Showing posts with label loves and crushes. Show all posts
Showing posts with label loves and crushes. Show all posts

18 December 2014

Paradoks

picture source: here

di bawah kemengertian menyala-nyala
yang bersinar senantiasa apa adanya
di antara kata-kata dan hanya kamu yang mengerti
karena bagiku hanya gumam tanpa arti
engkau berdiri pasti, genggam tanganku
kau larang aku tertunduk lesu
kau memaksa aku bersuara
engkau paksa aku dongak kepala
engkau paksa aku lihat dunia
ini
walau apa terjadi
namun nyalimu pasti
di bawah hujan basahi kita,
di mana katak saja masuk rumahnya,
kau paksa aku melangkah maju
tak bosan kau berkata, "Pasti kamu
lebih dari sekedar basa-basi itu.
dan aku tahu dari kilau berlian di luar sana,
kau satu kilau menyala-nyala
bagiku"

18 March 2014

Hi, Hey, Hello!



"Oscar Wilde said that if you know what you want to be, then you inevitably become it - that is your punishment, but if you never know, then you can be anything. There is a truth to that. We are not nouns, we are verbs. I am not a thing - an actor, a writer - I am a person who does things - I write, I act - and I never know what I am going to do next. I think you can be imprisoned if you think of yourself as a noun."



26 February 2014

Si Shit Yang Menjadi Sweet

19 Februari 2014 kemarin menjadi hari yang tidak terlupakan bagi saya. Pertama, hari itu adalah peringatan meninggalnya eyang kakung. Sudah tujuh belas hari tepatnya eyang menghadap Sang Maha Kuasa. Saya masih ingat dengan jelas, eyang meninggal waktu saya TK karena memang sudah tua. Selain itu, eyang juga tidak bisa melihat karena terkena penyakit glaukoma. Saya tidak ingat bagaimana rasanya pada waktu itu karena saya baru berumur 5 tahun. Tapi kejadian pada waktu itu masih tergambar jelas di kepala saya, terlebih dulu setiap hari sabtu setelah pulang sekolah saya selalu diantar Bapak untuk menginap di rumah eyang, dan dijemput pada Minggu sorenya. Setelah eyang kakung meninggal, kebiasaan itu perlahan sirna.

Ah, sudahlah. Saya yakin sekarang Eyang bahagia di surga. Dan saya selalu berdoa untuknya.

Nah, alasan kedua mengapa 19 Februari menjadi hari yang tidak terlupakan bagi saya adalah: hari ini dua teman baik saya wisuda. Yang satu adalah Ana ‘Yayuk’ Martiana, dan yang satunya adalah Anastasia Herlina alias ‘kembaran’ saya. Sejak masuk kuliah, saya dengan Ana cukup dekat. Kami sering dolan bareng, wisata kuliner, foto-foto, titip-titipan absen, pinjam-pinjaman catatan, dan tak lupa adalah berkaraoke bersama. Dan sekarang dia wisuda duluan mendahului saya. I’m so happy and proud of you bos bro!! (Cumlaude meen.. Standing applause!!)


Saya juga berbahagia dengan wisuda ‘kembaran’ saya, Lina. Yah, meskipun hampir semuanya sama (this is so weird,  meskipun bukan kembar beneran tapi banyak hal yang mirip,  bahkan model hp dan tv pun sama), sepertinya wisuda kita tak sama. Bagi saya tak mengapa, saya turut berbahagia. Dan semoga saya segera menyusul besok Mei yaa..


Di balik hiruk pikuk wisuda, tidak sengaja saya bertemu dengan teman lama.

“Woooyy mbak.. ngapain ke kampus?”
“Ya apa lagi. Ketemu dosen dong. Mumpung wisuda gini pasti dosen-dosen pada dateng.”
“Emang skripsinya belom selesai?”
“Ngece! Ya belom lah. Kalo udah juga ngapain ke kampus nyariin dosen.”
“Kirain.. Kamu sih mbak, angkatan tua tapi gak lulus-lulus. Adik angkatanmu aja udah banyak yang wisuda. Masa kalah sama angkatan bawah.”
“Asemik!!”

Awal perbincangan kami di dalam lift tersebut membawa kami pada obrolan panjang. Dia memang kakak angkatan saya, beberapa kali kami mengambil mata kuliah ulangan yang sama. Setelah itu dia menghilang selama hampir dua tahun. Dengar-dengar ia sekarang bekerja pada sebuah instansi yang cukup besar. Sambil duduk di ruang tunggu dosen, ia mulai bercerita soal uneg-unegnya, keluh kesahnya yang tidak pernah diceritakannya pada saya. Tentang dunia kerjanya yang menjadi fokus perhatiannya sekarang, tentang bagaimana ia berjuang sedemikian keras sehingga mencapai posisi atas, tentang kegiatan-kegiatan organisasi yang dijalaninya dan dilakukannya dengan sepenuh hati, dan juga tentang skripsinya yang tak kunjung selesai padahal sudah lebih dari dua tahun berlalu sejak ia mulai mengerjakan proposal.

Mendengar cerita itu, rasanya seperti mendengarkan cerita tentang diri saya sendiri.

Saya membutuhkan hampir dua tahun untuk menyelesaikan skripsi. Setengah tahun pertama, saya mulai mempersiapkan penelitian yang akan saya lakukan. Hasil obrolan dengan ibu membuat saya mendapat ide penelitian. Tidak sulit, berawal dari obrolan di sebuah warung makan, topik itu bermula. Kebetulan saya juga sudah mengambil mata kuliah yang membahas mengenai topik tersebut. Lengkaplah sudah.

Tapi itu baru awal.

Saya mencoba menemui beberapa teman yang saya rasa memahami permasalahan yang saya maksudkan tersebut. Tapi semakin banyak berdiskusi, saya semakin bingung. Akibat kebingungan saya, akhirnya saya menghadap dosen dan menceritakan fenomena yang ingin saya teliti tersebut. Tampaknya Bapak dosen juga tidak begitu paham dengan apa yang saya kemukakan, jadi beliau menyuruh saya untuk langsung membuat proposal penelitian.

Mati!!

Saya kembali ke rumah dan menceritakan permasalahan saya pada Ibu. Tentu saja, ibu saya langsung menyuruh saya untuk segera membuat proposal agar saya bisa segera menghadap dosen dan mulai bimbingan. Hampir semalaman saya berdiskusi dengan ibu, yang ada saya justru semakin bingung.

Saya datang ke perpus dan membaca buku A. Saya menemukan bahwa teori A tidak relevan dengan fenomena yang saya teliti. Lalu saya berganti buku B, ternyata teori C lebih tepat digunakan untuk penelitian saya. Hal tersebut berulang-ulang dan pada akhirnya saya tidak mendapatkan apa-apa. Buku-buku yang saya baca tidak lagi berguna.

Satu bulan...

Dua bulan...

Tiga bulan...

Empat bulan...

Beberapa bulan kemudian..

Saya mulai merasa lelah karena apa yang saya kerjakan tidak kunjung selesai. Saya juga merasa jenuh karena saya tidak beranjak kemana-mana dan pembahasan saya masih stuck di hal yang sama. Setiap kali memandang tumpukan draft proposal, rasanya ingin menghela nafas berat dan berharap tumpukan kertas tersebut dapat menghilang seketika.

Kemudian, seakan Tuhan menjawab doa saya, tiba-tiba ada tawaran untuk bergabung pada beberapa organisasi. Saya tanpa pikir panjang langsung mendaftar dan menjadi bagian dari organisasi tersebut. Harapan saya tidak muluk-muluk, supaya rasa stuck saya pada skripsi dapat teralihkan dengan kegiatan-kegiatan organisasi. Kebetulan sekali, program organisasi tersebut sangat saya sukai dan saya benar-benar ingin terjun total dalam organisasi tersebut.

Benar saja.

Hal tersebut menyita waktu saya. Pagi hari saya ke perpustakaan dengan membawa laptop, meminjam setumpukan buku dan meletakkannya di samping laptop saya. Tapi yang saya lakukan selama di perpus bukanlah mengerjakan skripsi, melainkan browsing dan chatting dengan teman-teman saya. Hal itu saya lakukan hampir setiap hari, dari pukul 9 pagi sampai pukul 12 siang. Jam 1 saya akan pulang atau makan siang bersama teman atau pacar. Setelah itu pulang dan beristirahat sebentar. Mulai pukul 7 malam, dengan bersemangat saya akan keluar dari rumah untuk beraktifitas di organisasi yang saya ikuti. Kadang kegiatan tersebut baru berakhir pukul 11 atau 12 malam. Hampir setiap hari.

Bagaimana rasanya? Tentu saja senang dong! Selama beberapa bulan saya menikmati senangnya berorganisasi dan berkegiatan sana sini, tanpa menghiraukan skripsi saya lagi. Saya yakin pacar dan orangtua saya pasti sudah geleng-geleng kepala melihat kelakuan (dan keras kepalanya) saya waktu itu. 

Lalu bencana itu datang...

Dosen Pembimbing Skripsi tiba-tiba menghubungi saya dan menyuruh saya untuk segera menghadap beliau. Duh, mati iki rek. Skripsiku nanggrok berbulan-bulan. Mana stuck begitu. Demi kelancaran bimbingan, akhirnya saya berkonsultasi pada ibu. Yang ada malah saya dimarahi habis-habisan. Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Tapi untunglah akhirnya saya menemukan jalan keluar. Karena saya tidak juga menemukan titik temu dari permasalahan yang ingin saya teliti, akhirnya saya memutuskan untuk merubah semuanya dan memulai dari awal. Toh sama saja, daripada saya stuck dan akhirnya tidak mendapatkan hasil apa-apa.

Jadilah saya harus berjuang setengah mati untuk menemukan topik baru yang sesuai dengan keinginan saya. Juga harus berjuang setengah mati untuk tune-in lagi pada sesuatu yang sudah lama saya tinggalkan. Sulit memang, apalagi untuk mengembalikan mood saya yang lama hilang.

Demi melancarkan skripsi saya, akhirnya saya memutuskan untuk kerja rodi. Melepas semua kegiatan organisasi dan tetek bengeknya, termasuk ketika godaan untuk mulai crafting muncul lagi.

Demi skripsi, saya rela memangkas habis aktifitas-aktifitas saya di luar kegiatan skripsi. Setiap hari saya ke perpus dari jam 9 dan benar-benar mengerjakan skripsi. Tak jarang saya harus jadi orang pertama yang datang dan menjadi orang terakhir yang pergi. Setelah itu saya pulang ke rumah dan melanjutkan aktifitas saya tersebut hingga larut malam. Saya hanya akan keluar rumah jika tujuannya adalah ke perpustakaan untuk mencari bahan-bahan skripsi atau ke kampus menemui dosen pembimbing atau ke tempat-tempat yang dapat membantu saya lebih cepat menyelesaikan skripsi. Bahkan seringkali saat kencan dengan pacar pun masih juga mengobrolkan topik skripsi. Buku-buku literatur tebal yang tadinya jadi 'bantal' pun menemani saya setiap hari. Juga bergelas-gelas kopi agar saya tetap terjaga.

Sulitnya bukan main. Apalagi jika godaan datang silih berganti. Organisasi memanggil saya dengan sebuah tugas baru. Lalu ada kursus ini itu yang ingin saya lakukan. Lalu godaan untuk berkaraoke atau bermain-main dengan teman-teman. Semua itu saya tahan agar kebodohan saya di masa lampau tidak terulang. Lebih mudah bagi saya untuk meninggalkan saja skripsi itu. Tapi saya tetap harus mengerjakan skripsi itu kan? Mau tidak mau saya harus menyelesaikannya kalau saya masih berniat untuk lulus dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

Saya percaya pengorbanan saya akan berbuah manis.
Lihat besok deh, kalau sudah pendadaran.
Hehehe.

#WishMeLuck

01 February 2014

Feeling Twenty-Two


Source: here


I am officially twenty two today!!

Sangat berterimakasih pada Tuhan atas delapan ribu tiga puluh hari alias dua puluh tahun yang telah diberikan. 
Yang pada setiap harinya tentu saja saya tidak selalu bisa memahami hidup dengan baik.
Hari ini adalah akhir dan juga awal, I am closing twenty one and starting twenty two. Pada setiap episode kehidupan yang telah diputar dan para pemeran, saya sangat sangat bererimakasih. Kalian membuat saya menjadi seperti sekarang.

I am grateful I have people (family, friends, and boyfriend) to share all that I am with. 
I enjoy life, and I delight in learning from it, and siphoning from it everything it has to offer.
And a lot of things I do today have been 22 years in the making.
And still, I don’t think I’m there just yet…but there is no doubt that I’m very close. This Close!

Thanks again to everyone who wished me a happy birthday.  It was just another reminder of the overwhelming support that I have enjoyed even from over thousands of miles away.  I had no idea that so many people would go ahead and send me a message, it meant a lot to me so thank you very much!


*Maaf lagi nggak bisa nulis proper hehe. Will be back very soon with another post. Cheers ;)*



21 January 2014

To Be A Mother




Saya tidak pernah membayangkan bagaimana rasanya menjadi seorang ibu. Bahkan ketika sekarang saya sudah memasuki masa dimana saya sudah harus mulai nyicil mempersiapkan pernikahan, saya tetap tidak bisa membayangkan seperti apa rasanya. Bagaimana nanti jika sudah berkeluarga, bagaimana jika nanti hamil dan punya anak, bagaimana nantinya saya dengan keluarga suami saya, bagaimana saya dengan masyarakat, apakah saya harus menjadi ibu rumah tangga full time atau saya harus mengejar karir. Membayangkannya saja sudah membuat saya mengernyitkan alis. Getting married sounds so scary, for me.

Mungkin saya yang terlalu berlebihan. Atau mungkin saya terlalu banyak menonton acara gosip atau sinetron di televisi. Tapi rasanya menjadi seorang ibu itu mengerikan.  Yes, mungkin saya yang terlalu berlebihan.

Ibu saya adalah seorang ibu yang nggak mau ribet. Bukan tipe ibu-ibu yang seneng belanja, baik ke mall atau ke pasar. Bukan tipe ibu-ibu yang rajin dan pintar memasak dan suka bereksperimen dengan berbagai resep masakan (harus saya akui, masakan bapak lebih enak daripada masakan ibu :D). Bukan ibu-ibu yang suka dandan. Dan tentu saja bukan ibu-ibu yang suka nonton acara gosip dan suka nangis kalo nonton sinetron. Ibu saya jauh dari gambaran ibu-ibu ideal masa kini. She said 'Aku bukan ibu-ibu mainstream'.

Ibu saya adalah seorang dosen di sebuah universitas swasta di Kota Yogyakarta. Sehari-hari beliau bekerja dari pagi hingga sore (tapi untungnya masih punya banyak waktu untuk keluarganya). Ibu saya lebih suka pakai kaos oblong, celana jeans, dan sepatu boot daripada memakai rok span dan blazer yang kinyis-kinyis. Urusan make up, ibu saya nggak mengenal yang namanya eyeshadow dan mascara. Cukup bedak dan lipstick berwarna merah terang. 

Ibu sendiri mengakui bahwa dirinya bukan ibu-ibu kebanyakan, bukan ibu-ibu idaman, dan dalam urusan mengurus rumah tangga, beliau bukan panutan yang baik :p.

Duh.. jadi besok aku harus berguru pada siapa?

Terbiasa hidup dengan ibu yang nyentrik membuat pikiran saya menjadi nyentrik juga hahaha. Lewat perbincangan dengan ibu, saya mendapat banyak gambaran mengenai hidup berkeluarga; bagaimana kita tetap harus menjadi diri kita sendiri, bagaimana kita tetap harus melakukan hal-hal yang kita sukai, bagaimana kita harus tetap berkarier, untuk mengejar cita-cita, untuk berkarya, dan yang paling penting adalah bagaimana mendapatkan karier yang bagus sekaligus juga dekat dengan keluarga.

It's not easy, though.

Kalau saya pribadi sih pengennya tetap berkarir. Percuma dong kuliah sampai S1 tapi nggak memanfaatkan ilmu yang didapat. Saya pengen berkarya dan bisa menginspirasi banyak orang. Tapi saya juga pengen berkeluarga - pengen punya anak(-anak) dan pengen ngerasain gimana ribetnya jadi ibu rumah tangga. Tapi tapi tapi..eh..kayaknya belum siap juga sih.

Makanya saya selalu kagum sama ibu rumah tangga full time. Bangun tidur sampai tidur lagi ngurusin keluarga. Rutinitas yang selalu sama, gitu-gitu doang, dan dilakukan sejak menikah sampai tua. Apa nggak bosen ya? Kalau saya sih sudah pasti bakalan bosen abis. Hahahaha. 

Menjadi ibu kok kayaknya berat ya. Berbagai macam pikiran dan ketakutan datang silih berganti di benak saya. Bisakah saya melewati ini semua? Bisakah saya nantinya menjadi ibu yang baik, istri yang baik, dan wanita karir yang baik pula? Mungkin jawabannya baru bisa saya temukan tiga atau empat tahun lagi. Ketika saya (akhirnya) berani memutuskan untuk berkeluarga.

Sekarang ngurusin skripsi dulu aja deh, biar cepet pendadaran.

15 December 2013

Selamat Tidur, Anakku




“Hari sudah malam.
Matahari sudah lama tidur.
Bulan sudah tinggi.
Begitu pula dengan bintang di langit.
Kau masih menonton pertandingan bola dengan ayahmu.
Kalian berteriak senang.
Rupanya tim bola kesukaan kalian menang lagi.
GOOOLLLL
Senyum itu masih juga menyambangi wajahmu bahkan ketika kau bersiap tidur
Dengan semangat, kau bercerita sambil menyikat gigimu
Lalu berganti piyama yang sudah kusiapkan sejak tadi di tempat tidur
Kau masih saja berceloteh
Tentang petualanganmu mengejar layang-layang
Tentang film kesukaanmu yang tak pernah bosan kau tonton
Tentang hadiah yang diberikan ayahmu saat ia pulang kerja
Aku pun tersenyum.
Aku bahagia jika kau bahagia

Malam ini
Akan kuiringi tidurmu
Dengan alunan musik dari radio
Tchaikovsky, The Beatles, John Mayer, bahkan Rhoma Irama
Dan akan kubacakan dongeng pengantar tidur kesukaanmu
Kisah tentang tiga babi kecil dan seekor serigala
Kita akan berbagi peran
Kau yang jadi babinya, dan aku akan berperan sebagai serigala
‘tok tok tok, babi kecil, bolehkah aku masuk’ dengan suara berat kutirukan serigala itu
Kau pun akan tertawa gelak-gelak
Dalam hati aku tersenyum
Senang rasanya jika kau tertawa
Bersamaan dengan berakhirnya cerita, kau pun tertidur
Kukecup keningmu dan kuselimuti kau supaya tidurmu nyenyak
Lalu kumatikan lampu dan kututup pintu kamarmu
Selamat tidur sayang, semoga tidurmu nyenyak
Semoga bermimpi indah”

Sayup-sayup terdengar suara lain. Suara ibuku
“Bangun nduk!  Jangan tidur di meja. Tugasmu itu udah selesai belum?”

20 November 2013

When You Try Your Best But You Don't Succeed



Saya sudah membayangkan,
pada hari ini saya akan bangun pagi-pagi sekali lalu berangkat ke make up artist langganan keluarga saya. Lalu berdandan dengan make up semi pale dan kebaya warna hitam hasil rancangan saya sendiri. Pukul tujuh saya akan bergabung dengan teman-teman lain di Graha Sabha Pramana, sudah berbaju lengkap dengan jubah dan toga. Selama beberapa jam kemudian saya akan menikmati saat-saat membosankan sekaligus mendebarkan dalam hidup saya (karena moment ini hanya terjadi sekali dalam seumur hidup saya), menunggu nama saya dipanggil dengan penuh kesabaran. Dan ketika nama saya disebut, saya akan maju ke depan dengan penuh percaya diri dan dengan mantab menerima gelar S.Sos itu di belakang nama saya.

Tapi... 

Hal itu tidak terjadi. Tidak pada hari ini.

Cita-cita saya untuk dapat wisuda di Bulan November rupanya tidak dapat terwujud. Rencana yang sudah saya rencanakan tidak dapat berjalan sesuai dengan keinginan. Sedih? Iya. Kecewa? Sedikit. Kesal? Mungkin. Lalu saya mulai menyalahkan diri sendiri. Menyalahkan waktu yang berlalu begitu cepat. Menyalahkan kesenangan yang membelenggu saya sehingga saya terlena untuk waktu yang lama. Dan tentunya menyalahkan diri saya sendiri, mengapa saya harus mengikuti keinginan duniawi sehingga melupakan apa yang menjadi kewajiban saya, menyelesaikan skripsi. 

Proses saya dalam mengerjakan skripsi bisa dibilang lambat. Sangat lambat. Saya sudah memiliki topik sekitar satu tahun lalu. Dari hasil mengobrol dengan ibu di sebuah warung makan, saya menemukan topik yang menurut saya menarik untuk diteliti: tentang bagaimana masyarakat bisa tertarik pada mobil bernama Avanza sehingga mobil tersebut bisa menjadi 'mobil sejuta umat'. Hal tersebut terlintas karena kami melihat banyaknya mobil dengan merk tersebut yang berseliweran di jalan. Dengan segera saya memutuskan topik tersebut untuk menjadi bahan skripsi saya.

Waktu berjalan, rupanya hal itu hanya menjadi wacana. Saya memang gegabah karena memutuskan untuk mengambil topik tersebut tanpa memikirkan lebih jauh, apakah saya bisa mengerjakan skripsi dengan topik tersebut, apakah saya benar-benar tertarik dengan topik itu, dan apakah saya blend dengan topik yang saya pilih.

Ternyata tidak.

Selama beberapa minggu, bahkan bulan, saya terkatung-katung tanpa progress. Bingung mau mengerjakan apa. Bingung apakah yang ingin saya teliti tersebut sesuai dengan hati saya (karena menulis adalah soal hati, bukan? *ngeles*). Dan bingung apakah saya bisa menyelesaikan topik yang saya teliti tersebut. Sampai akhirnya saya menyadari bahwa saya sudah tertinggal jauh. Perbincangan dengan teman baik saya, Dewi membuka mata saya akan banyak hal, yang sudah sejak lama saya tinggalkan. Dan saya sudah terlambat. Sangat sangat terlambat.

Dengan tertatih, saya mencoba mengumpulkan serpihan semangat yang hilang. Lalu memberanikan diri untuk memulai sesuatu yang baru, untuk menulis skripsi dengan topik yang baru. Topik yang benar-benar saya inginkan. Saya sudah cukup sering menulis dan hal tersebut bukanlah hal yang sulit bagi saya. Tetapi ternyata saya menemukan sesuatu, bahwa menulis skripsi tidaklah semudah menulis artikel atau menulis blog. Skripsi membutuhkan konsistensi dan ketelatenan. Berhubung saya ini bosenan, topik skripsi yang saya pilih seharusnya adalah topik yang benar-benar saya sukai dan mempunyai chemistry yang kuat dengan diri saya sendiri. 

Tidak mudah untuk melakukan hal tersebut. Saya sudah menulis proposal dan sudah mengajukan proposal tersebut pada dosen. Menggantinya dengan yang baru bukanlah hal yang mudah. Saya harus mengulang dari awal, membutuhkan waktu yang lebih banyak untuk mengerjakannya lagi. Belum lagi saya harus menghadapi dosen dan belum tentu beliau bersedia membimbing saya dengan topik saya yang baru. Berbagai asumsi muncul dalam pikiran saya, tetapi akhirnya saya memutukan untuk 'YA! I CHANGED MY TOPIC' dengan segala konsekuensinya. Termasuk jika pada hari ini saya tidak dapat wisuda.

"This life is pretty sounds like your hair… My hair, everyone’s hair. When they grow healthy and beautiful, you keep them on. But sometimes they just went wrong and dry, damaged, hurting… You just cut them off. You need to, right? In relationship, love and friends and dreams. Just believe that even you cut them for many times, they will keep growing when you let them to."
-from Clara Devi’s blog LuceDale.

Saya belajar menerima kekalahan saya, karena kesalahan saya sendiri. Tetapi saya belajar, bahwa saya harus berani membuat perubahan. Saya harus berani 'memotong' sesuatu yang salah demi sebuah perubahan baru yang lebih baik. Meskipun saya harus mengulang dari awal, meskipun saya harus bersusah payah lagi, saya percaya bahwa akan ada hal baik yang menanti saya di depan. Sekarang adalah waktunya mewujudkan keinginan saya itu. Dan saya akan memastikan pada kesempatan kali ini saya akan berjuang dengan keras dan tidak akan menyerah begitu saja. Semoga bukan sekedar kata-kata. Saya memang pernah melakukan kesalahan, tetapi saya belajar untuk bangkit lagi dan berjuang untuk kesempatan berikutnya. Semoga bulan Februari besok saya yang akan diwisuda. Amin dong ya. Semoga Tuhan merestui rencana saya itu hehehe.

Anyway, happy graduation my dear friends Khalida Noor, S.Sos., Umi Latiefah, S.Sos., Happy Kurniawati, S.Sos. Chasing a dream requires efforts, passion and hard work. You are now in the half way. Keep up your good work and continue to strive! May God’s graces be with you as you step ahead towards your dreams. Keep the courage as you face new challenges in life. Congratulations! We are proud of you! :')

Dan semoga saya segera menyusul. Besok Februari. Amin!

Happy Graduation guys! Congrats. Happy for you xoxo


Xoxo

30 October 2013

Love's Lookin' Good On You


I knew right away from the very first kiss
That it doesn't get much better than this
We fit just like a favorite pair of jeans
We just keep coming back for more
Like two kids in a candy store
Now I know what everybody means
When they say

Love, love, love's lookin' good, good, good on you

:D

10 September 2013

The Storm


 "Kadang-kadang nasib ibarat badai pasir kecil yang terus menerus berubah arah. Kau mengubah arahmu tetapi badai pasir itu terus mengejarmu. Kau berbalik, badai itu tetap mengikutimu. Kau melakukan hal yang sama terus menerus, seakan menari-nari dengan kematian menjelang fajar. Mengapa? Karena badai ini bukanlah sesuatu yang bertiup dari kejauhan. Bukan sesuatu yang tidak ada hubungannya denganmu. Badai ini adalah dirimu sendiri. Sesuatu yang ada dalam dirimu. Jadi yang dapat kau lakukan hanyalah menyerah, masuk ke dalam badai itu, menutup mata serta telingamu, sehingga pasirnya tidak dapat masuk, lantas berjalan melewatinya langkah demi langkah. Tidak ada matahari, tidak ada bulan, tidak ada petunjuk, tidak ada waktu. Hanya pasir putih yang berputar-putar naik ke angkasa laiknya tulang-belulang yang hancur lebur. Itulah badai pasir yang mesti kau bayangkan."

"Dan kau benar-benar harus mampu melewati badai yang hebat itu. Tak peduli berapapun hebatnya badai itu, jangan sampai salah: ia akan sanggup menembus tubuhmu seperti seribu silet tajam. Orang-orang akan berdarah, dan kau pun akan berdarah. Darah yang merah dan panas. Kau akan mengusap darah itu dengan kedua tanganmu, darahmu sendiri dan darah orang lain. Dan begitu badai berenti, kau tidak akan ingat bagaimana kau telah melewatinya, bagaimana pula kau mampu bertahan. Malahan sebenarnya kau tak yakin badai itu sudah benar-benar berhenti. Tapi satu hal yang pasti, setelah kau berhasil keluar dari badai itu, kau tidak bakal menjadi orang yang sama. Itulah tujuan dari badai tersebut."

(Kafka On The Shore - Haruki Murakami) 

 
 
 


05 September 2013

Perfect Selfishness


"...I'm looking for selfishness. Perfect selfishness. Like, say, I tell you I want to eat strawberry shortcake. And you stop everything you're doing and run out and buy it for me. And you come back out of breath and get down on your knees and hold this strawberry shortcake out to me. And I say I don't want it anymore and throw it out the window. That's what I'm looking for"
"I'm not sure that has anything to do with love," I said with some amazement.
"It does," she said. "You just don't know it. There are times in a girl's life when things like that are incredibly important."
"Thinks like growing strawberry shortcake out the window?"
"Exactly. And when I do it, I want the man to apologize to me. 'Now I see, Midori. What a fool I've been! I should have known that you would lose your desire for strawberry shortcake. I have all the intelligence and sensitivity of a piece of donkey shit. To make it up to you, I'll go out and buy you something else. What would you like? Chocolate mousse? Cheesecake?'"
"So then what?"
"So then I'd give him all the love he deserves for what he's done."
"Sounds crazy to me."
"Well, to me, that's what love is. Not that anyone can understand me, though." Midori gave her head a little shake against my shoulder. "For a certain kind of person, love begins from something tiny or silly. From something like that or it doesn't begin at all."



-from Haruki Murakami's Norwegian Wood-

02 September 2013

Hello September


Month of August is already over. Starts of the month of September. Wow, how time flies so fast, seems a month was over in just a snap.

September is already here. Ber month is already started wherein in fee months Christmas is here. Looking forward for something great this month could offer. Hoping for something better this month in-store for everyone of us. 

As of the moment, the start of September here seems to be fine so far. The weather is fine and nice, the sun is up in the sky so bright but not so hot. Nice weather to walk, to wash clothes which I plan to do today, just fine enough to do things outside. 

Have a great September you all. Let's enjoy the bubbling

16 July 2013

Goodbye, Louie





12 July 2013, the day Louie back to his home.

Louie, thank you for being my best friend. 
Thank you for being part of my family. 
Thank you, for stay in our side for almost three years.
You're such a good-messy-fluffy-naughty monsterboy,
but you gave us cheer and smile

Rest in peace my beloved Louie. 
I'll miss you but I know you'll find peace in heaven. 
Good bye
We love you very much

So hard to face that you're gone now..
:((

07 May 2013



You can't deny the feeling that you feel. The old habits are the one that make you who you are right now. I secretly wanting to believe that memories are beautiful. And every good times and bad times are lessons that we will never ever, ever forget. My first and only mistake, you.

♥


I'm in the 4th year of my college now. I can't believe it.. I'm going to finish college in no time guys. I'm excited yet scared too. But no, I'm waaaaaay excited. The scared thingy is just a little feeling that came up everytime I thought "Wow another 3 months and I'm going to stand in Graha Sabha wall, wearing kebaya and jarik, and I got my S.Sos (ameeeen).." but yes, I'm excited. I can't wait for my real life. I know it's too much ya. But hey, you got to be excited about something in order to get the energy to face the things you gotta face, right? So yes, I'm so busy with lots of college stuff, skripsi. God, life is hard.

So many things happened. Every thing changes so fast. Everything is a blink ahead. That's one thing that I learn most of all. Appreciate anything, I mean, everything that I got now. I'm trying to find my happiness now. Never thought it'd be this hard lately. I spend my days trying to hide the dizziness in my head. I laugh, I scream, I make jokes. Sometimes it helps, but the moment when I'm alone, they are come: my bad thoughts, my sadness, my guilts, and the silence strikes to my life again. I can't fake it if I'm writing it. This is a one chance where I can put all out my feelings, I can say whatever I want about how I feel, and if anyone ever read it, I don't mind. I'm fine with it. Maybe, just maybe...

Happiness is not easy to find. That's the first thing I found when I'm trying to find it. The more I try to find what happiness is, the more sadness got in to my head. It's a mindfuck thing, I know. But at least I'm trying. I'm happy for what I have and what I am living for right now. My life is not perfect but it's enough. Blessings come every day. Therefor, I'm hoping that happiness is not far away to reach.

Bitterness always caught me in the right place and time. Like this exact moment, when I'm writing this, I am desperately listening to John Mayer' songs. Blues always has its own ways to make me suffer. I hate it. But I'm enjoying it too. You know how the say "feel it, don't run from it, for what you feel now will not come back again" I'm trying my best to do that. I don't want to run from what I have to feel. I promise myself to feel everything that I need to feel. Just like dealing with the problems that I have to face. Is it because of love? Or simply because of life? Or is this the part where happiness strikes me at my lowest point? I don't know. I don't want to know. I'm just gonna enjoy this moment while it lasts.

I'm planning about something right now. I'm excited but I feel very bitter. Empty. Remembering all things happened last year, I want to make things right again. I have to make it better than the last.




19 February 2013

Mengapa Senja Sore Ini Begitu Dangkal?

Menemanimu menjamah malam
dan meninggalkanmu sendiri
merayap dalam kilauan kuning kemerah-merahan
begitu dekat kamu dengan satuan itu,
menyentuh ujungnya dan menelan perlahan
menimbulkan perubahan romantisme di petang ini
disana kamu tenggelam,
menjalani ketentuan-ketentuan yang tak bisa engkau tinggalkan
kau tau ....
aku merindukanmu sesudahnya,
yang menghilang dalam tiga detik
mengungkap perasaan menyerah
yang hilang dalam serambi petang

Sore ini engkau begitu dekat, dangkal dengan batasan air
entah dengan esok,
bisa saja engkau menjauh atau lebih dekat denganku
menyentuh setiap sisi yang teragungkan oleh kenyataan

Sore ini engkau begitu indah
dan aku hanya berharap
di senja selanjutnya, engkau kembali dekat denganku
mampukah?

Kenapa senja sore ini begitu dangkal?

24 January 2013

“Dia, yang tidak pernah kamu mengerti. Dia, racun yang membunuhmu perlahan. Dia, yang kamu reka dan kamu cipta. Sebelah darimu menginginkan agar dia datang, membencimu hingga muak dia mendekati gila, menertawakan segala kebodohannya, kehilafan untuk sampai jatuh hati kepadamu, menyesalkan magis yang hadir naluriah setiap kalian berjumpa. Akan kamu kirimkan lagi tiket bioskop, bon restoran, semua tulisannya --dari mulai nota sebaris sampai doa berbait-bait. Dan beceklah pipi-nya karena geli, karena asap dan abu dari benda-benda yang dia hanguskan--bukti bahwa kalian pernah saling tergila-gila--beterbangan masuk ke matanya. Semoga dia pergi dan tak pernah menoleh lagi. Hidupmu, hidupnya, pasti akan lebih mudah.” 
― Dee, Filosofi Kopi: Kumpulan Cerita dan Prosa Satu Dekade

23 January 2013




“Biarlah hati ini patah karena sarat dengan beban, dan biarlah dia meledak karena ketegangan. Pada akhirnya perbuatan manusia menentukan, yang mengawali dan mengakhiri. Bagiku, kata-kata hiburan hanya sekedar membasuh kaki. Memang menyegarkan. Tapi tiada arti. Barangkali pada titik inilah kita berpisah.. 

(Arus Balik, h. 669)” ― Pramoedya Ananta Toer

29 December 2012

Bumby Puppies

It's almost end of year already! Gosh is it just me but isn't day is seems faster and faster each day? it's already in the end of December! In couple days we will say goodbye to 2012. And it still a non-stop rainy day. I'm not complaining, I love rainy day. There's something romantic and gloomy about it that I love. But turn out my body is disagree with my mind, I get sick easily in this kind of weather. Bad influenza and fever is killing. Keep yourself healthy and safe, guys. Take care of yourself. 

Well, this is Cici and her six puppies. Five are female and one male. We had expected to get a new puppy around January. But last Christmas the six babies were born. That soft fur, those floppy ears, that quizzical look that draws an "awww" from the most hardened cynic. Yes, puppies are cute. Christmas happiness for Cici and Louie, and of course the whole family :')