Showing posts with label refleksi. Show all posts
Showing posts with label refleksi. Show all posts

23 March 2012

Bahagia Bisa Berbahagia

(BERIKUT pengakuan Pak Mena, penjaga mercusuar di pantai terpencil. Sampai hari ini, masih bekerja di tempat tersebut. Kadang batuk-batuk, dan keluhannya susah tidur).

"Saya ini hanya orang kecil. Tidak pintar bicara. Hidupnya pas-pasan. Tinggalnya saja di tempat terpencil. Semua saudara saya mengembara dan tinggal di kota. Saya seumur-umur disini. Menjadi penjaga mercusuar. Ada tenaga lain. Tapi baru setahun dua sudah tak tahan. Ganti berganti teman. Saya tetap menjaga. Begitu terus.

Saya ini orang kecil, tak punya arti apa-apa. Kalau saya mati pun tak ada yang kehilangan. Kalau saya sakit tak ada yang ikut sedih. Saya jarang ngomong, sama siapa? Teman dekat hanya ombak laut, burung, dan ikan di dalam laut. Bau tubuh saya sudah asin.

Pernah suatu kali di atas menara, malam-malam, saya berniat terjun. Toh hidup ini sudah tak ada artinya. Pikiran lagi buntu. Kalau saya hilang, belum tentu ketahuan, sebulan kemudian ditemukan mayatnya. Ketika mau loncat saya dengar ada suara orang nembang, bersenandung. Luar biasa, karena selama bertugas baru sekali ini ada suara tembang. Kalau hantu, mana bisa menembang lagu dengan begitu bagus. Saya turun dan mencari arah suara.

Di pantai tengah malam saya melihat seorang lelaki, tua, jalan. Kadang ke air, kadang ke tepi. Jalannya terseok-seok. Baru setelah dekat terlihat, lelaki tua itu memakai penutup mata. Pantas jalannya oleng. Saya tarik ke tepian agar tak terseret ombak.

"Apa yang Bapak cari?"
"Saya mencari jalan."
"Mau kemana? Dari mana? Apa yang Bapak lakukan? Kenapa mata Bapak ditutup? Bapak sakit?" Banyak sekali pertanyaan saya. Senang rasanya bertemu orang lain.

Lelaki tua itu membuka penutup matanya. Memberikan ke saya, agar saya menutup mata.

"Cobalah jalan kembali ke menara."
"Kenapa?"
"Coba saja."

Daerah pantai saya hapal. Juga jalan kembali ke menara. Tapi toh beberapa kali menginjak karang sehingga terjatuh. Alangkah bodohnya saya mengikuti perintahnnya. Sampai di dekat tangga, saya sudah tak mampu. Saya buka penutup mata.

"Siapa Bapak? Apa maksud Bapak sebenarnya?"

Lelaki tua itu tersenyum, menepuk pundak saya. "Siapa nama saya tidak penting untuk diingat. Bagi banyak orang, saya senang jika menjadi paman bagi mereka. 
Kamu sudah mencoba jalan dalam gelap? Walau kamu hapal jalanan, masih saja nubruk sana-sini. Saya mencoba juga, dan tak mampu. Kita yang dalam kegelapan itu adalah sampan, perahu, rakit yang melewati laut. Tanpa lampu sorot dari mercusuar, mereka akan berada dalam kegelapan. Tak tahu arah. Kamulah yang memberi arah. Apa yang kamu lakukan sangat bermakna bagi orang lain. Yang setiap malam melalui laut."
"Bagaimana Bapak bisa tahu kerisauan saya?"
"Saya juga merasa pekerjaan saya sia-sia. Tapi kalau yang saya lakukan bisa membahagiakan orang lain, saya akan merasa bahagia. Saya tidak merasa sia-sia."

Lelaki tua itu tinggal cukup lama. Lelaki tua itu mengembalikan harga diri saya. Saya tak perlu bunuh diri. Walaupun kecil dan tak berarti, saya dibutuhkan orang lain.

Baru kemudian saya tahu lelaki tua itu disebut Mandoblang. Atau Paman Doblang. Mandoblang memanglah seorang paman yang baik bagi para ponakan. Tak mungkin kedatangannya ke menara secara kebetulan. Mandoblang khusus mendatangi.

Dialah paman dalam arti sesungguhnya."



(Cerita: Arswendo Atmowiloto, Majalah INA No.32/TH.I/Minggu ke-2)

01 January 2012

2011 Dalam Kaleidoskop Kenangan

"...Kalau saja sebuah momen dapat selamanya menjadi fosil tanpa terganggu - Maka tanpa ragu kamu akan memilih satu detik bersamanya untuk diabadikan. Cukup satu. Satu detik yang segenap keberadaannya dipersembahkan untuk bersamamu, dan bukan dengan ribuan hal lain yang menanti untuk dilirik pada detik berikutnya" | Dewi Lestari.

***

2011 adalah sebuah sebuah awal mula. Tempat semua dimulai untuk selanjutnya dipenuhi dengan suatu petualangan, dimana akhir adalah niscaya yang mungkin ada.

2011 pula adalah akhir dari semuanya. Ia menjadi tempat pelabuhan dimana kenangan-kenangan berhenti pada dimana seharusnya dia berada. 

Tidak terhindarkan awal dan akhir akan bertabrakan dan membenturkan diri satu sama lain. Pun juga saat bertemu, ia akan melengkapi bagian yang hilang dari diri mereka masing - masing. Bagian yang hilang dimana setiap awal membutuhkan akhir, dan setiap akhir bermula dari awal. Layaknya sebuah janji, disitu telah gugur satu dunia lama dan berganti menjadi sebuah dunia baru yang masih penuh labirin tak berpeta.

Akan ada  masa dimana akan gugur waktu lampau yang tergantikan oleh waktu yang baru. Di dalam masa itu pula, waktu yang baru akan menjadi sebuah titik tolak dari perjalanan hidup penuh ketidaktahuan yang harus dilewati seseorang. Dengan posisi dimana simbol awal dan akhir bersatu dalam satu satuan angka, perubahan menjadi ada dalam hidup manusia. 

Tepat pada saat kalender menghitung penuh putaran waktu sembilan belas tahun setelah kelahiran, saat itu juga akan selesai suatu waktu lampau yang telah dimiliki oleh seorang gadis kecil. Di suatu akhir itulah, hidupnya yang jauh dari dewasa telah berada pada titik akhirnya. Tak akan ada lagi masa dimana hidup selalu dipinjamkan kepada orang lain hingga ia tidak menjadi tuan bagi dirinya sendiri. 

Namun seperti layaknya sebuah permulaan, prolog baru yang menggantikan masa lampau akan menjadi suatu perjalanan panjang yang melelahkan. Hidup telah berganti dari bermain-main menjadi pemain. Seorang gadis kecil, menjadi perempuan dewasa. Seorang musafir di padang gurun yang bertahan dalam kerasnya badai pasir dan terpaan panas matahari, dengan tak jarang menemukan manisnya kurma dan segarnya oase yang ia dapat di tengah penderitaan.

Begitulah nasib dari 2011. Dimana awal dan akhir bertemu, disitu pula akan terjadi sebuah perjalanan menuju perubahan dalam hidup manusia. Warna dan lika-liku, katakanlah, telah diberikan padamu oleh yang ter-Maha. Dan ketika waktu adalah suatu misteri yang telah terberi. Manusia terjebak di dalamnya dan tak akan pernah bisa memandang jernih terhadapnya. Dalam keterjebakan itulah, kita sesekali kembali menjadi bocah yang tidak berdaya melawan perputaran sang waktu. Boleh dikatakan ini adalah dukungan untuk mensyukuri waktu yang telah kita miliki - setidaknya - meskipun kita tidak tahu berarah kemana.

***


Untuk kamu, yang menjadi kejutan pembuka tahun 2011 saya. I'm glad we're friends now, ndut! Hahaha :D



Kalian, my gorgeous rainbow. Thank God I have friends like you all *hugs*











Dan kamu, penutup yang manis di 2011 :)


***

2011 adalah sebuah perjalananan sebuah awal yang baru dapat terbukti kebenarannya saat-saat mendatang. Ada saat-saat yang hilang dan luput dari rekaman, tapi angka 2011 ini menjadi pengingat kenangan akan bagaimana dan siapa saya pada tahun ini - dan bagaimana orang-orang di sekeliling saya. Bagaimana mereka saat ini telah pergi entah kemana. Bagaimana mereka selalu muncul kembali bersama ingatan masa lalu. Dan bagaimana selalu muncul sebersit rasa rindu yang tidak terjelaskan, bahkan oleh saya.

2011 adalah hadiah sederhana dari Tuhan untuk saya, yang tidak akan pernah berkurang, dan setiap saat selalu bisa berubah maknanya. 

2011 adalah sebuah awal perjalanan menjadi dewasa, bagi saya. Terima kasih untuk kalian, yang tersebutkan dalam post ini maupun tidak. Terima kasih sudah mengawal saya menempuh awal yang baru. Sampai bertemu di 2012 :)