27 February 2011

Tentang Menunggu

kau pernah ajari aku
kalau hujan bukan untuk diraba,
tapi untuk dirasa
saat itu kau suruh aku pejamkan mata
dan mengulurkan tangan keluar jendela
saat itu hujan sedang deras luar biasa
kau suruh aku rasakan nada-nada
detak-detak hujan, katamu saat itu
kau suruh aku bebaskan pikiran
katamu aku orang yang rentan
dan kau tahu apa, saat itu apa kau kata benar adanya
aku merasa bebas,
aku sungguh merasa lepas
tapi sayang sungguh faktanya,
kau tak pernah tahu apa kurasa.

kau pernah ajari aku
kalau udara bukan hanya untuk dihirup
hanya itu katamu tidak hidup
kau bicara bahwa aku bisa membaui udara
lalu aku bisa bedakan mana oksigen dan karbon dioksida
kau juga berkata oksigen adalah untuk ku bernapas
seperti layaknya padi pada kapas
seperti layaknya tinta pada kertas
kau ajari aku hirup udara
selayaknya akau harus lepas derita
hei, tahukah kamu,
ketika kita bersama habiskan waktu,
sangat mudah rasanya itu.
semudah aku bernapas,
semudah tertawa lepas,
seperti yang kau ajarkan tempo hari
bahwa aku harus belajar menertawai diri sendiri
bahwa aku jangan terlalu kaku,
harus santai bawa hidupku,
harus maju bawa kakiku
dan tahukah kamu,
setelah itu pandanganku pada dunia jadi berubah
semua jadi terasa lebih indah
seperti embun pada daun-daun basah
sayang kau tak pernah tahu apa-apa kurasa setelah itu,
segala-gala dalam isi hatiku.

kau pernah ajari aku bagaimana cara merindu
bagaimana seseorang dapat berharga
bagaimana seseorang ubah lainnya
kau ajari aku untuk lanjutkan hidup
bagaimana tidak menyerah,
bagaimana tidak pasrah
kau ajari aku merasa, membau, bernapas, merindu
namun setelah itu,
adakah kau tahu dalam hatiku?

kau pernah berkata:
oksigen untukku bernapas,
lalu kubisa tertawa lepas,
bersama burung dan anai-anai topas.
suaramu selembut sutera,
ajari aku untuk bicara.
tapi kau tak pernah tahu apa kurasa.