26 July 2012

Tragic Tuesday


Kadang-kadang kita nggak pernah nyangka ya, apa yang terjadi pada kita itu peringatan untuk orang lain atau untuk diri kita sendiri. This is note to myself, dengan cerita yang saya alami kemaren.

Sebenernya mengendarai motor sudah bukan hal yang asing buat saya, karena setiap hari saya selalu keluar menggunakan motor kesayangan saya, Si Merah. Saya baru dikasih motor pribadi ketika saya ulang tahun ke 17. Bokap-nyokap saya memutuskan saya sudah cukup dewasa untuk mengendarai motor sendiri. Sebenernya alasannya karena mereka sibuk dan kerepotan kalau harus mengantar-jemput saya dan adik-adik saya kemana-mana, terlebih saya yang rempong harus mampir kesana-kesini.

Basicaly, mengendarai motor itu gampang. Memacu kecepatan itu sangat gampang. Yang susah adalah bagaimana mengendalikan dan mengurangi kecepatan. Dan hal itulah yang berulang kali nyokap teriakkan di telinga saya. Saya mendengar tapi saya bukan pelaksana yang baik. How come? Ya, begitulah, kadang kita sulit membedakan mana yang disebut mendengar dengan jelas dan mana yang disebut mengerti dengan jelas. Dan ternyata saya memang baru sampai pada tahap mendengar dengan jelas, belum sampai pada tahap melaksanakan. Hal ini terbukti dan berkali-kali saya kecelakaan karena alasan yang lucu dan menggemaskan, such as:
* jatuh di depan rumah gara-gara standart belom dinaikin (It happened two times)
* nabrak pohon tetehan tetangga gara-gara ngeliat ada anjing lucu lagi jalan-jalan
* nubruk ayam tetangga padahal cuma bawa motor dengan kecepatan 10km per jam (HOW COME!!)

Itu baru beberapa kejadian konyol dari sekian banyak kejadian yang ada. Bisa dibilang all side motor saya sudah pernah merasakan baretan dan tabrakan.

Yang paling parah adalah yang terjadi 2 hari lalu. Ceritanya saya turun ke Jogja dari lokasi KKN (di Putat, Gunung Kidul). Kalo perjalanan jauh gitu biasanya perlengkapan saya lengkap, mulai dari masker, kaos kaki, jaket, dan tak lupa headset. Ini kebiasaan buruk saya yang sudah berulang kali diingatkan nyokap. "Jangan dengerin musik kalo lagi di jalan. Bahaya". Dan sekali lagi, peringatan itu cuma masuk telinga kiri keluar telinga kanan.

Perjalanan saya dari jalan wonosari yang berliku berjalan mulus. Sampai akhirnya saya tiba di barat Pasar Piyungan. Depan saya ada mobil pick up yang nabrak motor. Otomatis saya langsung ngerem kan. Tapi motor belakang saya rupanya nggak berhati-hati. Akhirnya saya tertabrak dari belakang, kedorong, dan buukk jatoh deh. Motor rusak di bagian depan dan belakang. Tapi untunglah saya nggak kenapa-kenapa. Cuma memar dan tangan kiri terkilir.

Kalau saja mobil pick up di depan saya nggak nabrak motor depan, mungkin saya nggak bakalaan ngerem mendadak, dan motor belakang saya nggak bakalan nabrak, dan saya nggak bakalan jatuh. Tapi kalo ngga gitu, saya ngga bakal sadar untuk tidak mendengarkan musik di jalan dan lebih berhati-hati lagi. Emang sebenernya Tuhan udah ngasih peringatan, cuma saya aja yang nggak mendengarkan dan nggak  mau melaksanakan. Pelajaran untuk saya, supaya nggak cuma mendengarkan tapi juga melaksanakan nasehat orang tua. Dan yang paling penting adalah, berhati-hatilah di jalan. Kecerobohan kita bisa bikin celaka, nggak cuma diri kita sendiri, tapi juga orang lain :)