08 December 2011

Karena Isyarat Adalah Bahasa Hati Yang Terlupa


"Aku sampai di bagian bahwa aku telah jatuh cinta. Namun orang itu hanya dapat kugapai sebatas punggungnya saja. Seseorang yang hadir sekelebat bagai bintang jatuh yang lenyap keluar dari bingkai mata sebelum tangan ini sanggup mengejar. Seseorang yang hanya bisa kukirimi isyarat sehalus udara, langit, awan, atau hujan"(Dewi Lestari, Hanya Isyarat)



Sepertinya isyarat itu tidak pernah sampai padamu ya?
Buktinya, saya sudah ngos-ngosan seperti ini, tapi kamu tetap bergeming.
Sekarang pertanyaan saya, cuma kamu yang bergeming, atau hatimu juga ikut bergeming?

"Bagaimana kita bisa tahu,
kapan waktunya untuk menyerah
dan kapan waktunya untuk bertahan?"

Saya tidak tahu. Benar-benar tidak tahu.
Karena itu tolong beritahu saya.
Karena saya hanya ingin ritme hati saya kembali seperti semula.