09 March 2012

Cerpen: Karena Dia Raymond


Kantin Sekolah, 2 Desember 2006
“Dorr!!!”sambil menyodorkan semangkuk bakso Raymond duduk di 
sebelahku. “Mikirin apaan sih, Ren?”
Kalau saja semangkuk bakso itu tidak ada, mungkin sekarang aku akan melarikan diri ke kelas atau mencari-cari alasan supaya aku tidak perlu berbicara dengan Raymond.
“Tugas Bahasa Indonesia,”otakku berputar untuk mencari alasan. “Sampai sekarang aku masih heran. Padahal aku udah ngerjain tugas itu susah payah. Aku juga udah kerja mati-matian. Tapi kenapa aku cuma dapet nilai 6?”
“Karena kamu masih kurang,”Raymond menyodorkan teh botol padaku. “Makan dong. Aku udah pesenin tuh buat kamu. Aku yang traktir deh,”
Raymond tersenyum kepadaku. Yang kubalas dengan senyum manis.
“Makasih. Tapi aku masih nggak bisa terima, Ray. Padahal si Lina aja yang ceritanya aneh aja nilainya bisa bagus.”
“Yah, itu berarti dia lagi beruntung,”
“Tapi aku tetep nggak terima. Karyanya dia tuh nggak ada apa-apanya kalo dibandingin sama cerpen-cerpen yang dimuat di majalah.”
“Ya jangan dibandingin sama yang di majalah dong.”
“Nggak bisa. Dimana-mana karya yang masuk majalah tuh udah pasti bagus kan?”
“Iya. Tapi kan itu majalah, bukan Pak Joko.”
“Pak Joko kan guru Bahasa Indonesia, harusnya dia tau dong cerpen mana yang bagus?!”kataku berapi-api.
“Ya.. mungkin menurut Pak Joko cerpennya si Lina itu bagus, makanya dia dapet nilai bagus.”
“Aah, masa gitu sih? Emangnya kamu udah liat karyanya dia?”
“Udah,”jawab Raymond sambil makan baksonya. “Yah, menurut aku karyanya dia sih lumayan. Cuma mungkin Pak Joko suka sama karyanya dia. Udah lah, Ren, enggak usah dipikirin. Mendingan kamu berusaha biar nilai tugas besok lebih bagus dari yang kemarin.”

Astaga! Jadi selama ini aku enggak nyadar kalau karyaku itu jelek. Kenapa sih enggak ada yang bilang? Padahal kan aku yakin banget kalau aku bakalan dapat nilai bagus. Kakakku memang sangat menyebalkan!! Jadi kemarin itu dia cuma ngerjain aku? Kurang ajar!!! Ah, sudahlah, semua ini sudah terjadi. Percuma aku marah-marah, toh nilaiku tak akan berubah.
“Makasih ya, Ray, udah nasehatin aku.”
“Nasehatin gimana?”
“Ya gitu deh. Pokoknya kamu udah bikin aku sadar dan aku nggak akan nyerah sebelum aku dapat nilai 10.” 

Raymond tersenyum melihat ulahku. Mungkin aku ini seperti anak kecil yang baru saja mendengar bahwa aku akan diajak pergi ke istana negri dongeng. Yang dengan cepat melupakan apa yang membuatnya kesal. 

Kelasku, 4 Desember 2006
“Happy Birthday!!!!!!”teriakku pada Raymond sambil memberikan kado yang kubungkus rapi dan dihiasi oleh pita berwarna biru. Kado itu kelihatan manis sekali. Dari kemarin aku sibuk cari kado buat Raymond. Agak susah sih, tapi untungnya kakakku mau bantuin. Semoga aja dia suka.
“Aduh, makasih ya, Ren,”kata Raymond tersenyum senang.
“Eit, jangan seneng dulu. Traktirannya mana?”tanyaku dengan senyum penuh harap.
“Ya deh, nanti pulang sekolah aku traktir kamu makan,”akhirnya Raymond 
membalas setelah berpikir sejenak.
“Asyiiikk!!!”kataku sambil melonjak-lonjak kegirangan.
“Tapi cuma kamu doang ya,”
“Beres boss!!”

Baru 2 hari aku dekat dengan Raymond. Sebelumnya aku nyaris tak pernah berbicara dengannya. Hanya sesekali menyapa atau hanya berbicara jika perlu. Dulu kupikir Raymond itu orangnya ngebosenin dan enggak menarik. Ternyata dugaanku salah. Selain cakep dan pinter, Raymond asyik banget diajak ngobrol. Sepertinya dia tahu semua hal. Kadang-kadang aku merasa seperti semut kecil yang berbicara dengan gajah bila aku bercakap-cakap dengannya. Karena aku sendiri merasa pengetahuanku tidak cukup bila dibandingkan dengan Raymond. Untungnya, Raymond ini baik hati, jadi dia tak pernah membicarakan sesuatu yang aku tak mengerti, seperti olahraga basket.

Lapangan Basket…  pulang sekolah        
“Renata, kamu tunggu disini sebentar. Aku mau ngasih formulir ini ke Pak Josh,”kata Raymond sambil mengeluarkan selembar kertas dari ranselnya. Pak Josh itu pelatih basketnya sekolah aku. Terutama buat tim basketnya. Kebetulan banget Raymond ini sang kapten basket jadi dia deket sama Pak Josh. 
“Yuk,”ajak Raymond setelah dia memberikan formulir kepada Pak Josh.
“Formulir apaan sih?”tanyaku penasaran.
“Itu, formulir Kejurnas,”jawab Raymond.
“Kejurnas???”aku mengoreksi ucapannya. “Serius kamu ikutan Kejurnas?”
“Iya dong. Besok lusa aku berangkat,”kata Raymond bersemangat. “Nanti waktu pertandingan kamu harus nonton lho.”

Aku berdecak tak percaya. Mungkinkah seorang Raymond nan baik hati dan pintar itu berhasil memenangkan piala Kejurnas? Kalaupun benar, pasti akan ada cewek-cewek yang mengelilinginya. Dan aku? Bagaimana denganku? Masa dia tega meninggalkanku sendirian disaat aku membutuhkan bantuannya? Aku kan butuh teman curhat. Aku butuh teman ngobrol yang nyambung denganku. Dan satu-satunya orang yang nyambung cuma Raymond. Lantas kalau dia pergi bagaimana?????

“Bagus dong. Aku ikut senang kamu berhasil ikut Kejurnas.”
Aku mencoba tetap tersenyum padahal sebenarnya aku sedikit kecewa pada Raymond. Aku tahu, ikut Kejurnas basket adalah impiannya sejak kecil. Jadi aku harus mendukungnya. Aku tak boleh menghalangi dia mengikuti Kejurnas itu. Toh, kalau misalnya dia menang, aku kan juga ikut bahagia?

***

“Ren, gue mau tanya, nih. Lo suka nggak sih sama Raymond?”tanya Felicia pada suatu hari. “Seandainya dia nembak lo, lo terima dia enggak?”
Seandainya saja Felicia bukan sepupu Raymond, aku langsung mengiyakannya. 
“Jawabannya iya atau enggak? Kita kan lagi berandai-andai, jadi enggak usah kelamaan mikir.”
“Enggak,”kataku lantang.
“Kenapa?”

Karena aku enggak mau disakiti untuk kedua kalinya. Dulu aku pernah suka pada seorang cowok yang juga seorang bintang basket. Ketika dia memenangkan pertandingan, semua orang mengelu-elukan dia, dan mendadak dia menjadi seorang selebriti. Kemanapun aku dan dia pergi, pasti selalu ada orang yang mengenalinya dan akhirnya mengajaknya mengobrol tentang basket. Aku seperti terasing. Aku seakan-akan tak mengerti apa yang mereka bicarakan. Banyak sekali cewek-cewek yang minta no HPnya atau sekedar kenalan. Lama-lama aku menjadi jenuh. Aku cemburu pada bola basket. Aku bahkan sangat membenci bola basket. Karena basket, cowokku jadi enggak peduli lagi sama aku. Karena basket, aku menderita. Karena basket, aku harus berpikir dua kali dalam bertindah, salah-salah perbuatanku malah akan menjadi bumerang bagi diriku sendiri. Akhirnya ketakutanku pun menjadi kenyataan. Suatu hari dia memutuskanku secara sepihak. Katanya dia bosan denganku yang tak pernah mengerti tentang basket. Aku tak bisa menerima hal itu tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku memang tak akan pernah suka dengan basket sampai kapanpun. 

“Mmm….”aku menggaruk kepala. “Kita cuma berteman kok.”
“Beneran?”Felicia menatapku dengan pandangan penuh arti.
“He-eh,”jawabku mengangguk. 

Alasan kedua kenapa aku menolak untuk mengakui bahwa aku suka pada Raymond adalah karena aku tak ingin terlibat lagi dengan basket. Bagiku, basket adalah olahraga paling menyebalkan di seluruh dunia. Entah kenapa Raymond bisa suka pada olahraga itu. 

Koridor sekolah, 6 Desember 2006
Raymond menungguku di koridor sekolah. Dia memintaku untuk menemuinya disana sebelum dia berangkat.
“Udah siap?”tanyaku.
“Lumayan,”wajah Raymond terlihat tegang.
“Santai aja lagi. Aku tahu kamu pasti bisa,”kataku mencoba menenangkan hatinya.
“Kamu…”senyumnya mulai mengambang.
“Kamu apa, Ray?”aku penasaran sekali.
“Kamu mau enggak liat pertandingan aku? Aku tahu kamu enggak suka basket. Tapi aku mohon kamu dateng ya?”katanya memohon. Aduuh, tatapan matanya itu membuatku tak bisa menolak.
“Aku usahain deh.”
“Beneran?”
“Bener. Tapi aku nonton sama Feli.”
“Makasih ya, Ren.”
“Enggak masalah.”

Itulah senyum terakhir yang dapat kulihat dan wajah ganteng Raymond sebelum dia pergi ke Kejurnas itu. Mungkin ini terakhir kalinya aku melihat Raymond yang seperti ini. Raymond yang dikenal sebagai Raymond yang baik hati, ramah, dan pintar.

Sebuah Mall, 24 Februari 2007
“Hayo, ngelamun lagi,”Raymond menyodorkan sebuket bunga mawar di depan hidungku.
“Enggak ngelamun kok. Cuma ngliatin orang lain aja,”kataku mencari alasan.
“Emangnya ada yang menarik?”
“Enggak.”
“Trus ngapain dilihat?”
“Daripada enggak ada kerjaan.”
Sudah 1 bulan lebih aku dan Raymond jadian. Entah kapan tanggal pastinya. Tahu-tahu dia sudah menjadi pacarku. Cinta itu memang aneh. Tak pernah jelas. Kadang aku sampai bingung dibuatnya. Seperti saat ini.
“Sekarang kita kemana, Ren?”
“Main basket,”jawabku dengan mantap.