Showing posts with label inspirations. Show all posts
Showing posts with label inspirations. Show all posts

21 January 2014

To Be A Mother




Saya tidak pernah membayangkan bagaimana rasanya menjadi seorang ibu. Bahkan ketika sekarang saya sudah memasuki masa dimana saya sudah harus mulai nyicil mempersiapkan pernikahan, saya tetap tidak bisa membayangkan seperti apa rasanya. Bagaimana nanti jika sudah berkeluarga, bagaimana jika nanti hamil dan punya anak, bagaimana nantinya saya dengan keluarga suami saya, bagaimana saya dengan masyarakat, apakah saya harus menjadi ibu rumah tangga full time atau saya harus mengejar karir. Membayangkannya saja sudah membuat saya mengernyitkan alis. Getting married sounds so scary, for me.

Mungkin saya yang terlalu berlebihan. Atau mungkin saya terlalu banyak menonton acara gosip atau sinetron di televisi. Tapi rasanya menjadi seorang ibu itu mengerikan.  Yes, mungkin saya yang terlalu berlebihan.

Ibu saya adalah seorang ibu yang nggak mau ribet. Bukan tipe ibu-ibu yang seneng belanja, baik ke mall atau ke pasar. Bukan tipe ibu-ibu yang rajin dan pintar memasak dan suka bereksperimen dengan berbagai resep masakan (harus saya akui, masakan bapak lebih enak daripada masakan ibu :D). Bukan ibu-ibu yang suka dandan. Dan tentu saja bukan ibu-ibu yang suka nonton acara gosip dan suka nangis kalo nonton sinetron. Ibu saya jauh dari gambaran ibu-ibu ideal masa kini. She said 'Aku bukan ibu-ibu mainstream'.

Ibu saya adalah seorang dosen di sebuah universitas swasta di Kota Yogyakarta. Sehari-hari beliau bekerja dari pagi hingga sore (tapi untungnya masih punya banyak waktu untuk keluarganya). Ibu saya lebih suka pakai kaos oblong, celana jeans, dan sepatu boot daripada memakai rok span dan blazer yang kinyis-kinyis. Urusan make up, ibu saya nggak mengenal yang namanya eyeshadow dan mascara. Cukup bedak dan lipstick berwarna merah terang. 

Ibu sendiri mengakui bahwa dirinya bukan ibu-ibu kebanyakan, bukan ibu-ibu idaman, dan dalam urusan mengurus rumah tangga, beliau bukan panutan yang baik :p.

Duh.. jadi besok aku harus berguru pada siapa?

Terbiasa hidup dengan ibu yang nyentrik membuat pikiran saya menjadi nyentrik juga hahaha. Lewat perbincangan dengan ibu, saya mendapat banyak gambaran mengenai hidup berkeluarga; bagaimana kita tetap harus menjadi diri kita sendiri, bagaimana kita tetap harus melakukan hal-hal yang kita sukai, bagaimana kita harus tetap berkarier, untuk mengejar cita-cita, untuk berkarya, dan yang paling penting adalah bagaimana mendapatkan karier yang bagus sekaligus juga dekat dengan keluarga.

It's not easy, though.

Kalau saya pribadi sih pengennya tetap berkarir. Percuma dong kuliah sampai S1 tapi nggak memanfaatkan ilmu yang didapat. Saya pengen berkarya dan bisa menginspirasi banyak orang. Tapi saya juga pengen berkeluarga - pengen punya anak(-anak) dan pengen ngerasain gimana ribetnya jadi ibu rumah tangga. Tapi tapi tapi..eh..kayaknya belum siap juga sih.

Makanya saya selalu kagum sama ibu rumah tangga full time. Bangun tidur sampai tidur lagi ngurusin keluarga. Rutinitas yang selalu sama, gitu-gitu doang, dan dilakukan sejak menikah sampai tua. Apa nggak bosen ya? Kalau saya sih sudah pasti bakalan bosen abis. Hahahaha. 

Menjadi ibu kok kayaknya berat ya. Berbagai macam pikiran dan ketakutan datang silih berganti di benak saya. Bisakah saya melewati ini semua? Bisakah saya nantinya menjadi ibu yang baik, istri yang baik, dan wanita karir yang baik pula? Mungkin jawabannya baru bisa saya temukan tiga atau empat tahun lagi. Ketika saya (akhirnya) berani memutuskan untuk berkeluarga.

Sekarang ngurusin skripsi dulu aja deh, biar cepet pendadaran.

12 September 2012

#Semester7BikinGila !!!

Lihat KRS saya! Sudah semester 7! Sudah ambil skripsi!!!!!











Dan masih banyak derita anak semester 7 lainnya *nggak sanggup nulisnya*. Anyway, selamat datang di zona skripsi, wahai kalian anak semester 7. Ayo wisuda Februari! :D

01 July 2012

The Bird Talking

Sore-sore, sekitar jam 5, adalah jam-jam paling enak untuk duduk di atap. Hanya untuk sekedar ngobrol ngalor-ngidul sambil ngeteh dan makan gorengan, plus ngeliatin burung-burung berloncatan di pohon.




Di sekitar rumah saya memang masih banyak pohon-pohon tinggi dan besar, jadi masih banyak burung-burung yang bikin sarang di sekitar sini. Mulai dari burung-burung sawah yang kecil, burung gereja, sampai burung besar sekelas burung hantu.



Biasanya, di pagi dan sore hari, mereka akan ber-twit-twit ria, berloncatan dari satu pohon ke pohon yang lain, dan bikin semacam formasi terbang yang bagus.

Mereka datang dan menetap. Ada yang memilih tinggal. Ada yang memilih untuk pergi. Tapi akan selalu ada yang datang lagi. The circle of life.



Dan saya lebih suka begini. Menikmati keindahan dan suara mereka tanpa harus mengurung dan menyelubungi dengan sangkar, membatasi ruang gerak, memaksa mereka untuk menjadi seperti yang kita ingini.




Karena saya, sama seperti mereka, tidak suka dikurung. Tidak suka dikekang dan dibatasi. Saya suka kebebasan.

Dan itulah yang akan membawa saya pulang :)



23 March 2012

Bahagia Bisa Berbahagia

(BERIKUT pengakuan Pak Mena, penjaga mercusuar di pantai terpencil. Sampai hari ini, masih bekerja di tempat tersebut. Kadang batuk-batuk, dan keluhannya susah tidur).

"Saya ini hanya orang kecil. Tidak pintar bicara. Hidupnya pas-pasan. Tinggalnya saja di tempat terpencil. Semua saudara saya mengembara dan tinggal di kota. Saya seumur-umur disini. Menjadi penjaga mercusuar. Ada tenaga lain. Tapi baru setahun dua sudah tak tahan. Ganti berganti teman. Saya tetap menjaga. Begitu terus.

Saya ini orang kecil, tak punya arti apa-apa. Kalau saya mati pun tak ada yang kehilangan. Kalau saya sakit tak ada yang ikut sedih. Saya jarang ngomong, sama siapa? Teman dekat hanya ombak laut, burung, dan ikan di dalam laut. Bau tubuh saya sudah asin.

Pernah suatu kali di atas menara, malam-malam, saya berniat terjun. Toh hidup ini sudah tak ada artinya. Pikiran lagi buntu. Kalau saya hilang, belum tentu ketahuan, sebulan kemudian ditemukan mayatnya. Ketika mau loncat saya dengar ada suara orang nembang, bersenandung. Luar biasa, karena selama bertugas baru sekali ini ada suara tembang. Kalau hantu, mana bisa menembang lagu dengan begitu bagus. Saya turun dan mencari arah suara.

Di pantai tengah malam saya melihat seorang lelaki, tua, jalan. Kadang ke air, kadang ke tepi. Jalannya terseok-seok. Baru setelah dekat terlihat, lelaki tua itu memakai penutup mata. Pantas jalannya oleng. Saya tarik ke tepian agar tak terseret ombak.

"Apa yang Bapak cari?"
"Saya mencari jalan."
"Mau kemana? Dari mana? Apa yang Bapak lakukan? Kenapa mata Bapak ditutup? Bapak sakit?" Banyak sekali pertanyaan saya. Senang rasanya bertemu orang lain.

Lelaki tua itu membuka penutup matanya. Memberikan ke saya, agar saya menutup mata.

"Cobalah jalan kembali ke menara."
"Kenapa?"
"Coba saja."

Daerah pantai saya hapal. Juga jalan kembali ke menara. Tapi toh beberapa kali menginjak karang sehingga terjatuh. Alangkah bodohnya saya mengikuti perintahnnya. Sampai di dekat tangga, saya sudah tak mampu. Saya buka penutup mata.

"Siapa Bapak? Apa maksud Bapak sebenarnya?"

Lelaki tua itu tersenyum, menepuk pundak saya. "Siapa nama saya tidak penting untuk diingat. Bagi banyak orang, saya senang jika menjadi paman bagi mereka. 
Kamu sudah mencoba jalan dalam gelap? Walau kamu hapal jalanan, masih saja nubruk sana-sini. Saya mencoba juga, dan tak mampu. Kita yang dalam kegelapan itu adalah sampan, perahu, rakit yang melewati laut. Tanpa lampu sorot dari mercusuar, mereka akan berada dalam kegelapan. Tak tahu arah. Kamulah yang memberi arah. Apa yang kamu lakukan sangat bermakna bagi orang lain. Yang setiap malam melalui laut."
"Bagaimana Bapak bisa tahu kerisauan saya?"
"Saya juga merasa pekerjaan saya sia-sia. Tapi kalau yang saya lakukan bisa membahagiakan orang lain, saya akan merasa bahagia. Saya tidak merasa sia-sia."

Lelaki tua itu tinggal cukup lama. Lelaki tua itu mengembalikan harga diri saya. Saya tak perlu bunuh diri. Walaupun kecil dan tak berarti, saya dibutuhkan orang lain.

Baru kemudian saya tahu lelaki tua itu disebut Mandoblang. Atau Paman Doblang. Mandoblang memanglah seorang paman yang baik bagi para ponakan. Tak mungkin kedatangannya ke menara secara kebetulan. Mandoblang khusus mendatangi.

Dialah paman dalam arti sesungguhnya."



(Cerita: Arswendo Atmowiloto, Majalah INA No.32/TH.I/Minggu ke-2)

When Crazy Meet Odd






Somebody please pray for this crazy people. LOL
(Me, Umun, and Rizki. Crazy Mad Bro-Sist)

04 March 2012

This Relationship (Status)

Buat sebagian besar orang, bagaimana mereka beraktifitas di sosial media - Facebook ataupun Twitter - seringkali (atau memang iya) digambarkan sebagai representasi diri mereka sendiri di dunia nyata. Err, singkatnya gini. Bagi sebagian besar orang, apa yang terjadi dan apa yang muncul di dunia maya, itulah yang terjadi juga pada mereka di dunia nyata. Hal ini bisa dilihat dari foto-foto yang mereka upload ke facebook, update'an status mereka di facebook ataupun twitter, daaaan *ini yang paling penting* a change in relationship status announces their availability, commitment or something in between.

Status hubungan yang dituliskan di facebook jelas ngegambarin status hubungan seseorang dengan orang lain, apakah itu berpacaran (in a relationship), lajang (single), atau rumit (it's complicated). Nggak cuma itu, status ini juga sering diwarnai dengan hal-hal yang bikin orang tertarik untuk mengepo. Kenapa? Karena segala hal yang berhubungan dengan cinta-cintaan selalu menarik untuk diikuti.

Dari sebuah status, kita bisa tahu kalau orang ini lagi jatuh cinta atau bahagia atau berbunga-bunga. Misalnya kayak status teman saya yang ini:

Status yang amat bahagia. Semoga langgeng yaaa A-B :D

Dan ini status adik sepupu saya yang masih SD .____.


Tetapi relationship nggak selalu mulus kan? Ada juga yang kayak gini:




Status-status galau cinta-cintaan yang tanpa sengaja saya temukan di facebook :p. 
Maaf ya, tidak bermaksud loooh

Seperti efek domino, dalam waktu 1 x 24 jam seluruh orang di facebook akan tahu tentang hubungan kita dan mulai bertanya-tanya, hingga akhirnya mengendus-endus asal mula perkara seperti anjing pelacak. Mungkin inilah salah satu faktor yang membuat facebook menjadi menarik. Secara nggak langsung, kita menjadi saksi maya dari perjalanan cinta seseorang, mulai dari pdkt - jadian - seneng-seneng - berantem - putus - ketemu orang baru. Siklusnya selalu sama dan berulang. Dan selalu menarik untuk diikuti. Ya kan?

Drama-drama dunia maya ini semakin seru kalau misalnya kisah percintaan mereka diwarnai dengan orang ketiga. Atau salah satu pasangan mulai tak peduli dan yang lain merasa tersakiti. Bakal ada sinetron-sinetron di timeline yang penuh umpatan, makian, cacian, ejekan. Yang tadinya merayu memanja seperti 'Kau adalah matahari yang menerangi hidupku' tiba-tiba saja berubah menjadi 'Kamu tak punya hati!' People change, things go wrong, shit happens, and it's so funny to see that kind of mello-dramatic thing.

Menarik banget kan? Jujur saya juga suka tertarik dengan status teman-teman yang vulgar macam begitu. Saya sering tanpa sengaja membaca status mereka dan tahu 'Oh hubungan mereka lagi renggang' atau 'Si ini habis jadian dengan si itu'. Saya dipaksa untuk menjadi kepo karena status-status atau updatean yang mereka share di timeline. 

Saya pun pernah mengalami masa-masa itu lho. Masa dimana segala sesuatu yang terjadi dalam hidup saya ingin saya share-kan dengan orang lain, tak terkecuali urusan percintaan. Sampai-sampai semua orang tahu saya lagi naksir siapa, lagi diPDKTin siapa, lagi dimana ngapain sama siapa, siapa pacar saya dan bagaimana hubungan saya, prahara-prahara yang terjadi dan bagaimana akhirnya. Mendadak berita tentang saya tersebar dengan sangat luas dan sangat cepat.

Bergantinya status seseorang dari 'single' menjadi 'in a relationship', atau dari 'in a relationship' menjadi 'it's complicated' atau 'single' bukannya tanpa alasan. Jelas mereka nggak mungkin mempertahankan status itu hanya untuk menghindari gosip kan? Perubahan itu jelas membuat gempar, karena terpublish dan terhighlight sehingga semua orang tahu. 

Efek positifnya adalah saya menjadi lebih ekspresif. Berasa nggak punya beban gitu karena sudah tersalurkan lewat updatean lima menit sekali. LOL. Tapi yang jelas ini juga ngeselin banget karena orang-orang mulai bertanya-tanya 'ada apa'. Setiap mereka ketemu saya, mereka selalu nanya 'Kamu kenapa sama si A? Habis berantem?' atau 'Udah baikan belom sama pacar?' atau 'Gimana kelanjutannya kamu sama si ini?' dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang menyentuh ranah pribadi. Bagaikan wartawan infotainment, mereka nggak bakalan berhenti nanya sebelum mendapatkan jawaban yang sejelas-jelasnya. Kinda annoying lho kalau sudah kayak gini.

Hmmm....

Ribet ya. Pada dasarnya memang manusia itu selalu pengen tahu. Dan nggak bisa disalahin juga kalau mereka (yang tadinya tidak mau tahu) jadi (terpaksa) mau tahu. Salah kita sendiri juga. 


Terus gimana cara ngeredamnya? Tutup mulut. Don't speak a word. Biarin aja mereka bertanya-tanya dan mereka-reka. Biarkan saja mereka bergulat dengan pikiran mereka. Saya sudah belajar dari pengalaman bahwa ada hal-hal pribadi yang seharusnya tidak diumbar di sosial media. Kita harus bisa memilah, mana yang oke buat dishare dan mana yang enggak. 

Sebenernya status dipublish atau ditampilkan di facebook itu positif lho. Kita bisa menahan keinginan orang-orang yang mencoba PDKT, karena disitu jelas tertera bahwa kita sudah menjadi milik seseorang. Tapi kita harus siap-siap untuk di-kepo-in juga, apalagi ketika publik mulai mencium sesuatu yang nggak beres dari hubungan percintaan kita.

Lalu... Bagaimana status hubungan saya sekarang? 
Ah.. biarlah kami berdua saja yang tahu :p.

11 February 2012

Go, Round



If everything has been written, so why worry, we say
It's you and me with a little left of sanity
If life is ever hanging, so why worry, we say
It's still you and I with silly smile as we wave goodbye
And how will it be? Sometimes we just can't see
A neighor, a lover, a joker
Or a friend you can count on forever?
How happy, how tragic, how sorry?
The sun's still up and life remains a mystery

If everything has been written down, so why worry?

Dee Lestari - Grow A Day Older

19 December 2011

Surat Yang Tak Pernah Sampai



Suratku itu tidak akan pernah terkirim, karena sebenarnya aku hanya ingin berbicara pada diriku sendiri. Aku ingin berdiskusi dengan angin, dengan wangi sebelas tangkai sedap malam yang aku beli dari tukang bunga berwajah memelas, dengan nyamuk-nyamuk yang cari makan, dengan malam, dengan detik jam… tentang dia. .

Dia, yang tidak pernah aku mengerti. Dia, racun yang membunuhku perlahan. Dia, yang aku reka dan aku cipta.

Sebelah dariku menginginkan agar dia datang, membenciku hingga muak dia mendekati gila, menertawakan segala kebodohannya, kekhilafannya untuk sampai jatuh hati padaku, menyesalkan magis yang hadir naluriah setiap kali kami berjumpa. Akan aku kirimkan lagi tiket bioskop,bon restoran, sekua tulisannya-dari mulai nota sebaris sampai doa berbait-bait. Dan beceklah pipinya karena geli, karena asap dan abu dari benda-benda yang ia hanguskan-bukti-bukti bahwa kami pernah saling tergila-gila-berterbangan masuk ke matanya. Semoga ia pergi dan tak pernah menoleh lagi. Hidupku, hidupnya, pasti akan lebih mudah.

Tapi, sebelah dari aku menginginkan agar dia datang,menjemputku, mengamini kami, dan untuk kesekian kali, jatuh hati lagi, segila-gilanya, sampai batas gila dan waras pupus dalam kesadaran murni akan Cinta. Kemudian mendamparkan dirilah kami di sebuah alam tak dikenal untuk membaca ulang semua kalimat, mengenang setiap inci perjalanan, perjuangan, dan ketabahan hati. Betapa sebelah dariku percaya bahwa setetes air mata pun akan terhitung, tak ada yang mengalir mubazir,segalanya pasti bermuara di satu samudra tak terbatas, lautan merdeka yang bersanding sejajar dengan cakrawala, dan itulah tujuan kami.

Kalau saja hidup tidak ber-evolusi, kalau saja sebuah momen dapat selamanya menjadi fosil tanpa terganggu, kalau saja kekuatan kosmik mampu stagnan di satu titik maka… tanpa ragu aku akan memilih satu detik bersamanya untuk diabadikan. Cukup satu.

Satu detik yang segenap keberadaannya dipersembahkan untuk bersamaku, dan bukan dengan ribuan hal lain yang menanti untuk dilirik pada detik berikutnya. Betapa aku rela membatu untuk itu.

Tapi, hidup ini cair. Semesta ini bergerak. Realitas berubah. Seluruh simpul dari kesadaran kita berkembang mekar. Hidup akan mengikis apa saja yang memilih diam, memaksa kita untuk mengikuti arus agungnya yang jujur tetapi penuh rahasia. Aku, tidak terkecuali.

Aku takut.

Aku takut karena ingin jujur. Dan kejujuran menyudutkanku untuk mengakui aku mulai ragu.

Dialah bagian terbesar dalam hidupku, tapi aku cemas. Kata ‘sejarah’ mulai menggantung hari-hari di atas sana. Sejarah kami. Konsep itu menakutkan sekali.

Sejarah memiliki tampuk istimewa dalam hidup manusia, tapi tidak lagi melekat utuh pada realitas. Sejarah seperti awan yang tampak padat berisi tapi ketika disentuh menjadi embun yang rapuh.

Skenario perjalanan kami mengharuskanku untuk sering menyejarahkannya, merekamnya, lalu memainkannya ulang di kepalaku sebagai Sang Kekasih Impian, Sang Tujuan, Sang Inspirasi bagi segala mahakarya yang termuntahkan ke dunia. Sementara dalam setiap detik yang berjalan, kami seperti musafir yang tersesat di padang. Berjalan dengan kompas masing-masing, tanpa ada usaha saling mencocokkan. Sesekali kami bertemu, berusaha saling toleransi atas nama Cinta dan Perjuangan yang Tidak Boleh Sia-sia. Aku sudah membayar mahal untuk perjalanan ini. Aku pertaruhkan segalanya demi apa yang aku rasa benar. Dan mencintainya menjadi kebenaran tertinggiku.

Lama baru aku menyadari bahwa Pengalaman merupakan bagian tak terpisahkan dari hubungan yang diikat oleh seutas perasaan mutual.

Lama bagi aku untuk berani menoleh ke belakang, menghitung, berapa banyakkah pengalaman nyata yang kami alami bersama?

Sebuah hubungan yang dibiarkan tumbuh tanpa keteraturan akan menjadi hantu yang tidak menjejak bumi, dan alasan cinta yang tadinya diagungkan bisa berubah menjadi utang moral, investasi waktu, perasaan, serta perdagangan kalkulatif antara dua pihak.

Cinta butuh dipelihara. Bahwa di dalam sepak-terjangnya yang serba mengejutkan, cinta ternyata masih butuh mekanisme agar mampu bertahan.

Cinta jangan selalu ditempatkan sebagai iming-iming besar, atau seperti ranjau yang tahu-tahu meledakkanku, entah kapan dan kenapa. Cinta yang sudah dipilih sebaiknya diikutkan di setiap langkah kaki, merekatkan jemari, dan berjalanlah kami bergandengan… karena cinta adalah mengalami.

Cinta tidak hanya pikiran dan kenangan. Lebih besar, cinta adalah dia dan aku. Interaksi. Perkembangan dua manusia yang terpantau agar tetap harmonis. Karena cinta pun hidup dan bukan cuma maskot untuk disembah sujud.

Aku ingin berhenti memencet tombol tunda. Aku ingin berhenti menyumbat denyut alami hidup dan membiarkannya bergulir tanpa beban.

Dan aku tahu, itulah yang tidak bisa dia berikan kini.

Hingga akhirnya…

Di meja itu, aku dikelilingi tulisan tangannya yang tersisa (aku baru sadar betapa tidak adilnya ini semua. Kenapa harus aku yang kebagian tugas dokumentasi dan arsip, sehingga cuma akulah yang tersiksa?)

Jangan heran kalau aku menangis sejadi-jadinya.

Dia, yang tidak pernah menyimpan gambar rupaku, pasti tidak tahu apa rasanya menatap lekat-lekat satu sosok, membayangkan rasa sentuh dari helai rambut yang polos tanpa busa pengeras, rasa hangat uap tubuh yang aku hafal betul temperaturnya.

Dan aku hanya bisa berbagi kesedihan itu, ketidakrelaan itu, kelemahan itu, dengan wangi bunga yang melangu, dengan nyamuk-nyamuk yang putus asa, dengan malam yang pasrah digusur pagi, dengan detik jam dinding yang gagu karena habis daya.

Sampai pada halaman kedua suratku, aku yakin dia akan paham, atau setidaknya setengah memahami, betapa sulitnya perpisahan yang dilakukan sendirian.

Tidak ada sepasang mata lain yang mampu meyakinkanku bahwa ini memang sudah usai. Tidak ada kata, peluk, cium, atau langkah kaki beranjak pergi, yang mampu menjadi penanda dramatis bahwa sebuah akhir telah diputuskan bersama.

Atau sebaliknya, tidak ada sergahan yang membuatku berubah pikiran, tidak ada kata ‘jangan’ yang kungkin, apabila diucapkan dan ditindakkan dengan tepat, akan membuatku menghambur kembali dan tak mau pergi lagi.

Aku pun tersadar, itulah perpisahan paling sepi yang pernah aku alami.

Ketika surat itu tiba di titiknya yang terakhir, masih akan ada sejumput aku yang bertengger tak mau pergi dari perbatasan usai dan tidak usai. Bagian dari diriku yang merasa paling bertanggung jawab atas semua yang sudah kami bayarkan bersama demi mengalami perjalanan hati sedahsyat itu. Diriku yang mini, tapi keras kepala, memilih untuk tidak ikut pergi bersama yang lain, menetap untuk terus menemani sejarah. Dan karena waktu semakin larut, tenagaku pun sudah menyurut, maka aku akan membiarkan si kecil itu bertahan semaunya.

Mungkin, suatu saat, apabila sekelumit diriku itu mulai kesepian dan bosan, ia akan berteriak-teriak ingin pulang. Dan aku akan menjemputnya, lalu membiarkan sejarah membentengi dirinya dengan tembok tebal yang tak lagi bisa ditembus. Atau mungkin, ketika sebuah keajaiban mampu menguak kekeruhan ini, jadilah ia semacam mercusuar, kompas, Bintang Selatan… yang menunjukkan jalan pulang bagi hatiku untuk, akhirnya, menemukanmu.

***

Rindu itu candu. Begitu juga dengan kamu.

from Dee Lestari's Filosofi Kopi.

09 September 2011

Independent-kah Kita ?

Dewasa ini peran perempuan sebagai salah satu bagian penting dalam kehidupan bermasyarakat sudah mulai diperhitungkan. Banyaknya organisasi yang menjunjung tinggi martabat perempuan sudah mulai marak di Indonesia. Munculnya aktivis-aktivis perempuan juga sudah mulai mencerahkan paham emansipasi wanita yang selama ini hanya kita anggap sebagai sebuah formalitas semata. Tak bisa dipungkiri bahwa gender kini bukan lagi sebagai penghalang kita, kaum perempuan, untuk bisa tampil di garis depan.

Namun pada kenyataannya, presentasi perempuan Indonesia yang menganggap diri mereka sebagai “perempuan independent” masih sangat minim bila dibandingkan dengan perempuan non independent yang jumlahnya sangat mengejutkan. Memang sangat ironis bila mengingat jumlah penduduk Indonesia yang majemuk. Hal ini tentu menimbulkan pertanyaan, benarkah setiap perempuan mampu memaknai arti emansipasi yang telah diperjuangkan R.A Kartini sejak puluhan tahun yang lalu? Apakah genderisasi sudah benar-benar terhapus dari pikiran masyarakat kita?

Seorang perempuan bisa disebut independent bukan hanya didasari pada beberapa faktor keibuan saja atau jika dia bisa hidup berjuang sendirian tanpa tameng sesosok laki-laki. Namun yang paling penting jika perempuan itu berani menghadapi hidup dengan segala resiko yang akan ditanggungnya atas segala  keputusan yang telah ia ambil dalam menjalani garis hidupnya serta mampu mengubah pandangan negatif orang terhadap dirinya.

Contoh konkret dari seorang perempuan adalah seorang single mom, baik yang terjadi karena hasil dari ‘kecelakaan’ maupun bagi keluarga yang terpaksa harus kandas di tengah jalan. Secara kasat mata, yang pertama kali kita lihat biasanya dari aspek status sosial yang menggambarkan bahwa mereka-mereka ini adalah sosok yang kuat tanpa sosok laki-laki. Namun dibalik itu, ada hal yang lebih mendasar sehingga mampu menentukan sikap dan mengambil keputusan sendiri. Keberanian inilah yang menjadikan mereka menjadi sosok perempuan independent.

Lain halnya dengan kaum perempuan yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Mereka masih belum bisa mendapatkan hak-hak mereka, bahkan hak yang paling dasar sekalipun, salah satunya hak  untuk hidup. Mereka mengalami kekerasan fisik dan yang paling parah harus menghembuskan nafas   terakhir di tangan orang terdekat mereka. Ironis sekali. Di sisi lain, aktivis muda menyerukan emansipasi, namun di belahan dunia lain masih banyak perempuan yang belum mencicipi emansipasi itu sendiri.

Tak salah apabila ada anggapan bahwa di tangan wanita semua akan berjalan dengan baik. Namun yang patut diingat, untuk mewujudkan itu semua, seluruh lapisan masyarakat harus ikut berpartisipasi. Tak peduli apa jenis kelaminnya. Jadi secara tidak langsung laki-laki juga harus ikut andil.

Sudahkah kita menjadi perempuan independent?

Sosiologi dan Mengapa Saya Berada di Dalamnya

Sejujurnya saya tidak bisa menulis apa-apa karena saya tidak tahu apapun yang berkaitan dengan sosiologi, specifically. Sosiologi selalu jadi pelajaran paling membosankan selama saya bersekolah. Entah karena gurunya yang tidak kreatif (Peace Bu :P) ataukah memang subjek pembelajarannya yang itu-itu saja sehingga saya tidak memiliki interest untuk ikut ambil bagian di dalamnya. Orang selalu berkata “Ngapain kamu masuk sosiologi? Mau jadi guru ya?” atau “Apa sih yang menarik dari sosiologi, sampe kamu bela-belain masuk sana?” atau “Kamu masuk sosiologi gara-gara nggak diterima di jurusan lain atau emang pengen disitu?” Parahnya, tetangga saya bilang, “Kata guruku, kalo di sosiologi itu ntar susah nyari kerja lho. Paling gampang ya cuma jadi guru.” Honestly, it makes me scared. Bener nggak ya yang dibilang orang-orang? Jangan-jangan sosiologi cuma buangan orang-orang yang nggak lolos jurusan Hubungan Internasional (HI) atau Ilmu Pemerintahan (IP). Jangan-jangan sosiologi memang khusus untuk mereka yang mau jadi guru. Waaa :((

Hal itu menjadi masalah ketika saya diterima di jurusan sosiologi. Blank pada awalnya. Dan sebenarnya saya masih dibayangi rasa was-was akan persepsi orang-orang pada jurusan ini. Jujur saja, sampai sekarang pun saya masih merasa demikian. Apalagi melihat jurusan lain yang begitu meyakinkan. Saya minder dan merasa tidak pede dengan jurusan yang saya masuki. Rasanya tidak sebangga itu ketika orang bertanya “Jurusan mana?” dan saya harus menjawab “Sosiologi.” Saya lebih memilih menjawab “Fisipol” ketimbang “Sosiologi”. Orang tidak akan bertanya kenapa. Yeah, it’s so silly but it’s true.

Sayangnya orangtua saya justru bangga melihat saya masuk jurusan sosiologi. Entah apa yang ada di pikiran mereka. Yang jelas saya tidak bisa berpikir seperti itu. Bapak saya mulai membelikan buku-buku yang sekiranya dapat saya gunakan nanti. Setiap ke toko buku, yang dicarinya selalu buku-buku sosiologi. Ibu saya juga tak kalah heboh. Setiap hari beliau menyediakan waktu minimal setengah jam hanya untuk berdiskusi masalah-masalah aktual ditinjau dari aspek sosiologis. Seakan-akan semua informasi itu penting dan akan keluar di soal ujian. Hash, sedikit hiperbol sepertinya.

Surprisingly, apa yang mereka lakukan membuat saya sedikit “melek” akan sosiologi dan apa saja yang ada di dalamnya. Ternyata sosiologi bukanlah ilmu yang kaku dan membosankan (seperti ketika saya berada di SMA, dengan guru yang sangat ehm, tidak kreatif). Bukan pula ilmu kemasyarakatan yang teoritis. Sosiologi justru ilmu yang paling ‘sosial’ karena memandang segala aspek dari segi manusia, bukan dari segi disiplin ilmunya. Dan ternyata, di luar negri, sosiologi justru jurusan yang dianggap paling bergengsi (wow). And the most important thing is lulusan sosiologi tidak hanya menjadi guru. Masih banyak yang bisa kita lakukan untuk menjadi bagian dari masyarakat. Sociology’s not that bad dan saya merasa beruntung bisa masuk ke jurusan ini, finally. Viva la sosiologi!

07 September 2011

Eight Things You Should Know About Me

I'm about to tell you several facts about myself. This is fun because I don't normally tell people about all these things, but I was so excited when I thought about writing this post for everyone. So here they are, some facts you need to know about... 

My Identities


 I'm half Indonesian (Javanese), quarter Chinese, and quarter Dutch. I don't really look like my parent, and people can't tell whether I'm more Javanese or Chinese or Dutch - I don't have strong ethnical characteristics. And it makes me feel quite awkward sometimes (but I get used to it). 

My Biggest Fear


I'm afraid of snake. Running away from them everytime and get panic easily when there are lots of snake showing on television or books. Even if I think of them. It’s like a phobia, yeah. But, snakes are dangerous, are they?

My Daily Writings 


I regularly write my daily journals. Sometimes when I forgot to bring any notebooks, I wrote down the words in any papers I could find - abandoned newspaper, the back part of  posters... anything. I have a special book contains of my writings about the conversation between coffee and tea (in a series of letters) - mainly talks about life and the philosophies. I was planning to make a regular post from the series but never sure whether it's necessary or not to share them.

My Playlist 


  

Many of you may got surprised if you get to know my playlist. 'You? A song like this? I don't believe it', that's what they say. Mom called them the "noisy, boy-thing groups" and my dad said I don't suit their groupies styles. Well, besides jazz and britpop, I enjoy their songs and always put them on my playlist... Hey, what's wrong with that? I may dress girly and trendy, but it doesn't mean that I can't enjoy this kind of music genre.  

My Personal Style


I will feel beautiful, or most beautiful, when I’m comfortable with my outfits and still able to do anything I like – and just being my own self, my whole self without any pretending. For me, beauty needs honesty, so I’m always trying not to be fake. And I believe it works! The first thing in my mind everytime I open my closet is that I should feel comfy enough with anything I wear – then automatically the sense of beauty will come along. I think my favorite outfit so far are dress, flats, and wedges. They’re just like my to-go items. I prefer to be simple and often need to be dressed up quickly (since I always in hurry – miss clumsy clumsy), so dresses and flats are my favorite one. They’re light and easy to wear, not hard to be paired with, and allow me to move freely (and yes, the flats help a lot for such hyperactive manner).

 My Current Obsession


Fashion journalism is like a dream to me, since I was child. It includes fashion writers, fashion critics or fashion reporters. The most obvious examples of fashion journalism are the fashion features in magazines and newspapers, but the term also includes books about fashion, fashion related reports on television as well as online fashion magazines, websites and blogs. 

The work of a fashion journalist can be quite varied. Typical work includes writing or editing articles, or helping to formulate and style a fashion shoot. A fashion journalist typically spends a lot of time researching and/or conducting interviews and it is essential that he or she has good contacts with people in the fashion industry, including photographers, designers, and public relations specialists. See, that’s a dream for me. How about you?

I am a lunatic dreamer

If you could experience being  anything in the world for a day, I will be a fairy – wearing my white luminous tube dress with blue, pink, yellow and green pastel shades all over my body and luster-y transparent wings on my backbone. I could fly anywhere – and choose whether I want to be seen or keep invisible from the human beings and other creatures. I wake up in the morning from my soft ovary bed in my sunflower house, bring my loony colorful bucket and spread the magical stardust over the flower and plants – it is the powerful spirit and energy that was abstracted from the universe that will keep them alive. I will sing along by the noon with the other fairies in the heart of our thick, humid forest, accompanied by the mighty unicorns and mermaids by the side of their illuminated crystal pond. In the evening I will fly away to greet other magical creatures - from the kind witches and their black cats to the wise old trees in the southern land. I probably will blow the happiness wind for any deserved humans that I meet on the way, to make sure that they will have a beautiful day. And last, after having a enormous dinner with all the fairy village members, I would fly alone again to kiss the grasses who has enliven the party with their wonderful whisperer choirs and hugs the animals who always welcoming the fairies to sleep in their land-pit to get some warmth when the frosty night coming. Everyone will say a sweet farewell for me, and I will go back to my fluffy bed... to be vanished as the sprinkles of rain and incarnated as a mediocre human again.

I love Batik, especially the classic one

  
Well, being brought to the international runway make the pattern application is a bit and lot different from the basic or genuine one (that originally made by hands - it's a wax-resistant dyeing technique used to create the pattern... but due to the modern advances of textile industry, we also have 'printed-batik' made by the fabric machines, like those on the picture above, I believe)... If I should choose, I like the handmade cloth better since it has the old, classic and more traditional sense. But still a good news to hear! Even these kind of outfit on the photos are not vintage, not so my-signature-style taste, and I wouldn't be dare enough to wear such colors, but these are another side of beauty. And it brought my national heritage to the world! <3

01 August 2011

Sel(fish)/'selfisy'/ks ;egois

Suatu hari saya berantem hebat sama pacar . Masalahnya sepele, cuma gara-gara saya nge-repeat satu lagu sampe 5 kali and more. Dan saya tetap mempertahankan lagu itu untuk diputar. Kita berantem di jalan dengan kondisi jalanan sangat padat, bahkan untuk merayap aja puji Tuhan. Oke, jadi perpaduan antara panas, macet, silau (no sunglasses btw), dan berantem. Can you imagine? Dan kita harus terjebak di kondisi yang mematikan seperti itu. Saya emosi dan dia emosi. Dan saya menyetir dengan muka merah, mostly because of the fvckin beam. Lalu biasanya orang akan bertanya, trus salah siapa doong?

Saya maupun dia punya alasan sendiri-sendiri. Saya punya kebiasaan muter lagu fav, sampai dapet feelnya. See? Gak salah dong menikmati musik dengan cara seperti itu? Bahkan kalo perlu sampai saya menghayati lagunya. Dan buat dia, itu bentuk penyiksaan. First; He doesn't like the song, second; It makes him so bored.

Dan pada dasarnya saya orang yang sangat liberal. Saya menjawab, "Yang, kamu juga boleh kok nge-repeat lagumu sepuluh kali." Tapi sebenernya faktanya, gak ada satupun lagu di mobil yang merupakan lagu favnya.  Jadi sia-sia kalau dia berniat memutar satu lagu sampai sepuluh kali, karena semua lagu dimobil adalah laguku.

Akhirnya saya berjalan dengan ego saya dan dia dengan egonya. Dan saya mikir, egois banget sih nih orang, gak liat apa saya butuh hiburan. Maksudnya, hell~0 lagu yang saya puter juga gak busuk-busuk amat, dan gak najis najis bala-bala, tapi kenapa segitunya sih menolak lagu saya (ditambah itu merupakan lagu fav saya).

Sekitar seratus meter saya mengemudi, ada motor nyalip dan mau belok ke kanan. Sementara posisi saya dikanan ya tolong, jadi itu motor dengan indahnya nyerempet mobil saya ditambah ngesot 5 meter, dan ngebawa-bawa mobil saya. By the way horor juga ketika kejadian itu berlangsung. Dan sepertinya agak parah. Mobil saya berhenti setelah ditarik rem tangan oleh dia, dan saya cuma bisa beku ditempat.

Pacar turun mobil, and he handled it. Look so heroic! Untungnya itu pengendara motor yang ternyata mas-mas gila nggak apa-apa,  hanya robek celananya, berdarah sedikit, tapi motornya lumayan parah.
Dan pacar yang menangani itu semua, plus bayar ganti rugi dll. Saya cuma menepikan mobil dan diem beberapa menit -karena shock.

Setelah itu semua selesai, pacar balik ke mobil dan bilang, "Liat aku yang, masih sanggup bawa mobil pulang?"

Saya menggeleng dan nangis, trus dia nggak meluk saya kayak di film-film (karena dia memang tidak romantis, underline it please), tapi dengan wise dia menenangkan saya dan bilang, "Motor itu kok yang salah, bukan kamu. Tapi, nyetir sambil emosi gak bagus kan? Yaudah, aku yang nyetir pulang sekarang."

Sepanjang perjalanan pulang, dia nenangin saya dan ngelus-ngelus kepala saya, dan saya merasa seperti kucing kecil yang ketakutan. Bahkan saya lupa tadi sempat saya berubah menjadi monster.

Dan sepanjang perjalanan saya mikir, egois itu nggak cuma berakibat bikin muka kita tambah tua, atau bibir kita mengerucut, dan membuat hati kita kotor. Tapi juga bisa membuat kita kecelakaan! Coba tadi saya nggak egois, pasti saya nggak akan berantem, dan saya nggak akan emosi, dan (mungkin ternyata) saya mengemudikan mobil terlalu cepat, dan saya nggak menyadari kalau ternyata itu mobil melaju dengan sangat cepat dan menyebabkan kecelakaan. Apapun itu, dampak yang amat sangat buruk dan horor.

Tapi, detik itu juga saya sadar, ketika lo peduli sama orang lain, lo bisa ngalahin rasa egois lo. Coba misalnya (ternyata) dia gak perduli sama saya, dan dia masih tetap emosi ketika kita kecelakaan, mungkin dia akan mengatakan, "Oh kecelakaan ya? Keciaaaan deh lo. Sukurin! Urusin tuh semua sendiri. Gue gak ikut-ikutan yaaaaa. Byebye muah muah." Dan dia melenggang pergi, lalu apa jadinya saya?

01 February 2010

Those 18 Cups of Coffee

Semua orang yang mengenal saya tahu betul bahwa saya adalah seorang coffee addict – penggemar berat kopi. Bisa dibilang saya sudah mencoba berbagai macam rasa dan jenis kopi, mulai dari klasik yang kental dan pekat, kopi instan dengan aroma-aroma yang (katanya) asli vanilla atau mocca, bahkan kopi olahan dengan topping ice cream atau whipped cream di atasnya. Saya menikmati semua jenis kopi itu, dan bisa menghabiskannya tanpa protes. Bahkan ketika cangkir yang digunakan bukanlah cangkir porselin, tetapi hanya gelas belimbing biasa. Tetap tidak mengubah persepsi saya terhadap kopi dan larutan-larutan yang sehari-hari menjadi teman insomnia saya itu.

Seperti saat ini, saya ditemani secangkir kopi panas. Kapal api hitam. Klasik. Kental. Pekat. Dan tentu saja rasanya pahit. Sebanyak apapun gula yang ditambahkan tetap tidak bisa mengubah kekentalan kopi jenis yang satu ini. Malah gula yang terlalu banyak itu akan membuat kopi klasik kehilangan keklasikannya. Aneh sekali ya.

By the way, hari ini (barusan) saya ulang tahun. Delapan belas. My favorite number. Biasanya pada detik-detik pergantian umur saya, saya selalu menanti-nantikan hadiah-hadiah dan moment meniup lilin dengan jumlah umur saya. Tapi sekarang tidak. Saya justru ditemani secangkir kopi kapal api klasik dan facebook (yang mulai penuh dengan ucapan selamat). Saya terlihat begitu dewasa dengan ketidaktertarikan saya akan balon, kue, dan hadiah. Tetapi sebenarnya (dalam lubuk hati saya yang paling dalam), saya enggan menjadi tua.

Menjadi tua berarti banyak hal. Semakin berat tanggungjawab yang harus saya pikul, semakin berat hidup saya dengan tuntutan ini-itu, semakin sedikit waktu yang saya punya, semakin berkurang waktu untuk bermain-main, sudah saatnya memikirkan masa depan, dan sebagainya. Jujur saya takut dengan masa depan saya. Saya takut tidak bisa menjadi apa yang saya mau, apa yang saya impikan. Saya takut untuk jatuh terpuruk dengan luka-luka di sekujur tubuh saya. Saya takut tidak bisa bangkit kembali dari keterpurukan dan menyembuhkan luka-luka itu. Pokoknya saya takut. Saya takut menjadi tua.

Saya ingin terus menjadi anak-anak. Bebas bermain, bebas melakukan apapun yang saya mau, bebas berekspresi, bebas menangis, bebas tertawa, dan bebas berteriak tanpa beban. Bukan berarti sekarang saya tidak bisa melakukannya, tapi rasanya janggal bila saya (dengan umur yang sudah segini tua) mencoba menjadi anak-anak (atau kekanak-kanakan). Jelas semua orang akan menertawakan dan menganggap saya aneh. But yeah, I love to be a kid. Sampai sekarang saya masih menyukai film kartun – spongebob squarepants, hey arnold, fairly odd parents; saya masih mencintai ice cream coklat dengan wafer dan choco chips; saya masih suka bermain gelembung sabun dan petak umpet; saya masih menyukai baju-baju dengan warna cerah dan motif lucu-lucu. Just like when I was 8.

Sama seperti 10 tahun lalu, saya akan menambahkan gula banyak-banyak dalam kopi klasik saya (yang dulu saya buat karena saya juga ingin minum kopi seperti ayah). Tidak hanya tiga sendok teh gula, tetapi lima. Saya akan menambahkannya lagi dengan creamer atau susu atau bahkan oreo, supaya kopi yang saya minum akan menjadi manis – bahkan sangat manis – atau terlalu manis. Yang penting saya tidak merasakan rasa pahit dari kopi itu. Atau saya akan membuatnya di mug bergambar mickey mouse kesukaan saya, supaya kopi itu terlihat menarik dan saya memiliki keinginan untuk menyeruputnya. Sungguh usaha yang bagus bukan? Tetapi pada akhirnya saya tidak pernah bisa menghabiskan kopi yang saya buat. Pada awalnya memang menarik – sesuatu yang berwarna hitam (kadang hitam-putih dengan berbagai campuran produk) di dalam mug saya yang bening dengan gambar mickey mouse dan minnie mouse bermain-main – jelas sangat menggiurkan. Pada tegukan pertama saya berhasil menghabiskan sepertiga kopi. Pada tegukan kedua saya sudah menghabiskan seperempatnya. Lalu pada tegukan ketiga, kopi itu terasa sangat manis, sangat sangat sangat manis, dan tenggorokan saya mulai bereaksi. Pada menit selanjutnya, mug itu sudah berada dalam bak cuci piring. Dengan kopi yang masih tersisa setengah. Saya membuang-buang kopi, gula, dan oreo bukan? Semuanya berakhir sia-sia.

Lalu saya mulai berpikir, alasan saya ingin minum kopi pada waktu itu bukanlah karena kesukaan saya terhadap kopi, bukan pula karena saya ingin minum kopi, bukan pula coba-coba. Tetapi karena saya ingin seperti ayah – yang minum kopi klasik dengan 3 sendok teh gula, tetapi bisa menikmati kopi itu dan menghabiskannya tanpa sedikitpun mengeluh. Jelas rasanya pahit, lebih pahit dari kopi yang saya buat tadi (dengan 5 sendok teh gula, creamer, dan oreo). Jelas lebih kental dan pekat daripada punya saya (karena ayah menggunakan tiga sendok teh kopi, bukannya satu seperti punya saya). Tetapi kenapa beliau masih bisa menikmatinya dengan santai, menghabiskan segelas kopi itu dalam waktu berjam-jam tanpa sedikitpun mengeluh akan rasanya yang pahit?

Setelah saya ‘minum delapan belas gelas kopi’, saya mendapat jawabannya. Bukan salah kopinya. Bukan salah gulanya. Bukan pula salah oreo. Semua ini terjadi karena saya memaksa kopi yang saya buat untuk menjadi sesuai dengan selera saya. Saya mencampuradukkan ramuan yang salah. Saya ingin kopi saya manis, tetapi saya menambahkan terlalu banyak gula sehingga rasanya terlalu manis. Lalu saya akan mencoba mengurangi rasa manis kopi itu dengan menambahkan air panas. Tetapi hal itu justru membuat kopi saya hambar. Dan saya akan menambahkan gula lagi sampai kopi itu terasa pas. Sayangnya, rasa kopi itu tidak pernah pas. Saya menambahkan air dan gula terlalu banyak, dan saya membuat kopi itu menjadi encer. Begitu seterusnya sampai saya menyerah dan membuang semua percobaan saya ke bak cuci piring. Saya justru membuang-buang bahan dan melakukan sesuatu yang sia-sia. Jelas, saya tidak menyelesaikan masalah tetapi justru membuangnya begitu saja.

Sama seperti hidup saya selama ini. Saya mencoba menutupi rasa pahit dengan menambahkan rasa manis yang terlalu banyak. Sampai akhirnya menjadi terlalu manis dan saya muak dengan kemanisan itu. Saya hanya melihat dari satu sisi rasa: pahit atau manis, bukan pahit dan manis. Saya tidak pernah mencoba untuk meresapi rasa yang ada. Saya tidak pernah mencoba mengkombinasikannya. Saya hanya ingin rasa yang saya sukai, dan membuang rasa yang saya tidak suka (atau mencoba menghilangkannya dengan menambah ‘rasa manis’ yang lain). Parahnya, saya tidak mau mencoba merasakan rasa pahit itu. Padahal dari rasa pahit itulah nantinya saya akan mendapatkan rasa yang pas – rasa kopi klasik seperti yang saya inginkan, pahit tetapi manis.  

Pada kopi ke delapan belas saya hari ini, saya mencoba membuat kopi dengan ramuan yang benar: dua sendok kopi kapal api klasik, air panas, dan tiga sendok gula dalam mug putih kesukaan saya. Pada awalnya memang terasa pahit. Saya sempat berhenti dan berpikir untuk meninggalkan kopi ini. Lalu kopi itu mengendap. Ampasnya terkumpul di dasar. Saya mengaduk kopi itu lagi dan mencoba merasakannya. Panas dan masih pahit. Tapi dari rasa pahit itu muncul sensasi yang memaksa saya untuk minum seteguk lagi. Masih terasa pahit. Lalu saya mencoba merasakan rasa pahit dari kopi yang saya buat. Menikmatinya seteguk demi seteguk. Perlahan-lahan. Sambil mendengarkan suara jangkrik beradu dengan malam. Tanpa sadar saya sudah menghabiskan secangkir kopi. Tanpa mengeluhkan rasa pahit – bahkan saya tidak merasa pahit sama sekali. Rasanya pas dan nikmat.

Mungkin harus begitu caranya. Tidak perlu dipaksa untuk menjadi manis. Tidak perlu dipaksa untuk dihabiskan. Tetapi dari rasa yang tidak manis itu akan muncul rasa yang berbeda, yang memaksa saya untuk meneguk lagi kopi pahit itu, merasakan (sedikit) rasa manisnya, sampai akhirnya tidak ada setetespun kopi yang tersisa. Bahkan ampasnya pun tidak.







Terima kasih untuk setiap tegukan kopi klasik ini, teman.
You are my bittersweet cups of coffee and I wanna keep drink you all.

* this is my birthday reflection. Happy Birthday to me, anyway :)