28 July 2011

#Kaleidoskop

Hujan di luar seperti lukisan yang dibingkai jendela. Jatuh satu-persatu, ritmis ke kolong udara. Beberapa yang lain membuat bunyi-bunyian di atas atap. Semacam iring-iringan orkestra.

Dari dalam kamar, aku melesatkan pandangan keluar. Pohon jambu yang basah, langit abu-abu dan titik-titik air yang sedang menari balet. Mengangkat kakinya tinggi-tinggi. Tapi sebenarnya bukan itu yang kulihat. Yang nampak di depan mata adalah bayangan teramat jauh di ujung sana. 

Hujan tiba-tiba menjadi sebuah teropong tembus pandang, meski terhalang oleh berbagai lekuk bumi, rumah, dan jajaran pohon, seakan-akan aku bisa melihatmu. Nyata. Dirimu menggumpal nyata di dalam mata.

Tapi ini adalah sebuah kesialan. Jika kau mau tahu, sebenarnya bukan itu yang kuinginkan saat ini. Aku tak ingin membiarkan bayangmu sibuk di depan mataku.

Kau mau tahu yang kumau? Aku ingin menembak bayanganmu yang di depan mataku itu dengan pistol, hingga mati. Menyeretnya, lalu menghanyutkannya ke sungai. Menjauhkan hatimu dari hatiku, sejauh fisik kita saat ini. Menyuntik kepalaku dengan cairan penghilang ingatan. Agar tak ada satu bytepun memory tentangmu yang tersisa di otak ini.

Semalam kita telah bicarakan tentang kemana kapal yang kita naiki ini akan berlayar. Hendak terus menuju pulau, atau kita karamkan disini saja.

Kita adalah budak dari sebuah kisah roman picisan. Berawal dari pertemuan tak terencana, lalu percakapan yang tak ada habisnya. Kita lalui jalan setapak itu bersama-sama, beriringan, bergandengan tangan. Karena terlalu asik dan tak hati-hati, tanpa sadar kita berdua jatuh dalam sebuah jurang. Cinta. Kita tak bisa bangun, kecuali tenggelam atau terperosok dalam di dalamnya.

Kemudian kita putuskan untuk terus berlayar saja, berjanji untuk bersama-sama mengayuh, hingga Pulau Terakhir. Namun belum ada beberapa jam kita mendayung, sesuatu memanggilmu dari atas sana. Dari langit abu-abu. Sebuah janji yang dulu pernah kau pelihara, yang telah lama menghilang, tiba-tiba datang lagi. Memanggilmu lagi. Mengajakmu terbang lagi. Kau bingung, sesuatu dalam kepalamu berputar-putar seperti gasing, kau ingin terus berlayar denganku, tapi kau juga tak ingin membunuh dirimu dengan janjimu sendiri.

Kau belum bisa memutuskan hendak kemana kau akan berjalan, kecuali itu sungai-sungai dari mata mengalir deras menuju pipimu. Aku tak ingin berlayar sendirian, tapi aku juga tak bisa membiarkanmu larut dalam pusaran dilema. Aku tahu tubuhmu cuma satu, tak bisa membagi wujudmu menjadi beberapa bagian dalam waktu yang sama, maka aku putuskan untuk menyuruhmu pulang saja. Menyelamatkanmu dari janjimu sendiri. Aku lebih memilih jalan luka lebih awal, daripada, nyeri di penutupnya.

Aku putuskan untuk berjalan sendiri. Meski sepi, aku telan ia bulat-bulat sebagai makan malam hari ini. Lalu satu-persatu di antara kita saling membelakangi. Menjarakkan diri. Tujuan utama hari ini dan esok hari adalah membersihkan kandungan dirimu dari dalam tubuhku. Pergilah, aku rahmati engkau malam ini.

***

Jam-jam mengajak bercakap dalam bahasa bayangan.

Entah kenapa aku seperti sedang bermain boomerang. Aku melemparkan cinta itu ke depan tapi dia kemudian berbalik, kembali lagi padaku. Aku sudah berusaha untuk mengacuhkanmu, memberi jarak paling jauh antara kepalaku dan bayanganmu, tapi semakin kuacuhkan, seakan aku makin dipaksa memasukkan tubuhmu bulat-bulat ke dalam kepalaku.

Malam itu aku tak merasa mendapat ilham dari siapapun, tapi entahlah, tiba-tiba seperti ada yang menuntun kakiku untuk melangkah ke hutan maya, berjalan, menikung, lalu singgah dalam rumah facebookmu.

Menepi aku disana, wajah dalam profilmu itu seakan-akan hidup. Dia tersenyum, matanya mencari mataku, lalu menangkapnya. Tanganmu seakan-akan keluar pula dari layar itu. Mendekat padaku, menyentuh pipiku. Membelai malamku.

Hatiku menjadi jajaran perkusi yang sedang ditabuh bersama-sama. Ramai, ribut dalam sini. Kekacauan dalam dada.

Ah. Aku terlalu hanyut. Buru-buru aku menyadarkan diri.

Aku seperti sedang diperebutkan oleh diriku sendiri yang lain. Satu diriku ingin menjadi jarak terjauhmu, sedang satu yang lain berusaha untuk menjadi angka nol jarakmu.

Kemudian aku mencoba melihat apa yang sebenarnya ada di dalam hati. Kubuka, dan kutengok, disana masih ada sekuntum rindu dan sekotak cinta untukmu yang belum tersampaikan.

Sebuah bayang tiba-tiba berkelebat.