20 November 2013

When You Try Your Best But You Don't Succeed



Saya sudah membayangkan,
pada hari ini saya akan bangun pagi-pagi sekali lalu berangkat ke make up artist langganan keluarga saya. Lalu berdandan dengan make up semi pale dan kebaya warna hitam hasil rancangan saya sendiri. Pukul tujuh saya akan bergabung dengan teman-teman lain di Graha Sabha Pramana, sudah berbaju lengkap dengan jubah dan toga. Selama beberapa jam kemudian saya akan menikmati saat-saat membosankan sekaligus mendebarkan dalam hidup saya (karena moment ini hanya terjadi sekali dalam seumur hidup saya), menunggu nama saya dipanggil dengan penuh kesabaran. Dan ketika nama saya disebut, saya akan maju ke depan dengan penuh percaya diri dan dengan mantab menerima gelar S.Sos itu di belakang nama saya.

Tapi... 

Hal itu tidak terjadi. Tidak pada hari ini.

Cita-cita saya untuk dapat wisuda di Bulan November rupanya tidak dapat terwujud. Rencana yang sudah saya rencanakan tidak dapat berjalan sesuai dengan keinginan. Sedih? Iya. Kecewa? Sedikit. Kesal? Mungkin. Lalu saya mulai menyalahkan diri sendiri. Menyalahkan waktu yang berlalu begitu cepat. Menyalahkan kesenangan yang membelenggu saya sehingga saya terlena untuk waktu yang lama. Dan tentunya menyalahkan diri saya sendiri, mengapa saya harus mengikuti keinginan duniawi sehingga melupakan apa yang menjadi kewajiban saya, menyelesaikan skripsi

Proses saya dalam mengerjakan skripsi bisa dibilang lambat. Sangat lambat. Saya sudah memiliki topik sekitar satu tahun lalu. Dari hasil mengobrol dengan ibu di sebuah warung makan, saya menemukan topik yang menurut saya menarik untuk diteliti: tentang bagaimana masyarakat bisa tertarik pada mobil bernama Avanza sehingga mobil tersebut bisa menjadi 'mobil sejuta umat'. Hal tersebut terlintas karena kami melihat banyaknya mobil dengan merk tersebut yang berseliweran di jalan. Dengan segera saya memutuskan topik tersebut untuk menjadi bahan skripsi saya.

Waktu berjalan, rupanya hal itu hanya menjadi wacana. Saya memang gegabah karena memutuskan untuk mengambil topik tersebut tanpa memikirkan lebih jauh, apakah saya bisa mengerjakan skripsi dengan topik tersebut, apakah saya benar-benar tertarik dengan topik itu, dan apakah saya blend dengan topik yang saya pilih.

Ternyata tidak.

Selama beberapa minggu, bahkan bulan, saya terkatung-katung tanpa progress. Bingung mau mengerjakan apa. Bingung apakah yang ingin saya teliti tersebut sesuai dengan hati saya (karena menulis adalah soal hati, bukan? *ngeles*). Dan bingung apakah saya bisa menyelesaikan topik yang saya teliti tersebut. Sampai akhirnya saya menyadari bahwa saya sudah tertinggal jauh. Perbincangan dengan teman baik saya, Dewi membuka mata saya akan banyak hal, yang sudah sejak lama saya tinggalkan. Dan saya sudah terlambat. Sangat sangat terlambat.

Dengan tertatih, saya mencoba mengumpulkan serpihan semangat yang hilang. Lalu memberanikan diri untuk memulai sesuatu yang baru, untuk menulis skripsi dengan topik yang baru. Topik yang benar-benar saya inginkan. Saya sudah cukup sering menulis dan hal tersebut bukanlah hal yang sulit bagi saya. Tetapi ternyata saya menemukan sesuatu, bahwa menulis skripsi tidaklah semudah menulis artikel atau menulis blog. Skripsi membutuhkan konsistensi dan ketelatenan. Berhubung saya ini bosenan, topik skripsi yang saya pilih seharusnya adalah topik yang benar-benar saya sukai dan mempunyai chemistry yang kuat dengan diri saya sendiri. 

Tidak mudah untuk melakukan hal tersebut. Saya sudah menulis proposal dan sudah mengajukan proposal tersebut pada dosen. Menggantinya dengan yang baru bukanlah hal yang mudah. Saya harus mengulang dari awal, membutuhkan waktu yang lebih banyak untuk mengerjakannya lagi. Belum lagi saya harus menghadapi dosen dan belum tentu beliau bersedia membimbing saya dengan topik saya yang baru. Berbagai asumsi muncul dalam pikiran saya, tetapi akhirnya saya memutukan untuk 'YA! I CHANGED MY TOPIC' dengan segala konsekuensinya. Termasuk jika pada hari ini saya tidak dapat wisuda.

"This life is pretty sounds like your hair… My hair, everyone’s hair. When they grow healthy and beautiful, you keep them on. But sometimes they just went wrong and dry, damaged, hurting… You just cut them off. You need to, right? In relationship, love and friends and dreams. Just believe that even you cut them for many times, they will keep growing when you let them to."
-from Clara Devi’s blog LuceDale.

Saya belajar menerima kekalahan saya, karena kesalahan saya sendiri. Tetapi saya belajar, bahwa saya harus berani membuat perubahan. Saya harus berani 'memotong' sesuatu yang salah demi sebuah perubahan baru yang lebih baik. Meskipun saya harus mengulang dari awal, meskipun saya harus bersusah payah lagi, saya percaya bahwa akan ada hal baik yang menanti saya di depan. Sekarang adalah waktunya mewujudkan keinginan saya itu. Dan saya akan memastikan pada kesempatan kali ini saya akan berjuang dengan keras dan tidak akan menyerah begitu saja. Semoga bukan sekedar kata-kata. Saya memang pernah melakukan kesalahan, tetapi saya belajar untuk bangkit lagi dan berjuang untuk kesempatan berikutnya. Semoga bulan Februari besok saya yang akan diwisuda. Amin dong ya. Semoga Tuhan merestui rencana saya itu hehehe.

Anyway, happy graduation my dear friends Khalida Noor, S.Sos., Umi Latiefah, S.Sos., Happy Kurniawati, S.Sos. Chasing a dream requires efforts, passion and hard work. You are now in the half way. Keep up your good work and continue to strive! May God’s graces be with you as you step ahead towards your dreams. Keep the courage as you face new challenges in life. Congratulations! We are proud of you! :')

Dan semoga saya segera menyusul. Besok Februari. Amin!

Happy Graduation guys! Congrats. Happy for you xoxo


Xoxo