang dianggapnya pekerjaan orang desa itu demi mendapatkan informasi dimana ayah berjualan.
”Kok cepet, yah?”tanya Mayang.
”Iya. Dagangan ayah diborong sama dua orang,”cerita ayah sambil mengelap keringat yang menetes di wajahnya dengan handuk.
”Ibu-ibu, yah?”tanya Mayang lagi.
”Waktu ayah berangkat, ada ibu-ibu yang lagi arisan. Kebetulan makanannya kurang. Jadi kue ayah diborong.”
”Trus kok ayah nggak langsung pulang?”
”Yah, dagangan ayah kan masih. Jadi ayah keliling ke komplek perumahan yang ayah ceritakan kemarin.” Mayang terbeliak kaget.
”Ternyata disana ada teman kamu, ya. Namanya.. uhm.. Claudia.”
”Ayah menjual kue kesana?” Mayang semakin kaget.
”Ya. Teman-temanmu itu orangnya baik dan ramah. Walaupun mereka orang kaya, mereka tetap mau makan kue bikinan Ayah. Biasanya kan mereka makan kue-kue yang mahal.”

Tapi Mayang justru semakin gelisah. Bocorlah sudah rahasiaku sebagai anak tukang kue, batin Mayang dengan masgul. Entah apa yang akan terjadi besok. Mayang tak bisa membayangkannya. Mungkin ia akan membolos saja supaya tidak usah bertemu dengan teman-temannya itu. Tapi alasan apa yang akan dipakainya? Lagipula ayah dan ibu pasti akan curiga dan menanyai Mayang macam-macam. Tidak mungkin ia berpura-pura sakit.

Esoknya Mayang sengaja menghindari tatapan teman-temannya. Ia masih malu dan khawatir kalau-kalau Claudia membocorkan rahasianya ke teman-teman sekelas. Begitu bel istirahat berbunyi, Mayang langsung bersiap ngacir ke perpustakaan, tempat yang dianggapnya jauh dari jangkauan Icha, Tita, Mario, Nico, ataupun Claudia.

”Sekaaaarr,”teriak Claudia dengan keras. Seisi kelas yang saat itu belum keluar langsung menoleh. Jantung Mayang langsung berdegup kencang sekali, sampai mau copot rasanya. ”Kok nggak pernah bilang sih kalau bokap lo jualan kue?!”
”Aduh, mati gue. Mayangang semua orang udah tau kalo ayah cuma seorang tukang kue,”kata Mayang dalam hati.
”Err.. ehm... gue...,”Mayang tak sanggup berkata-kata.
”Iya nih. Pantesan aja nggak pernah jajan di kantin,”timpal Icha.
”Selama ini lo nyimpan rahasia ya ! Jahat lo!”kata Claudia.
”Eh, sebenernya...”lagi-lagi Mayang tak sanggup melanjutkan omongannya. Apa yang harus ia katakan? Semua orang sudah mendengar kebenarannya dari mulut Claudia.
”Besok bawa dong, kue-kue buatan nyokap lo ke sekolah. Habis enak sih.. murah lagi,”kata Claudia.
”Iya, Kar. Masa diam-diam aja. Gue kan juga doyan tuh kue-kue enak,”tambah Nico.
”Iya, jahat lo, Kar. Padahal kan lo tau sendiri makanan kantin tuh nggak enak banget! Lagian harus capek-capek turun ke bawah. Coba lo bilang dari dulu,”kata Icha dengan tampang kesal.

Teman-teman Mayang dan Mayang sendiri tertawa mendengar ucapan Icha. Mayang mengangguk senang. Ah, ternyata menjadi anak tukang kue juga bisa sebahagia mereka yang ayahnya arsitek, dosen, pemilik dealer mobil, atau pemilik toko kelontong.