22 November 2011

Bibit Bebet Bobot

Tiga kata ini kedengarannya old, kuno, eyang-eyang banget, sesuatu yang dirasa aneh di jaman modern ini. Pemilihan bibit bebet bobot dapat diaplikasikan pada banyak hal, tapi yang paling sering adalah dalam memilih jodoh slash pasangan hidup.

Okay, I'm gonna explain more about these things.

Menurut sumber ini, arti bibit adalah rupa (harafiah: asal-usul, keturunan atau bibit pula seperti dalam bahasa Indonesia). Arti bebet adalah keluarga, lingkungan, dengan siapa teman-temannya. Dan arti bobot adalah nilai pribadi atau diri yang bersangkutan. disini termasuk kepribadian, pendidikan dan kepintarannya, pekerjaan juga nilai pribadi seperti gaya hidup dan iman. Bobot juga berhubungan dengan tingkat pendapatannya. Ketiga hal ini selalu dipesankan oleh Eyang-eyang dan Mama-mama dari suku Jawa buat anak-cucu-cicitnya yang mau menikah. Termasuk saya.

Kenapa?
Believe me, it works.

Kenapa juga ngomongin soal bibit bebet bobot?
Ini semua gara-gara temen saya yang tiba-tiba nanyain 'Kalo disuruh milih, mending pacar yang ganteng tapi gak tajir atau tajir tapi gak ganteng?'

Tanpa pikir panjang, saya jawab kalau itu bukan pilihan, sama ketika pacar nanya 'kamu milih aku atau kegiatanmu' (oops ).
Dan sekonyong-konyong saya dibilang nggak realistis.
JEDER!


Saya nggak paham sejauh mana nggak-realistis-nya statement saya tadi, ditambah saya juga nggak paham pasangan seperti apa yang mereka bilang realistis. Apakah yang realistis itu adalah sosok pria tampan berhidung mancung, tinggi 180 cm, berkulit putih, sixpack, keturunan ningrat, anak pengusaha kaya, lulusan S3 Kedokteran universitas ternama, rajin beribadah, berkepribadian baik, dan dari keluarga baik-baik? Terlalu sempurna, dan sinetron banget! Hahaha. Tapi menurut saya memang ada beberapa hal yang perlu digarisbawahi dalam memilih pasangan, atau ada beberapa kriteria bibit-bebet-bobot yang harus dipenuhi, menurut saya:
  1. Seiman
    Alasannya sederhana. Kalau pasangan saya seiman, pasti enak diajakin ke Gereja bareng atau ngerayain Natalan bareng, dan yang paling penting adalah dia nggak bakalan protes kalau saya terlalu banyak ikut kegiatan Gereja (fyi, Gereja itu sudah seperti rumah kedua saya, dan seluruh hidup saya lebih banyak dihabiskan disana hehe). Bukan berarti yang beda itu nggak bagus. Bukan gitu. Justru saya sangat menghargai perbedaan. Cuma ada beberapa hal yang bakalan bikin rempong kalo kita beda, terutama kalau sudah mau serius menikah. Serius loh.
  2. Open minded, fleksibel, demokratis, dan easygoing
    Saya nggak suka orang yang 100% lurus, kaku, konservatif, dan terlalu protektif. It's 2011 hell-oow. It's so last year! Orang dengan kepribadian seperti itu bukan tipe saya banget deh. Ini dikarenakan saya punya teman yang tidak cuma perempuan, tetapi juga laki-laki, dimana saya juga sering hang out dengan mereka. Ditambah lagi saya juga termasuk orang yang ceplas-ceplos dan *jujur* suka misuh. Kan nggak lucu banget kalau pacar saya selalu ngelus dada tiap kali saya ngomong. 
  3. Berkepribadian baik dan cerdas
    Kriteria ini PPKN banget: sikap baik, bukan anak gaul (maksudnya bukan anak club mobil atau 'dugem is my lifestyle'), nggak suka pamer, apa adanya, rajin membantu ibu, suka menolong sesama, rajin menabung, menghargai orang lain, sayang keluarga, penuh semangat, berpikiran positif, setrikaannya halus hahaha. Yah, semua orang pasti punya sisi baik dalam hidupnya kan?

    Dan cerdas! Nggak harus secerdas Albert Einstein atau Thomas Alfa Edison. Bukaaaaaannnn.. Cerdas disini adalah mampu berpikir logis dan kreatif. Serta rajin menimba ilmu. Karena buat saya, kita nggak boleh berhenti belajar. Dan saya mau dia juga begitu hehehe.

    Saya nggak tahu harus jelasin gimana lagi soal penilaian nomer 3 ini. Yang jelas, family man selalu berhasil membuat saya terpesona.
  4. Dan ini yang paling penting: toleran dengan kegiatan saya yang sangaaaaaaaaaaattttt banyak
    Saya termasuk busy person. Saya paling benci nggak ada kerjaan dan sendirian, makanya saya selalu  punya kegiatan atau mencari-cari kegiatan yang bisa saya lakukan. Termasuk di malam minggu. Hehehe
Ganteng, apalagi tajir, nggak masuk dalam kriteria bibit-bebet-bobot versi saya. Karena buat saya, dua hal itu sifatnya fluktuatif. Nggak kekal. Dan cuma bonus. Alhamdullilah kalau misalnya dapet pacar yang ganteng dan tajir, tapi kalau misalnya enggak, ya nggak masalah, karena itu bukan prioritas. Saya lebih suka memulai dari nol bersama pasangan. Ngerasain gimana jatuh-bangun, bikin pondasi, menjaga biar rumah yang kita bangun itu nggak goyah walaupun diterpa angin topan, ngerasain gimana berjuang, susah-sedih-bahagia bersama, buat saya itu lebih worthed.

picture taken from here
People say, love is so objective.
Although when we talk about the feeling it self, we used to be so subjective, self oriented, selfish, and irrational.
It’s no matter if u’re so mature, well, or -intelligent.
When it comes to love, who really cares about the right or wrong, the logical, the rules?
All we know is just loving and loving, although sometimes it hurts so much.
But we’d rather stand to live in pain than stand to live with no air rite?
The love, is the air
See? Kriteria bibit-bebet-bobot versi saya masih dalam taraf wajar dan rasional. Di dunia ini memang nggak ada yang sempurna. Kira-kira beginilah kriteria pemilihan pasangan versi saya. Nggak berlebihan, dan wajar. Berminat mendaftar? Saya single loooh hahahaha .