18 December 2012

Someday I'll Be Big Enough So You Can't Hit Me. And All You're Ever Gonna Be Is Mean - Taylor Swift





“Crowds were never wise. They were never even reasonable. Collective judgements were doomed to be extreme. In the popular imagination, groups tend to make people either dumb or crazy, or both” Charles Mackay.

Bullying bisa terjadi pada siapa saja, tak terkecuali anak SD. Hal ini terjadi pada adik saya, Lucy, yang minggu kemarin ketahuan ter-bully oleh teman-teman sekelasnya sendiri. Kejadian ini memang sudah lama terjadi, lebih dari sebulan, dan baru terkuak sekarang. Dia memang sering nggak masuk sekolah. Alasannya banyak banget, mulai dari pusing, sakit perut, dan sakit-sakit lainnya yang membuatnya (terpaksa) tinggal di rumah. Dalam kurun waktu seminggu, pasti ada nggak masuknya barang satu atau dua kali. Awalnya sih sekeluarga menganggap itu hal yang biasa. Sakit itu wajar kan? Apalagi sedang musim hujan dan dia memang sering bandel (read: hujan-hujanan). Tapi kok rutin ya? Kok tiap minggu?

Bapak saya, saking khawatirnya gara-gara takut sakit macem-macem, akhirnya memeriksakan Lucy ke dokter. Keluhan itu ternyata memang benar, dia alergi beberapa bahan makanan. Tapi tetap, kebiasaan ‘membolos’ itu tidak pernah hilang. Sampai akhirnya ibu saya menemukan secarik kertas di saku seragamnya, berisi tulisan bernada ancaman dan makian yang memojokkan adik saya. 


Tidak tinggal diam, ibu lantas mencoba mengorek masalah yang menimpa adik saya. Benar saja, dia adalah korban bullying dari teman-teman sekelasnya, teman-teman yang dianggap adik saya sebagai sahabat. Masalahnya cuma sepele. Mereka titip bolpen dengan merk tertentu pada adik saya, tapi tidak memberikan uang. Lalu setiap hari adik saya dibully, disudutkan dan dimaki-maki, sampai diancam jika tidak segera memberikan bolpen. Dan kejadian itu berlangsung selama lebih dari sebulan.

Jahat ya? 

Para korban bullying selalu bungkam. Tidak berani bercerita pada siapapun. Jangankan pada guru, pada orangtua pun mereka bungkam. Kasus-kasus seperti ini jarang sekali terungkap. Bagi mereka yang mampu survive, they will get better. Bagi yang tidak? Kasihan, mereka bisa terganggu kondisi mentalnya. Seumur hidup.

Masa?

"The bully is never clever enough to understand the evil he does." - T. Morgan

Para pelaku bullying nggak pernah sadar bahwa apa yang mereka lakukan bisa berdampak banyak bagi korban mereka. Mereka pikir itu hal sepele. Mereka pikir itu hal biasa. Mereka pikir itu keren. "Gue keren kalo gue bisa 'naklukin' mereka yang lemah. Mereka takut sama gue. Gue yang berkuasa. Gue yang punya pengaruh". Semakin mereka merasa kuat, semakin banyak tindakan kekerasan yang mereka lakukan. Dan semakin depresi-lah korban-korban mereka. Hal-hal seperti ini bisa menjadi pemicu bunuh diri lho.

Saudara saya ada yang bunuh diri akibat bullying. Dan saudara saya yang lain mengalami gangguan mental akibat hal serupa yang terjadi padanya sewaktu SMA. They have permanent marker. They have scars.

*jadi mau nangis kalo nulis ini*

Lalu, saya? 

Sama. Saya juga pernah terbully. Dan itu sangat menyakitkan. Waktu kelas 3 SMA saya pernah bermasalah dengan seorang teman. Sepele lho masalahnya. Waktu itu ada tugas kelompok, harus wawancara sebuah perusahaan swasta yang bergerak di bidang jasa. Dan saya meminta teman saya itu untuk menghubungi CP. Entahlah, mungkin bahasa saya yang dia anggap kurang menyenangkan. Yang jelas, besok paginya, dia sudah cerita ke teman-teman yang lain kalau saya memarahi dia bla bla bla bla. Bajigur. Dia nangis-nangis di kelas, memposisikan diri seakan-akan saya yang menjahati dia. Berhubung dia anak geng dan gengnya itu sekelas, yaa otomatis mereka langsung memusuhi saya. Teman-teman yang tadinya baik, tiba-tiba langsung berubah seratus delapan puluh derajat. Padahal mereka adalah teman-teman dekat saya waktu kelas 2. Mereka bilang "Kamu jahat banget sih Cha. Ga punya perasaan". Lalu "Ternyata kamu kayak gitu ya, padahal aku udah ngedukung kamu". "Tega banget kamu sampai kaya gitu". "Tuh yang bikin X sampai nangis. Jahat banget kan, ga punya hati". Tatapan-tatapan berubah jadi sinis dan memaki. 

Kampret. Kamu nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kamu nggak tahu apa-apa....

Sejak saat itu saya jadi males sekolah. Dalam seminggu, pasti ada hari dimana saya nggak masuk sekolah. Serius. Padahal kelas 3. Padahal udah mau ujian. Saya yang tadinya talkative dan aktif di kegiatan ini itu, mendadak berubah jadi pendiem. Waktu istirahat, saya memilih duduk di pojokan. Tempat duduk saya karena saya tidak mungkin duduk di deretan bangku anak-anak geng. I started being a loner, baca buku or do something that can make me busy. Masih untung saya punya teman-teman yang bisa saya ajak bicara. Mereka sih bukan anak-anak populer, tapi setidaknya saya masih punya teman. Masih untung juga anak-anak kelas lain nggak ikutan ngebully, jadi paling engga saya punya teman di sekolah. Meskipun rasanya benar-benar menyakitkan diperlakukan seperti itu.

Words scar. Rumors destroy. Bullies kill.

Guess what, saya nggak ikutan wisuda SMA lho gara-gara ini. Waktu itu teman-teman dekat saya nggak lulus UAN. Terus gue sama siapa kalo ga ada mereka? Gabung sama anak-anak geng? Mending ga usah ikut aja deh. Saya nggak bisa ngebayangin gimana jadinya kalau saya ikutan wisuda, trus duduk sendirian tanpa teman, sementara yang lain heboh foto-foto dan ketawa-ketiwi bersama geng mereka. Well, I don't want to be part of them.

Segitunya ya? Biarin. Rasanya sakit banget loh. Sampai sekarang pun saya masih takut kalo ketemu anak-anak geng itu. Perasaan tersakiti itu masih ada. Bahkan nulis ini pun rasanya masih pengen nangis.

The bullying was getting out of control, but at the same time, I was more like I didn't care. because.. I listened to me, and looked back to what I've been through. Then I said to myself, I'm strong enough. I found things I like to do.. and all the harsh moments became nothing. And suddenly, I felt glad. I'm GLAD that I was bullied, and never changed for what I stood for.

Setelah kelulusan, jauh dari mereka, saya berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Saya lebih terbuka. Saya berani tampil beda. Saya berani menjadi diri saya sendiri. Saya lebih talkative. Saya berani menghadapi banyak orang. Saya tidak lagi diam di pojokan. Saya tidak lagi takut dengan tanggapan orang. I am me, so what?

Proses itu memang membutuhkan waktu yang lama. Bukan sehari atau dua hari. Saya sudah ditempa dengan besi yang paling panas. Saya sudah jatuh, tersungkur, terpuruk, perlahan-lahan merangkak, sampai akhirnya saya mampu berdiri dengan kedua kaki saya sendiri. Saya pernah berada di kondisi terburuk. Saya pernah jatuh. Saya pernah menangis. Saya pernah sendirian.

"I'm strong, because I've been weak. I'm fearless, because I've been afraid. I'm wise, because I've been foolish." - Unknown

Terima kasih Tuhan, saya ditempa menjadi pribadi yang lebih kuat.
Dan untuk tidak melakukan hal yang sama pada orang lain.

“Scar tissue is stronger than regular tissue. Realize the strength, move on.” - Henry Rollins








Stop bullying!! Every human life is worth the same, and worth saving. Shine bright like a diamond. Find light in the beautiful sea. Choose to be happy.

(I did. How about you?)


P.S.: Setelah sekian tahun, saya baru berani menuliskannya sekarang.