26 February 2014

Si Shit Yang Menjadi Sweet

19 Februari 2014 kemarin menjadi hari yang tidak terlupakan bagi saya. Pertama, hari itu adalah peringatan meninggalnya eyang kakung. Sudah tujuh belas hari tepatnya eyang menghadap Sang Maha Kuasa. Saya masih ingat dengan jelas, eyang meninggal waktu saya TK karena memang sudah tua. Selain itu, eyang juga tidak bisa melihat karena terkena penyakit glaukoma. Saya tidak ingat bagaimana rasanya pada waktu itu karena saya baru berumur 5 tahun. Tapi kejadian pada waktu itu masih tergambar jelas di kepala saya, terlebih dulu setiap hari sabtu setelah pulang sekolah saya selalu diantar Bapak untuk menginap di rumah eyang, dan dijemput pada Minggu sorenya. Setelah eyang kakung meninggal, kebiasaan itu perlahan sirna.

Ah, sudahlah. Saya yakin sekarang Eyang bahagia di surga. Dan saya selalu berdoa untuknya.

Nah, alasan kedua mengapa 19 Februari menjadi hari yang tidak terlupakan bagi saya adalah: hari ini dua teman baik saya wisuda. Yang satu adalah Ana ‘Yayuk’ Martiana, dan yang satunya adalah Anastasia Herlina alias ‘kembaran’ saya. Sejak masuk kuliah, saya dengan Ana cukup dekat. Kami sering dolan bareng, wisata kuliner, foto-foto, titip-titipan absen, pinjam-pinjaman catatan, dan tak lupa adalah berkaraoke bersama. Dan sekarang dia wisuda duluan mendahului saya. I’m so happy and proud of you bos bro!! (Cumlaude meen.. Standing applause!!)


Saya juga berbahagia dengan wisuda ‘kembaran’ saya, Lina. Yah, meskipun hampir semuanya sama (this is so weird,  meskipun bukan kembar beneran tapi banyak hal yang mirip,  bahkan model hp dan tv pun sama), sepertinya wisuda kita tak sama. Bagi saya tak mengapa, saya turut berbahagia. Dan semoga saya segera menyusul besok Mei yaa..


Di balik hiruk pikuk wisuda, tidak sengaja saya bertemu dengan teman lama.

“Woooyy mbak.. ngapain ke kampus?”
“Ya apa lagi. Ketemu dosen dong. Mumpung wisuda gini pasti dosen-dosen pada dateng.”
“Emang skripsinya belom selesai?”
“Ngece! Ya belom lah. Kalo udah juga ngapain ke kampus nyariin dosen.”
“Kirain.. Kamu sih mbak, angkatan tua tapi gak lulus-lulus. Adik angkatanmu aja udah banyak yang wisuda. Masa kalah sama angkatan bawah.”
“Asemik!!”

Awal perbincangan kami di dalam lift tersebut membawa kami pada obrolan panjang. Dia memang kakak angkatan saya, beberapa kali kami mengambil mata kuliah ulangan yang sama. Setelah itu dia menghilang selama hampir dua tahun. Dengar-dengar ia sekarang bekerja pada sebuah instansi yang cukup besar. Sambil duduk di ruang tunggu dosen, ia mulai bercerita soal uneg-unegnya, keluh kesahnya yang tidak pernah diceritakannya pada saya. Tentang dunia kerjanya yang menjadi fokus perhatiannya sekarang, tentang bagaimana ia berjuang sedemikian keras sehingga mencapai posisi atas, tentang kegiatan-kegiatan organisasi yang dijalaninya dan dilakukannya dengan sepenuh hati, dan juga tentang skripsinya yang tak kunjung selesai padahal sudah lebih dari dua tahun berlalu sejak ia mulai mengerjakan proposal.

Mendengar cerita itu, rasanya seperti mendengarkan cerita tentang diri saya sendiri.

Saya membutuhkan hampir dua tahun untuk menyelesaikan skripsi. Setengah tahun pertama, saya mulai mempersiapkan penelitian yang akan saya lakukan. Hasil obrolan dengan ibu membuat saya mendapat ide penelitian. Tidak sulit, berawal dari obrolan di sebuah warung makan, topik itu bermula. Kebetulan saya juga sudah mengambil mata kuliah yang membahas mengenai topik tersebut. Lengkaplah sudah.

Tapi itu baru awal.

Saya mencoba menemui beberapa teman yang saya rasa memahami permasalahan yang saya maksudkan tersebut. Tapi semakin banyak berdiskusi, saya semakin bingung. Akibat kebingungan saya, akhirnya saya menghadap dosen dan menceritakan fenomena yang ingin saya teliti tersebut. Tampaknya Bapak dosen juga tidak begitu paham dengan apa yang saya kemukakan, jadi beliau menyuruh saya untuk langsung membuat proposal penelitian.

Mati!!

Saya kembali ke rumah dan menceritakan permasalahan saya pada Ibu. Tentu saja, ibu saya langsung menyuruh saya untuk segera membuat proposal agar saya bisa segera menghadap dosen dan mulai bimbingan. Hampir semalaman saya berdiskusi dengan ibu, yang ada saya justru semakin bingung.

Saya datang ke perpus dan membaca buku A. Saya menemukan bahwa teori A tidak relevan dengan fenomena yang saya teliti. Lalu saya berganti buku B, ternyata teori C lebih tepat digunakan untuk penelitian saya. Hal tersebut berulang-ulang dan pada akhirnya saya tidak mendapatkan apa-apa. Buku-buku yang saya baca tidak lagi berguna.

Satu bulan...

Dua bulan...

Tiga bulan...

Empat bulan...

Beberapa bulan kemudian..

Saya mulai merasa lelah karena apa yang saya kerjakan tidak kunjung selesai. Saya juga merasa jenuh karena saya tidak beranjak kemana-mana dan pembahasan saya masih stuck di hal yang sama. Setiap kali memandang tumpukan draft proposal, rasanya ingin menghela nafas berat dan berharap tumpukan kertas tersebut dapat menghilang seketika.

Kemudian, seakan Tuhan menjawab doa saya, tiba-tiba ada tawaran untuk bergabung pada beberapa organisasi. Saya tanpa pikir panjang langsung mendaftar dan menjadi bagian dari organisasi tersebut. Harapan saya tidak muluk-muluk, supaya rasa stuck saya pada skripsi dapat teralihkan dengan kegiatan-kegiatan organisasi. Kebetulan sekali, program organisasi tersebut sangat saya sukai dan saya benar-benar ingin terjun total dalam organisasi tersebut.

Benar saja.

Hal tersebut menyita waktu saya. Pagi hari saya ke perpustakaan dengan membawa laptop, meminjam setumpukan buku dan meletakkannya di samping laptop saya. Tapi yang saya lakukan selama di perpus bukanlah mengerjakan skripsi, melainkan browsing dan chatting dengan teman-teman saya. Hal itu saya lakukan hampir setiap hari, dari pukul 9 pagi sampai pukul 12 siang. Jam 1 saya akan pulang atau makan siang bersama teman atau pacar. Setelah itu pulang dan beristirahat sebentar. Mulai pukul 7 malam, dengan bersemangat saya akan keluar dari rumah untuk beraktifitas di organisasi yang saya ikuti. Kadang kegiatan tersebut baru berakhir pukul 11 atau 12 malam. Hampir setiap hari.

Bagaimana rasanya? Tentu saja senang dong! Selama beberapa bulan saya menikmati senangnya berorganisasi dan berkegiatan sana sini, tanpa menghiraukan skripsi saya lagi. Saya yakin pacar dan orangtua saya pasti sudah geleng-geleng kepala melihat kelakuan (dan keras kepalanya) saya waktu itu. 

Lalu bencana itu datang...

Dosen Pembimbing Skripsi tiba-tiba menghubungi saya dan menyuruh saya untuk segera menghadap beliau. Duh, mati iki rek. Skripsiku nanggrok berbulan-bulan. Mana stuck begitu. Demi kelancaran bimbingan, akhirnya saya berkonsultasi pada ibu. Yang ada malah saya dimarahi habis-habisan. Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Tapi untunglah akhirnya saya menemukan jalan keluar. Karena saya tidak juga menemukan titik temu dari permasalahan yang ingin saya teliti, akhirnya saya memutuskan untuk merubah semuanya dan memulai dari awal. Toh sama saja, daripada saya stuck dan akhirnya tidak mendapatkan hasil apa-apa.

Jadilah saya harus berjuang setengah mati untuk menemukan topik baru yang sesuai dengan keinginan saya. Juga harus berjuang setengah mati untuk tune-in lagi pada sesuatu yang sudah lama saya tinggalkan. Sulit memang, apalagi untuk mengembalikan mood saya yang lama hilang.

Demi melancarkan skripsi saya, akhirnya saya memutuskan untuk kerja rodi. Melepas semua kegiatan organisasi dan tetek bengeknya, termasuk ketika godaan untuk mulai crafting muncul lagi.

Demi skripsi, saya rela memangkas habis aktifitas-aktifitas saya di luar kegiatan skripsi. Setiap hari saya ke perpus dari jam 9 dan benar-benar mengerjakan skripsi. Tak jarang saya harus jadi orang pertama yang datang dan menjadi orang terakhir yang pergi. Setelah itu saya pulang ke rumah dan melanjutkan aktifitas saya tersebut hingga larut malam. Saya hanya akan keluar rumah jika tujuannya adalah ke perpustakaan untuk mencari bahan-bahan skripsi atau ke kampus menemui dosen pembimbing atau ke tempat-tempat yang dapat membantu saya lebih cepat menyelesaikan skripsi. Bahkan seringkali saat kencan dengan pacar pun masih juga mengobrolkan topik skripsi. Buku-buku literatur tebal yang tadinya jadi 'bantal' pun menemani saya setiap hari. Juga bergelas-gelas kopi agar saya tetap terjaga.

Sulitnya bukan main. Apalagi jika godaan datang silih berganti. Organisasi memanggil saya dengan sebuah tugas baru. Lalu ada kursus ini itu yang ingin saya lakukan. Lalu godaan untuk berkaraoke atau bermain-main dengan teman-teman. Semua itu saya tahan agar kebodohan saya di masa lampau tidak terulang. Lebih mudah bagi saya untuk meninggalkan saja skripsi itu. Tapi saya tetap harus mengerjakan skripsi itu kan? Mau tidak mau saya harus menyelesaikannya kalau saya masih berniat untuk lulus dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

Saya percaya pengorbanan saya akan berbuah manis.
Lihat besok deh, kalau sudah pendadaran.
Hehehe.

#WishMeLuck